Kanal24, Malang – Memasuki dunia perkuliahan tidak selalu mudah bagi mahasiswa baru. Selain beradaptasi dengan lingkungan dan pertemanan baru, mereka juga harus menghadapi tuntutan akademik yang dapat memicu kecemasan dan keraguan terhadap diri sendiri. Di tengah rutinitas tersebut, kemampuan mengenali emosi dan mengelola stres menjadi bekal penting agar mahasiswa dapat menjalani perkuliahan dengan lebih baik.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) menghadirkan Mental Health Corner 2026 untuk membantu mahasiswa baru mengenali kondisi emosional sekaligus mempraktikkan teknik relaksasi. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Auditorium Lantai 8 Gedung B FPIK UB, Kamis (22/10/2026), ini menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-64 FPIK UB. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diajak mengambil jeda dari rutinitas akademik, menenangkan pikiran, dan belajar menghadapi tekanan secara lebih terarah.
Baca Juga:
FH UB Perkuat Upaya Pencegahan Kekerasan di Lingkungan Kampus
Mahasiswa Baru Belajar Mengenali Emosi
Koordinator kegiatan, Wiwin Lukitohadi, S.H., S.Psi., CHRM., yang juga menjabat sebagai Kasubbag Akademik dan Kemahasiswaan FPIK UB, menjelaskan bahwa kegiatan ini ditujukan untuk membantu mahasiswa baru menghadapi masa penyesuaian di lingkungan kampus.

Menurutnya, mahasiswa baru dapat mengalami kecemasan, kekhawatiran, hingga keraguan terhadap kemampuan diri ketika mulai menjalani kehidupan perkuliahan. Karena itu, mereka perlu belajar mengenali dan menerima emosi yang muncul, alih-alih terus menyangkal atau mengabaikannya.
Wiwin menekankan bahwa menerima emosi bukan berarti menyerah pada keadaan. Sebaliknya, langkah tersebut dapat membantu mahasiswa memahami apa yang sedang dirasakan dan menentukan cara yang lebih tepat untuk menghadapinya.
“Jadi, oke saya terima apa yang saya rasakan saat ini. Jadi dia lebih fokus untuk mencari solusinya, bukan kepikiran yang enggak-enggak, overthinking,” jelas Wiwin.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan memiliki ruang untuk berhenti sejenak dari rutinitas, menata kembali kondisi emosional, dan melanjutkan aktivitas dengan lebih siap.
Grounding hingga Sound Healing untuk Relaksasi
Praktisi kesehatan holistik dan well-being di Malang, dr. Maria Magdalena Sawitri, menjelaskan bahwa kesehatan secara menyeluruh mencakup kondisi tubuh, jiwa, dan pikiran. Ketiganya saling berkaitan sehingga perlu diperhatikan ketika seseorang menghadapi tekanan.

Pada mahasiswa, tekanan dapat muncul dari berbagai sisi, mulai dari hubungan dengan orang tua, dosen, dan teman sebaya hingga tuntutan tugas akademik. Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan tersebut dapat memengaruhi keseharian mahasiswa.
Dalam kegiatan Mental Health Corner 2026, peserta diperkenalkan pada sejumlah pendekatan relaksasi, di antaranya grounding, qigong, latihan pernapasan atau breathwork, serta sound healing menggunakan singing bowl.
Teknik-teknik tersebut menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengambil jeda, memusatkan perhatian, dan lebih menyadari kondisi diri. Namun, setiap teknik tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing individu.
Mahasiswa Perlu Tahu Kapan Mencari Bantuan
Selain mengenali emosi dan mencoba teknik relaksasi, mahasiswa juga perlu memahami kapan mereka membutuhkan bantuan lebih lanjut. Mengelola stres secara mandiri tidak selalu cukup, terutama ketika tekanan terasa semakin berat dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
dr. Maria mengingatkan bahwa mahasiswa yang mengalami kondisi berat perlu mendapatkan pendampingan dari tenaga profesional.
“Kalau sudah berat, betul-betul membutuhkan pertolongan seorang psikiatri mungkin atau psikolog,” ujarnya.
Mahasiswa juga dapat membangun kebiasaan sederhana, seperti menulis jurnal untuk mencatat perasaan dan pengalaman sehari-hari. Berbagi cerita dengan orang tepercaya atau memanfaatkan layanan konseling kampus juga dapat menjadi pilihan ketika membutuhkan dukungan.
Melalui Mental Health Corner 2026, FPIK UB mengajak mahasiswa baru untuk tidak mengabaikan kondisi emosional di tengah tuntutan akademik. Mengenali perasaan, memberikan waktu untuk beristirahat, dan mencari bantuan saat diperlukan menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan mental selama menjalani perkuliahan.(ern)













