Kanal24, Malang – Kualitas susu yang sampai kepada konsumen tidak hanya ditentukan oleh proses pengolahan di pabrik, tetapi juga bergantung pada tata kelola peternakan sejak tahap pemeliharaan sapi. Pemberian pakan, kebersihan kandang, sistem pemerahan, hingga penanganan susu menjadi rangkaian penting yang menentukan mutu produk. Karena itu, modernisasi peternakan sapi perah perlu diikuti penerapan standar produksi yang tepat dan konsisten.
Persoalan tersebut dipaparkan Dairy Development Manager PT Greenfields Indonesia, Aditya Christiawan, dalam Seminar Nasional rangkaian Pesta Kandang 2026 yang diselenggarakan Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan (FAST) Universitas Brawijaya (UB), Jumat (30/10/2026). Dalam kegiatan tersebut, Aditya membagikan pengalaman industri mengenai pengelolaan peternakan sapi perah, penerapan standar higiene, serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung efisiensi dan kualitas produksi susu.
Baca juga:
UB Kenalkan Batik Jawa Timur Lewat Game Roblox Chain of Batik
Kualitas Susu Dimulai dari Pengelolaan Peternakan
Aditya menjelaskan bahwa pengelolaan peternakan sapi perah membutuhkan perhatian terhadap setiap tahapan produksi. Proses tersebut dimulai dari pemberian pakan yang tepat, pemeliharaan ternak, sistem pemerahan, hingga penanganan susu setelah dihasilkan.
Menurutnya, baik peternakan berskala kecil maupun industri harus memperhatikan tahapan tersebut agar dapat menghasilkan susu dengan kualitas yang terjaga. Pengelolaan tidak cukup hanya berorientasi pada jumlah produksi, tetapi juga harus memastikan seluruh proses berjalan sesuai standar.
Salah satu tantangan yang dihadapi dalam pemeliharaan sapi perah adalah memastikan ketersediaan pakan sekaligus menjaga kondisi lingkungan kandang. Ekosistem peternakan perlu dikelola dengan baik karena menjadi bagian dari keseluruhan proses produksi.
Selain itu, standar higiene menjadi aspek penting yang tidak boleh diabaikan. Kebersihan harus diperhatikan mulai dari lingkungan peternakan dan peralatan pemerahan hingga proses pengolahan susu di fasilitas manufaktur.
Aditya menegaskan bahwa penerapan standar kebersihan diperlukan untuk menjaga kualitas produk. Konsistensi dalam menjalankan prosedur tersebut menjadi bagian penting dari tanggung jawab industri dalam menghasilkan susu yang layak dikonsumsi.
Mesin Pemerahan Dukung Modernisasi Produksi
Salah satu bentuk modernisasi yang disoroti Aditya adalah penggunaan mesin pemerahan susu. Ia menjelaskan bahwa sistem peternakan konvensional sebelumnya banyak mengandalkan pemerahan manual menggunakan tangan. Namun, perkembangan teknologi memungkinkan proses tersebut dilakukan dengan bantuan mesin.
Menurutnya, penggunaan mesin pemerahan dapat membantu meningkatkan efisiensi kerja, terutama ketika peternakan berkembang dari skala kecil menuju skala yang lebih besar. Teknologi tersebut memberikan dukungan dalam proses pemerahan sekaligus membantu penerapan standar higiene pada peralatan produksi.
Peralihan dari sistem manual menuju teknologi modern menjadi bagian dari proses pengembangan industri peternakan. Peternak perlu menyesuaikan pengelolaan dengan kebutuhan produksi agar mampu menghadapi peningkatan skala usaha.
Meski demikian, Aditya mengingatkan bahwa teknologi bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan peternakan. Pemanfaatannya harus disertai pemahaman mengenai pemeliharaan sapi, pemberian pakan, kebersihan peralatan, dan penanganan susu secara tepat.
Dengan pengelolaan yang terintegrasi, teknologi dapat memberikan manfaat lebih optimal dalam mendukung efisiensi produksi sekaligus mempertahankan mutu susu.
Greenfields Tekankan Konsistensi Mutu Produk
Selain membahas aspek teknis peternakan, Aditya turut menjelaskan komitmen PT Greenfields Indonesia dalam menjaga kualitas produk yang diterima konsumen. Menurutnya, perusahaan berupaya menghadirkan produk susu yang memberikan nilai sesuai dengan harga yang dibayarkan masyarakat.
Prinsip tersebut berkaitan dengan konsep value for money, yaitu kesesuaian antara nilai produk dan pengeluaran konsumen. Produk yang dihasilkan diharapkan mampu memberikan kualitas sebagaimana yang dijanjikan kepada masyarakat.
Untuk mencapai hal tersebut, konsistensi mutu harus dijaga sejak tahap pemeliharaan sapi hingga proses pengolahan. Penerapan standar produksi, pengawasan higiene, dan pemanfaatan teknologi menjadi bagian yang saling mendukung dalam menghasilkan produk berkualitas.
Pemaparan Aditya dalam seminar nasional tersebut memberikan gambaran bahwa industri peternakan modern membutuhkan pengelolaan yang menyeluruh. Perkembangan teknologi perlu berjalan beriringan dengan penerapan standar pemeliharaan dan pengolahan yang tepat.
Melalui materi tersebut, mahasiswa FAST UB diharapkan dapat memahami praktik pengelolaan peternakan dari perspektif pelaku industri. Pengetahuan ini menjadi bekal untuk mengenali kebutuhan dunia kerja sekaligus melihat peluang pengembangan sektor sapi perah di tengah perubahan industri peternakan.(ffn)














