Kanal24, Malang – Perekonomian Indonesia menunjukkan sejumlah sinyal positif di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi. Aktivitas manufaktur yang berada di zona ekspansi, peningkatan realisasi investasi, hingga pertumbuhan mobilitas masyarakat menjadi indikator yang memperkuat prospek ekonomi nasional. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas produksi dan permintaan domestik masih memiliki daya tahan dalam menopang pertumbuhan.
Peneliti GREAT Institute, Adhamaski Pangeran, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 berada di kisaran 5,2–5,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Proyeksi tersebut disampaikan pada Senin, (02/11/2026), dengan mempertimbangkan perkembangan sejumlah indikator ekonomi sepanjang Juli hingga September 2026. Penguatan sektor manufaktur, investasi, penyaluran kredit perbankan, serta peningkatan perjalanan wisatawan menjadi faktor yang mendukung perkiraan tersebut.
Baca Juga:
Inflasi Pangan Tembus 5 Persen, BI Perkuat Koordinasi dengan Kementan
Manufaktur dan Investasi Perkuat Aktivitas Ekonomi
Sektor manufaktur menjadi salah satu penopang utama dalam proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Aktivitas industri menunjukkan penguatan yang tercermin melalui Purchasing Managers’ Index (PMI) Bank Indonesia sebesar 52,28 dan PMI S&P Global sebesar 52,4. Kedua indikator tersebut berada di atas ambang batas 50 yang menandakan aktivitas manufaktur masih berada dalam fase ekspansi.
Adhamaski menyebutkan bahwa perkembangan tersebut menunjukkan aktivitas produksi industri masih bergerak positif. “Aktivitas manufaktur menguat, tercermin dari PMI-BI yang mencapai 52,28 dan PMI S&P Global sebesar 52,4,” kata Adhamaski.
Selain manufaktur, investasi juga memberikan kontribusi terhadap prospek pertumbuhan nasional. Realisasi investasi tercatat meningkat 7,6 persen menjadi Rp528,7 triliun. Perkembangan ini diikuti pertumbuhan kredit investasi sebesar 23,20 persen dan kredit modal kerja sebesar 11,89 persen.
Peningkatan tersebut memperlihatkan dukungan pembiayaan terhadap kegiatan usaha, baik untuk pengembangan kapasitas produksi maupun kebutuhan operasional perusahaan. Ketersediaan akses pembiayaan menjadi faktor penting dalam mendorong pelaku usaha memperluas kegiatan ekonomi dan meningkatkan produktivitas.
Adhamaski menegaskan, “Realisasi investasi tumbuh 7,6 persen menjadi Rp528,7 triliun, diikuti pertumbuhan kredit investasi sebesar 23,20 persen dan kredit modal kerja 11,89 persen.”
Mobilitas Wisatawan Dorong Sektor Pariwisata
Di luar sektor industri dan investasi, aktivitas perjalanan masyarakat turut menjadi indikator yang memperkuat pertumbuhan ekonomi. Perjalanan wisatawan nusantara tercatat tumbuh 9,28 persen, sedangkan kunjungan wisatawan mancanegara meningkat 4,63 persen.
Peningkatan mobilitas tersebut memberikan dampak terhadap aktivitas sektor pariwisata dan jasa. Perjalanan masyarakat mendorong perputaran ekonomi melalui berbagai bidang, mulai dari transportasi, akomodasi, kuliner, perdagangan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurut Adhamaski, peningkatan tersebut mencerminkan aktivitas masyarakat yang tetap berlangsung dan turut mendukung perekonomian domestik. “Mobilitas masyarakat juga meningkat, tercermin dari pertumbuhan perjalanan wisatawan nusantara sebesar 9,28 persen dan kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 4,63 persen,” ujarnya.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa sumber pertumbuhan ekonomi tidak hanya berasal dari kegiatan produksi, tetapi juga konsumsi masyarakat melalui sektor jasa. Karena itu, penguatan pariwisata berpotensi memberikan manfaat lebih luas bagi pelaku usaha di berbagai daerah.
Ketahanan Ekonomi Jadi Modal Pertumbuhan 2026
Meski sejumlah indikator menunjukkan perkembangan positif, tantangan ekonomi global tetap perlu diperhatikan. Ketidakpastian pasar keuangan internasional, tekanan inflasi, serta dinamika perdagangan dunia dapat memengaruhi stabilitas perekonomian domestik. Kondisi tersebut membuat penguatan sumber pertumbuhan dari dalam negeri menjadi semakin penting.
Sejalan dengan itu, Bank Indonesia dalam Laporan Kebijakan Moneter Triwulan III 2026 mencatat bahwa konsumsi rumah tangga tetap terjaga, sementara investasi tumbuh positif dengan dukungan investasi pemerintah dan mulai menguatnya peran investasi swasta. Bank Indonesia juga menilai pertumbuhan ekonomi nasional masih berdaya tahan, meskipun perlu terus didorong melalui penguatan berbagai sumber pertumbuhan.
Berdasarkan perkembangan sejumlah indikator tersebut, GREAT Institute menilai fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Adhamaski mempertahankan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026 dapat mencapai 5,3–5,6 persen.
Proyeksi tersebut memperlihatkan peluang pertumbuhan yang tetap terbuka. Namun, keberlanjutannya membutuhkan penguatan produktivitas industri, perluasan investasi, serta terjaganya daya beli masyarakat. Dengan demikian, momentum pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin melalui capaian angka, tetapi juga melalui peningkatan aktivitas usaha dan pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat. (ndr)














