Kanal24, Malang – Hepatitis B masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat karena dapat menimbulkan komplikasi serius dan berisiko menular jika tidak terdeteksi serta ditangani dengan tepat. Salah satu kendala dalam pengendaliannya adalah pentingnya meningkatkan pengetahuan masyarakat sekaligus memperluas akses pemeriksaan untuk mengetahui status infeksi sejak dini. Karena itu, edukasi kesehatan perlu disertai skrining dan arahan pemeriksaan lanjutan agar masyarakat yang membutuhkan penanganan dapat segera mengakses layanan kesehatan.
Divisi Gastroenterohepatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) memperkuat upaya deteksi dini hepatitis B melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, (26/9/2026). Kegiatan bertajuk āPenguatan Upaya Deteksi Dini Hepatitis B Berbasis Masyarakat di Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malangā ini diikuti sekitar 91 warga setempat.

Program tersebut merupakan kelanjutan dari edukasi hepatitis B yang telah dilaksanakan secara berkelanjutan sejak 2023. Pada 2026, kegiatan diperkuat dengan mengintegrasikan edukasi kesehatan dan skrining menggunakan pemeriksaan hepatitis B surface antigen (HBsAg) untuk membantu mendeteksi indikasi infeksi hepatitis B.
Materi edukasi mencakup pengertian hepatitis B, cara penularan, risiko komplikasi, langkah pencegahan, serta pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan lanjutan. Melalui pendekatan ini, masyarakat tidak hanya memperoleh informasi mengenai penyakit tersebut, tetapi juga didorong untuk memahami pentingnya pemeriksaan kesehatan.
Delapan Peserta Memerlukan Pemeriksaan Lanjutan
Dari sekitar 91 peserta yang mengikuti skrining, sebanyak delapan orang menunjukkan hasil HBsAg positif. Hasil tersebut perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan lebih lanjut di fasilitas pelayanan kesehatan untuk memperoleh evaluasi medis dan penanganan yang sesuai.
Hasil skrining ini menjadi salah satu dasar pentingnya memperluas deteksi dini berbasis masyarakat. Pemeriksaan awal dapat membantu mengidentifikasi orang yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut, sedangkan edukasi memberikan pemahaman mengenai risiko penyakit dan pentingnya mengikuti anjuran tenaga kesehatan.

Masyarakat menunjukkan antusiasme dalam mengikuti rangkaian edukasi dan skrining. Partisipasi tersebut menjadi modal untuk memperkuat kesadaran kesehatan sekaligus mendukung pelaksanaan deteksi dini secara berkelanjutan.
Memperkuat Program Berbasis Masyarakat
Keberlanjutan program direncanakan melalui edukasi masyarakat, koordinasi dengan Puskesmas Gondanglegi, serta penguatan kegiatan deteksi dini secara berkala. Langkah ini diharapkan membantu menghubungkan kegiatan pengabdian dengan layanan kesehatan setempat, khususnya dalam mendorong peserta yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan agar memperoleh tindak lanjut.
Kegiatan diketuai Dr. dr. Supriono, SpPD, KGEH, dengan melibatkan staf Divisi Gastroenterohepatologi, PPDS Sp-1 dan Sp-2, mahasiswa program sarjana, PAPDI, serta staf dan peserta didik dari Patologi Klinik. Pendanaan kegiatan bersumber dari PNBP FKUB tahun 2026.
Melalui penguatan edukasi dan skrining, FK UB berupaya mendukung peningkatan kesadaran masyarakat terhadap hepatitis B serta memperluas peluang deteksi dini. Keberhasilan upaya ini tidak hanya ditentukan oleh jumlah peserta yang diperiksa, tetapi juga oleh keberlanjutan edukasi dan tindak lanjut medis bagi mereka yang memerlukannya.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), khususnya target 3.3 tentang penanggulangan hepatitis dan penyakit menular lainnya. Penguatan edukasi, perluasan skrining, serta tindak lanjut medis bagi peserta yang membutuhkan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dan memperkuat deteksi dini hepatitis B.(Din)














