Kanal24, Malang – Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah di Jawa Timur dalam beberapa hari terakhir belum menjadi penanda berakhirnya musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, fenomena hujan tersebut dipengaruhi dinamika atmosfer dan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah. Sementara itu, sebagian besar wilayah Jawa Timur diperkirakan masih berada dalam periode kemarau hingga November 2026.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan, menjelaskan hujan di sejumlah daerah, termasuk Pasuruan, Probolinggo, dan Sidoarjo, berkaitan dengan pelaksanaan OMC. Operasi tersebut dilakukan melalui sejumlah sorti penerbangan dengan jalur yang mengarah ke beberapa wilayah di Jawa Timur.
“Jadi di wilayah Pasuruan dan Probolinggo saya pastikan juga itu karena operasi modifikasi cuaca,” ujar Taufiq dalam kegiatan Bimbingan Teknis Peliputan Bencana Jawa Timur di Surabaya, Rabu (28/10/2026), sebagaimana dikutip Suara Surabaya.
Baca juga:
UB Trail Run 2026 Tingkatkan Standar Kompetisi Trail Running
Menurut Taufiq, operasi modifikasi cuaca tersebut melibatkan BMKG, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur. Hujan yang terjadi di sejumlah daerah perlu dilihat berdasarkan kondisi wilayah dan aktivitas OMC yang telah dilakukan.
Dinamika Atmosfer Turut Memengaruhi Hujan
Selain OMC, dinamika atmosfer juga dapat meningkatkan peluang terjadinya hujan meskipun suatu wilayah secara umum masih berada dalam periode kemarau.
Prakirawan sekaligus bagian dari Tim Pengolah Data BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Linda Fitrotul Muzayanah, menjelaskan hujan yang terjadi belakangan ini turut dipengaruhi fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang ekuator Rossby.
“Betul, hujan belakangan ini belum tergolong musim penghujan karena kita perlu memantau curah hujan untuk beberapa hari ke depan,” kata Linda kepada detikJatim, Kamis (29/10/2026).
Linda menjelaskan, penentuan awal musim hujan tidak cukup hanya berdasarkan munculnya hujan dalam beberapa hari. BMKG menggunakan kriteria curah hujan dasarian atau periode 10 hari untuk memantau perubahan musim.
MJO merupakan fenomena atmosfer yang bergerak dari barat ke timur di wilayah tropis. Ketika berada pada fase yang mendukung pembentukan awan hujan di sekitar Indonesia, fenomena ini dapat meningkatkan peluang terjadinya hujan.
Sementara itu, gelombang ekuator Rossby merupakan gelombang atmosfer tropis yang dapat mendukung pertumbuhan awan hujan. Pengaruh kedua fenomena tersebut dapat membuat hujan terjadi di sejumlah wilayah meskipun musim kemarau belum berakhir.
El Nino Berpotensi Memundurkan Musim Hujan
Di sisi lain, pengaruh El Nino turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam perkembangan musim di Jawa Timur. BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur sebelumnya menyebut fenomena tersebut memperkuat dan memperpanjang musim kemarau pada 2026.
Forecaster on Duty BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Retno Wulandari, menjelaskan bahwa musim kemarau di Jawa Timur juga dipengaruhi dominasi Monsun Australia yang membawa massa udara relatif kering dari Australia menuju Indonesia.
Kondisi atmosfer yang lebih kering membatasi pembentukan awan hujan sehingga periode tanpa hujan dapat berlangsung lebih panjang. Pengaruh El Nino pada 2026 turut memperkuat kondisi tersebut dan berpotensi membuat awal musim hujan 2026/2027 mundur dari kondisi normal.
BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah Jawa Timur masih mengalami curah hujan rendah selama Oktober hingga November. Hujan diperkirakan mulai meningkat pada Desember 2026.
Berdasarkan prediksi BMKG yang dikutip Bisnis.com, sebanyak 68 dari 74 Zona Musim (ZOM) di Jawa Timur atau sekitar 90,6 persen wilayah diperkirakan baru memasuki musim hujan pada Desember 2026.
Masyarakat Diminta Tetap Waspada
Kondisi hujan yang muncul di tengah musim kemarau menunjukkan bahwa cuaca harian dan penentuan musim merupakan dua hal yang perlu dibedakan. Hujan yang turun sesaat atau dalam beberapa hari belum cukup untuk menyimpulkan bahwa suatu wilayah telah memasuki musim hujan.
Karena itu, masyarakat tetap perlu memperhatikan informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini BMKG, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan. Potensi hujan lokal juga perlu diantisipasi karena dapat disertai petir maupun angin kencang.
Di sisi lain, periode kemarau yang masih berlangsung membuat kewaspadaan terhadap kekeringan tetap diperlukan. Pengelolaan air dan antisipasi dampak kekeringan menjadi perhatian, terutama bagi wilayah yang mengalami hari tanpa hujan berkepanjangan.
Dengan demikian, hujan yang mengguyur sejumlah daerah di Jawa Timur belum berarti musim kemarau telah selesai. Masyarakat perlu mengikuti pembaruan informasi BMKG untuk mengetahui perkembangan kondisi cuaca dan peralihan musim secara lebih akurat. (nid)













