Kanal24, Malang – Kemarau berkepanjangan menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperkuat ikhtiar spiritual dengan memohon pertolongan Allah SWT. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui salat istisqa, yakni salat sunah untuk memohon turunnya hujan. Ibadah ini tidak hanya menjadi bentuk doa di tengah kondisi kemarau, tetapi juga mengingatkan umat Islam tentang tuntunan Rasulullah SAW dalam menghadapi situasi yang membutuhkan pertolongan Allah SWT.
Filosofi tersebut disampaikan Ketua Takmir Masjid Raden Patah (MRP) Universitas Brawijaya (UB), M. Kholid Mawardi, S.Sos., M.AB., Ph.D., bersama Wakil Ketua Takmir MRP UB, Ratno Bagus Edy Wibowo, Ph.D., dalam wawancara mengenai pelaksanaan salat istisqa di lingkungan Universitas Brawijaya, Malang, Jumat (23/10/2026). Keduanya menekankan pentingnya mengikuti ajaran Rasulullah SAW serta menyadari bahwa berbagai fenomena alam berada dalam kekuasaan Allah SWT.
Baca juga:
UB Ajak Maba Kelola Stres Lewat Relaksasi
Salat Istisqa sebagai Upaya Menghidupkan Sunah Rasulullah
Pelaksanaan salat istisqa memiliki makna lebih dari sekadar permohonan agar hujan segera turun. Ibadah ini juga menjadi sarana bagi umat Islam untuk mengamalkan tuntunan Rasulullah SAW ketika menghadapi kondisi yang membutuhkan pertolongan Allah SWT.
Kholid Mawardi menjelaskan, salah satu landasan pelaksanaan salat istisqa adalah memberikan pemahaman kepada umat Islam bahwa Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan dalam menyikapi berbagai keadaan, termasuk ketika menghadapi kemarau berkepanjangan.
Melalui ibadah tersebut, umat diajak untuk kembali merujuk pada ajaran dan sunah Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, pengamalan tuntunan tersebut merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim, terutama ketika menghadapi situasi yang tidak dapat sepenuhnya dikendalikan oleh manusia.
Salat istisqa dengan demikian menjadi wujud penghambaan sekaligus pengingat agar umat Islam senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Harapan akan turunnya hujan disertai kesadaran untuk menjalankan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
Fenomena Alam dalam Perspektif Keimanan
Kholid juga menekankan bahwa berbagai fenomena yang terjadi di dunia tidak terlepas dari kekuasaan Allah SWT. Pandangan tersebut menjadi dasar bagi umat Islam untuk menyikapi kondisi alam, termasuk kemarau berkepanjangan, melalui perspektif keimanan.

Ia mengaitkan pemahaman tersebut dengan ajaran Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa musibah terjadi atas izin Allah SWT. Dalam konteks ini, kemarau menjadi pengingat akan keterbatasan manusia dalam menghadapi berbagai keadaan.
Kesadaran tersebut bukan berarti manusia berhenti melakukan upaya untuk menghadapi persoalan yang ada. Sebaliknya, pemahaman mengenai kekuasaan Allah SWT menjadi landasan untuk memperkuat doa dan sikap berserah diri ketika menghadapi situasi yang sulit.
Bagi umat Islam, keimanan menjadi bagian penting dalam membangun cara pandang terhadap berbagai peristiwa kehidupan. Ketika kondisi alam menghadirkan tantangan, manusia diajak untuk menyadari keterbatasannya sekaligus menjaga hubungan dengan Sang Pencipta.
Pesan tersebut menempatkan salat istisqa sebagai momentum refleksi spiritual. Ibadah ini mengingatkan umat bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari kehendak Allah SWT dan bahwa pertolongan-Nya senantiasa menjadi bagian dari harapan seorang hamba.
Memohon Pertolongan Allah di Tengah Kemarau
Dalam penjelasannya, Kholid menegaskan bahwa memohon pertolongan kepada Allah SWT merupakan salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan seorang Muslim ketika menghadapi keadaan sulit. Prinsip inilah yang mendasari pelaksanaan salat istisqa sebagai bentuk doa agar Allah melimpahkan rahmat-Nya melalui turunnya hujan.
“Sebagai seorang Muslim, sebagai manusia, kita harus memohon pertolongan kepada Allah,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya doa sebagai bagian dari ikhtiar spiritual. Melalui salat istisqa, umat Islam menyampaikan harapan agar hujan segera turun dan membawa manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Pelaksanaan ibadah ini juga menjadi pengingat bahwa menghadapi berbagai tantangan membutuhkan kesadaran akan keterbatasan manusia. Dalam perspektif keagamaan, doa dan pengamalan sunah Rasulullah SAW menjadi bagian dari upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Melalui pesan yang disampaikan, takmir MRP UB mengajak umat Islam untuk menjadikan salat istisqa sebagai sarana memperkuat keimanan sekaligus mengamalkan tuntunan Nabi Muhammad SAW. Harapan turunnya hujan tidak hanya menjadi permohonan atas kebutuhan air, tetapi juga momentum untuk meningkatkan kesadaran spiritual.
Pada akhirnya, salat istisqa mengandung pesan tentang pentingnya ikhtiar, doa, dan sikap berserah diri kepada Allah SWT. Di tengah kemarau berkepanjangan, umat Islam diingatkan untuk terus memohon pertolongan-Nya sembari menjalankan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.(ffn)














