Kanal24, Malang – Kolaborasi lintas negara menjadi salah satu langkah penting bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan riset dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui pertukaran gagasan dan penguatan jejaring akademik, penelitian diharapkan mampu menghasilkan solusi yang dapat diterapkan pada berbagai persoalan sosial, bisnis, dan lingkungan.
Universitas Brawijaya (UB) menjadi tuan rumah International Conference on Innovation & Entrepreneurship in Computing, Engineering, and Science Education (INVENT) 2026 pada Selasa (27/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Aula Gedung A Lantai 4, Fakultas Ilmu Administrasi UB, ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan mahasiswa untuk membahas inovasi sekaligus membuka peluang kolaborasi akademik internasional.
Baca Juga:
Riset Cakapolitika Ungkap Dinamika Generasi Muda Kota Malang
Hubungkan Riset dengan Persoalan Masyarakat
Ketua Pelaksana INVENT 2026, Aulia Luqman Aziz, S.S., S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa konferensi ini merupakan bagian dari agenda tahunan Asia Technological University Network (ATU-NET). Jaringan tersebut menghimpun sekitar 40 perguruan tinggi dari berbagai negara untuk memperkuat hubungan dan kerja sama antaranggota.
INVENT telah diselenggarakan sejak 2023. Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, UB berperan sebagai co-host di Filipina. Tahun ini, UB menjadi tuan rumah utama dengan menggandeng Davao del Sur State College dari Filipina sebagai co-host. Perguruan tinggi tersebut direncanakan melanjutkan estafet penyelenggaraan sebagai tuan rumah utama pada 2027.
Aulia mengatakan, INVENT 2026 berupaya menjembatani perkembangan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi dengan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Pemanfaatan teknologi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dan kewirausahaan menjadi bagian dari pendekatan yang dibahas dalam konferensi.

“Jadi kita ingin menghubungkan, misalnya, teknologi atau penciptaan AI, penggunaan AI dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial, entrepreneurship, bisnis, ataupun masalah-masalah tentang lingkungan yang terjadi di sekitar kita,” jelas Aulia.
Menurutnya, perguruan tinggi perlu mengambil peran aktif dalam merespons persoalan di luar lingkungan akademik. Karena itu, interaksi antara akademisi, peneliti, dan masyarakat menjadi penting agar hasil pembelajaran serta penelitian tidak berhenti pada tataran teori, tetapi berpeluang dikembangkan menjadi solusi yang bermanfaat.
Presentasi Paper Perluas Diseminasi Penelitian
Selain menjadi ruang pertukaran gagasan, INVENT 2026 memberikan kesempatan kepada akademisi dan peneliti untuk mempresentasikan hasil penelitian melalui makalah ilmiah atau paper. Karya yang dipresentasikan akan melalui proses peninjauan sebelum diarahkan ke publikasi ilmiah yang sesuai.
Aulia menjelaskan bahwa publikasi merupakan salah satu keluaran penting dalam penyelenggaraan konferensi internasional. Melalui proses tersebut, hasil penelitian diharapkan dapat menjangkau komunitas akademik yang lebih luas sekaligus berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.
Pembahasan lintas bidang dalam konferensi ini juga membuka peluang bagi peserta untuk melihat persoalan dari perspektif yang berbeda. Pengembangan komputasi, teknik, pendidikan sains, dan kewirausahaan dapat saling melengkapi dalam menghasilkan gagasan inovatif.
Keterlibatan mahasiswa turut memberikan ruang pembelajaran mengenai perkembangan penelitian di tingkat internasional. Melalui presentasi dan diskusi, mahasiswa berkesempatan memperluas wawasan akademik sekaligus membangun jejaring dengan peserta dari berbagai latar belakang.
ATU-NET Dorong Kerja Sama Berkelanjutan
Executive Director ATU-NET, Associate Professor Dr. Nurul Hanzrina Binti Idris dari Universiti Teknologi Malaysia, mengapresiasi penyelenggaraan INVENT 2026 di UB. Ia menyebut konferensi tersebut sebagai salah satu program unggulan ATU-NET yang telah berjalan sejak 2023.
Nurul menilai keterlibatan UB dan Davao del Sur State College sebagai mitra penyelenggara menunjukkan kuatnya kemitraan antaranggota jaringan. Ia juga mengapresiasi partisipasi mahasiswa internasional dari berbagai negara, termasuk Nigeria, yang memperluas jangkauan peserta di luar kawasan ASEAN.
Menurut Nurul, keberhasilan konferensi tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi juga dari peluang kerja sama yang dapat dikembangkan setelahnya. Ia berharap hubungan antarperguruan tinggi anggota ATU-NET semakin kuat melalui program akademik yang berkelanjutan.

“Saya berharap kemitraan antara institusi dan para anggota semakin kuat dan terus berkembang, tidak hanya dalam menyelenggarakan konferensi ini, tetapi juga melalui kegiatan yang jauh lebih berdampak setelah ini,” ungkap Nurul.
Ia menyebut sejumlah peluang kolaborasi yang dapat dijajaki, mulai dari penelitian bersama, hibah, program double degree, hingga pertukaran mahasiswa. Kerja sama tersebut diharapkan memberikan manfaat jangka panjang bagi institusi maupun sivitas akademika yang terlibat.
Melalui INVENT 2026, UB bersama mitra internasionalnya memiliki peluang untuk memperkuat jejaring akademik sekaligus membuka ruang pengembangan riset lintas negara. Kolaborasi berkelanjutan diharapkan dapat menghubungkan inovasi perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat serta memperluas kontribusi pendidikan tinggi dalam menjawab tantangan masa depan. (ndr)














