Kanal24, Malang – Motif batik tak hanya bisa dikenali melalui kain atau buku sejarah. Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan cara berbeda untuk mendekatkan warisan budaya kepada generasi muda dengan mengadaptasi unsur motif batik ke dalam permainan digital. Melalui game Roblox, pemain diajak mengenal motif batik Jawa Timur sekaligus menyelesaikan berbagai tantangan di dunia virtual.
Inovasi tersebut diperkenalkan melalui kegiatan Mabar Game Roblox Chain of Batik di Gazebo Raden Wijaya, Universitas Brawijaya, Jumat (30/10/2026). Kegiatan yang diselenggarakan UB melalui Globalizing UB ini merupakan pengembangan dari Batikpedia, proyek pengumpulan data motif batik dari berbagai daerah di Jawa Timur. Melalui gamifikasi, pengetahuan tentang motif dan nilai budaya batik diharapkan lebih mudah dijangkau masyarakat, khususnya generasi muda.
Baca Juga:
Drumband TK BSS UB Tampil di Dipa Media Art
Batikpedia Dikembangkan Menjadi Media Edukasi Digital
Dosen Program Studi Sastra Jepang sekaligus Ketua Unit Laboratorium Ilmu Humaniora Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UB, Dr. Fitriana Puspita Dewi, S.S., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa Chain of Batik dikembangkan untuk memperkenalkan database motif batik yang telah dihimpun melalui proyek Batikpedia.

Menurut Fitriana, proyek tersebut telah memasuki tahun kedua inkubasi melalui Globalizing UB. Pengumpulan data dilakukan dengan mendokumentasikan beragam motif batik dari sejumlah daerah di Jawa Timur, antara lain Malang, Lamongan, Tulungagung, dan Trenggalek.
Namun, penyajian database dalam bentuk kumpulan informasi dinilai belum cukup menarik bagi masyarakat luas. Karena itu, tim mengembangkan pendekatan gamifikasi melalui Roblox agar pengetahuan tentang batik dapat disampaikan secara lebih interaktif.
“Kalau cuma database saja, yang melihat siapa? Paling peneliti. Jadi, kita buat supaya lebih menarik, kita buat gamifikasi dengan Roblox karena Roblox peminatnya dari usia anak-anak sampai remaja sampai dewasa,” jelas Fitriana.
Pemilihan Roblox juga mempertimbangkan kemudahan proses pengembangan serta popularitas platform tersebut di berbagai kelompok usia. Pengembangan permainan melibatkan mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer UB dan Politeknik Negeri Malang (Polinema).
Fitriana menambahkan, proyek ini menunjukkan bahwa hasil pengembangan akademik dapat dikemas dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Dengan memanfaatkan budaya populer, pengetahuan yang semula tersimpan dalam database dapat diperkenalkan melalui pengalaman bermain.
Motif Batik Diolah Menjadi Tantangan Permainan
Keunikan Chain of Batik terletak pada cara tim mengadaptasi unsur motif batik ke dalam dunia virtual. Motif tidak hanya ditampilkan sebagai gambar, tetapi diolah menjadi elemen desain lingkungan permainan, termasuk pulau dan rintangan yang harus dilewati pemain.
Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer UB, Muhammad Makarim, yang terlibat dalam pengarahan pengembangan game dan website database Batikpedia, menjelaskan bahwa gagasan tersebut berangkat dari upaya mengenalkan motif batik Jawa Timur melalui media yang lebih menarik bagi anak muda.

Ia melihat bahwa pembelajaran batik secara konvensional, seperti mengenal proses mencanting, belum tentu menarik bagi semua kalangan muda. Karena itu, tim mencoba menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kebiasaan generasi sekarang melalui permainan digital.
Dalam pengembangannya, tim mengambil unsur isen-isen, yaitu elemen pengisi pola pada motif batik, kemudian mengadaptasinya menjadi bagian dari lingkungan permainan. Unsur tersebut diolah menjadi desain pulau dan rintangan dalam konsep permainan obby, yakni permainan yang mengharuskan pemain melewati berbagai halangan.
Pendekatan ini membuat motif batik tidak hanya menjadi objek yang dilihat, tetapi juga bagian dari pengalaman bermain. Pemain dapat berinteraksi dengan representasi unsur motif melalui berbagai tantangan yang tersedia di dalam permainan.
Pengembangan Batikpedia juga direncanakan berlanjut ke bentuk permainan edukatif lainnya. Tim menyiapkan gagasan permainan simulasi untuk mengenalkan proses pembuatan batik serta permainan berbasis cerita yang mengangkat sejarah batik. Keduanya masih menjadi rencana pengembangan berikutnya.
Tantangan Pengembangan dan Upaya Mengenalkan Batik Jatim
Di balik pengembangan permainan, tim menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam menentukan motif yang akan diadaptasi. Makarim menyebut proses perizinan dan komunikasi dengan galeri atau pihak yang memiliki keterkaitan dengan motif batik menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.
Selain itu, pengembang dan pembatik dapat memiliki pertimbangan berbeda dalam memilih motif. Pembatik mungkin lebih mengutamakan motif unggulan yang dianggap menarik, sedangkan pengembang turut mempertimbangkan latar sejarah serta potensi cerita yang dapat diangkat ke dalam permainan.
Perbedaan sudut pandang tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan agar motif yang digunakan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki konteks budaya yang dapat dikenalkan kepada pemain.
Melalui pendekatan ini, Fitriana berharap masyarakat tidak hanya menikmati permainan, tetapi juga memperoleh pengetahuan mengenai motif dan nilai yang terkandung dalam batik. Menurutnya, batik bukan sekadar pakaian yang dikenakan dalam acara resmi. Setiap motif memiliki nilai budaya dan filosofi yang dapat dipelajari melalui berbagai cara, termasuk media digital.
Sementara itu, Makarim mengajak generasi muda untuk lebih mengenal kekayaan batik Jawa Timur. Ia menilai perhatian masyarakat selama ini kerap tertuju pada batik dari Jawa Tengah, seperti Solo. Padahal, Jawa Timur juga memiliki beragam motif yang menarik untuk dieksplorasi.
Permainan Chain of Batik dapat diakses secara umum dan dimainkan secara mandiri di rumah. Adapun kegiatan mabar menjadi kesempatan bagi pengunjung untuk mencoba permainan secara langsung sekaligus mengenal unsur motif batik yang diadaptasi ke dalamnya.
Melalui pengembangan Batikpedia dan Chain of Batik, UB berupaya memperluas cara pengenalan warisan budaya kepada generasi muda. Pemanfaatan teknologi digital diharapkan menjadi jembatan agar kekayaan motif batik Jawa Timur tidak hanya terdokumentasi, tetapi juga dikenal dan dipelajari melalui pengalaman yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat. (ern)














