Kanal24, Malang – Generasi muda Kota Malang menunjukkan wawasan kebangsaan yang cukup tinggi di tengah perubahan pola konsumsi informasi digital. Pada saat yang sama, perkembangan teknologi turut memengaruhi cara mereka memahami budaya, memperoleh informasi, dan menyampaikan pandangan terhadap berbagai persoalan publik.
Temuan tersebut disampaikan dalam rilis hasil survei “Profil dan Behavior Mapping Generasi Muda Kota Malang” dalam Diskusi Publik Cakapolitika Town Hall 2026. Kegiatan yang digelar Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) berlangsung Kamis (24/9/2026) di Aula Gedung A Lantai 4 FIA UB.
Baca Juga:
FIA UB Petakan Perilaku Politik Gen Z Kota Malang Lewat Cakap Politika
Wawasan Kebangsaan Generasi Muda Tergolong Tinggi
Mitra GUB dari Indopol Survey & Consulting, Ratno Sulistyanta, M.Ikom., memaparkan sejumlah temuan mengenai wawasan kebangsaan, literasi digital, literasi politik, literasi budaya, hingga perilaku konsumen generasi muda Kota Malang.
Dalam pemaparan tersebut, wawasan kebangsaan menjadi salah satu temuan yang menonjol. Ratno menyebut lebih dari 80 persen generasi muda yang disurvei merasa bangga menjadi warga Indonesia dan memiliki nasionalisme yang kuat.

“Wawasan kebangsaan generasi muda Kota Malang cukup tinggi. Ada sekitar 80 persen lebih itu merasa bangga terhadap bangsa Indonesia menjadi warga Indonesia,” ujar Ratno.
Dalam riset tersebut, generasi muda Kota Malang dibagi ke dalam kelompok generasi Z dan milenial. Ratno menyebut tingginya wawasan kebangsaan menjadi salah satu modal generasi muda dalam menghadapi bonus demografi.
Temuan tersebut menjadi bagian dari pemetaan karakter generasi muda Kota Malang yang dilakukan Cakapolitika. Hasil pemetaan kemudian dipaparkan kepada sejumlah pemangku kepentingan dalam forum diskusi publik.
Pemahaman Bahasa Walikan Tinggi, Penggunaan Menurun
Survei juga menemukan dinamika pada aspek literasi budaya. Bahasa walikan menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk melihat kedekatan generasi muda dengan budaya lokal Malang.
Ratno menyebut sekitar 90 persen responden memahami bahasa walikan atau bahasa khas Malangan. Namun, tingkat pemahaman tersebut tidak sepenuhnya berbanding lurus dengan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Namun hanya 19 persen dia menggunakan di tiap harinya. Ini ada pergeseran,” kata Ratno.
Selain bahasa walikan, sekitar 80 persen generasi muda yang disurvei mengaku masih memegang kultur Malangan. Di sisi lain, mereka juga menunjukkan ketertarikan terhadap budaya asing yang berkembang melalui ruang digital.
Ratno mencontohkan budaya populer seperti K-pop sebagai salah satu budaya asing yang mendapat perhatian generasi muda. Kondisi tersebut memperlihatkan adanya dinamika antara budaya lokal yang tetap dikenal dan budaya global yang semakin mudah diakses.
Perubahan tersebut juga menjadi gambaran mengenai pengaruh ruang digital terhadap kehidupan generasi muda. Teknologi tidak hanya mengubah cara berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan budaya.
Literasi Digital Pengaruhi Pendidikan Politik
Wakil Rektor 4 Universitas Brawijaya, Prof. Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng., D.Sc., mengatakan temuan survei menunjukkan perlunya penyesuaian pendidikan kewarganegaraan dan politik dengan karakter generasi muda saat ini.
Menurutnya, generasi muda sebenarnya tetap memiliki kepedulian terhadap persoalan pemerintahan dan kehidupan sosial. Perubahan terutama terlihat dari cara mereka memperoleh informasi dan mengekspresikan pandangan.

“Secara substansi sebenarnya mereka punya, tapi bagaimana mendapatkan informasi dan mengekspresikannya itu sudah berbeda dari satu dekade yang lalu,” jelas Andi.
Ia menilai kemampuan memilah informasi menjadi bagian penting dalam membentuk partisipasi generasi muda. Tingginya konsumsi teknologi membuat mereka berhadapan dengan informasi yang lebih beragam dan kompleks.
“Yang pasti begini, kepedulian mereka untuk bisa merasakan ada yang salah. Ini barang mahal ini harus tetap dijaga,” ungkapnya.
Menurut Andi, tantangan berikutnya adalah memastikan generasi muda mampu memfilter informasi sebelum menyampaikan pendapat, aspirasi, maupun kritik.
Ketua KPU Kota Malang, Muhammad Tayyib, S.HI., menilai hasil riset tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyusun pendidikan pemilih yang lebih sesuai dengan karakter generasi muda.
“Kami merasa mendapat kontribusi data bagaimana kami memahami Gen Z melakukan pendidikan pemilih yang tepat sasaran dan presisi dengan metode yang tepat sesuai dengan karakter masing-masing,” tutur Tayyib.
Hasil survei Cakapolitika selanjutnya diarahkan sebagai bahan untuk memahami karakter generasi muda sekaligus memperkuat komunikasi dengan pemangku kebijakan. Temuan tersebut juga menjadi bagian dari pengembangan platform digital yang diharapkan dapat menampung aspirasi warga secara lebih terstruktur dan berbasis data. (ndr)













