Kanal24, Malang – Kecerdasan buatan (AI) kini bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga soal siapa yang menguasai data dan mampu menggunakannya untuk menentukan masa depan. Gagasan tersebut disampaikan Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Brawijaya (UB) sekaligus Koordinator Iran Corner FISIP UB, Abdullah Assegaf, S.Sos., M.Hub.Int., dalam rangkaian kegiatan akademik dan diplomasi budaya di Iran.
Setelah menyelesaikan sejumlah agenda di Isfahan, Abdullah bertolak menuju Tehran pada Rabu malam, 26 Agustus 2026. Di ibu kota Iran tersebut, ia dijadwalkan mengikuti rangkaian konferensi, seminar, pertemuan akademik, dan dialog kelembagaan sebagai bagian dari program internasional yang diselenggarakan Islamic Culture and Relations Organization (ICRO) Republik Islam Iran.
Abdullah secara resmi diundang mengikuti International Short Course bertajuk “International Cultural Dialogue: The Legacy of Imam Ali Khamenei in International Relations and New Islamic Civilization” yang berlangsung di Iran pada 19 Agustus hingga 1 September 2026.
Baca juga:
18th Khatulistiwa Hadirkan Expo Booth dengan 26 Tenant dan Finalis

Program tersebut mempertemukan akademisi dan pimpinan perguruan tinggi dalam berbagai diskusi mengenai hubungan internasional kontemporer, peradaban Islam, diplomasi budaya, kerja sama regional, serta berbagai tantangan global.
Gagasan dari Isfahan Soroti Tata Kelola AI
Salah satu agenda penting Abdullah di Isfahan adalah keterlibatannya dalam kegiatan akademik yang membahas perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Islamic Azad University of Isfahan, Khorasgan.
Kegiatan tersebut turut mendapat perhatian media Iran. Dalam forum itu, gagasan Abdullah mengenai tata kelola data, kedaulatan teknologi, serta peluang pengembangan kemampuan yang saling melengkapi antara Indonesia dan Iran mendapat sorotan.
Abdullah menilai perkembangan AI perlu dibaca lebih luas daripada sekadar kemajuan perangkat dan algoritma. Kemampuan mengelola data, menentukan bagaimana data digunakan, serta mengubah data menjadi pengetahuan merupakan bagian penting dari kemandirian suatu masyarakat dalam menghadapi transformasi digital.
Menurutnya, tata kelola data bahkan dapat dimulai dari informasi yang sederhana. Persoalan mendasarnya adalah bagaimana data dikumpulkan, diproses, diinterpretasikan, dan digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan.
Dalam konteks AI, kemampuan tersebut semakin penting karena data menjadi fondasi bagi pengembangan pengetahuan dan berbagai teknologi baru.
Dalam forum di Isfahan, Abdullah juga menekankan pentingnya suatu negara tetap memiliki kendali atas data yang dimilikinya ketika memanfaatkan teknologi global.
Kerja sama internasional di bidang teknologi tetap diperlukan karena tidak ada satu negara yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan teknologi secara mandiri. Namun, kerja sama tersebut perlu disertai kemampuan untuk menjaga kepentingan strategis sekaligus mengembangkan kapasitas domestik.
Menurut Abdullah, Indonesia dan Iran memiliki pengalaman serta kemampuan teknologi yang berbeda. Perbedaan tersebut justru membuka ruang untuk saling belajar dan mengembangkan kapabilitas yang saling melengkapi.
Kerja sama di bidang AI dan tata kelola data karena itu berpotensi menjadi salah satu ruang baru dalam hubungan akademik dan teknologi antara kedua negara.
Bagi Abdullah, diskusi mengenai AI pada akhirnya juga berkaitan dengan masa depan hubungan internasional. Penguasaan terhadap teknologi, pengetahuan, dan data semakin memengaruhi kapasitas negara dalam mengambil keputusan secara mandiri.
Karena itu, kerja sama Indonesia-Iran perlu diarahkan pada pengembangan pengetahuan, pertukaran pengalaman, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Iran Corner Jadi Jembatan Akademik
Keikutsertaan Abdullah dalam rangkaian agenda di Iran juga memiliki arti penting bagi pengembangan Iran Corner FISIP Universitas Brawijaya.
Melalui forum seperti ini, Iran Corner dapat semakin berperan sebagai ruang yang mempertemukan akademisi, mahasiswa, peneliti, serta institusi Indonesia dan Iran untuk mengembangkan dialog mengenai hubungan internasional, budaya, pendidikan, teknologi, dan isu-isu global.
Pertemuan langsung dengan akademisi dan berbagai institusi di Iran sekaligus memberikan peluang untuk memperluas jejaring kerja sama yang dapat ditindaklanjuti dalam bentuk seminar bersama, kuliah tamu, pertukaran akademik, penelitian kolaboratif, hingga pengembangan publikasi ilmiah.
Hal tersebut sejalan dengan tujuan program ICRO yang memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mengunjungi institusi akademik, budaya, dan penelitian terkemuka di Iran serta bertukar pandangan dengan akademisi dan pakar Iran.

Dari Isfahan Menuju Tehran
Setelah menuntaskan rangkaian kegiatan di Isfahan, perjalanan akademik Abdullah berlanjut ke Tehran. Pada 26 Agustus, delegasi bergerak menuju ibu kota Iran dan dijadwalkan mengikuti pertemuan dengan jajaran yang menangani pengembangan kerja sama ilmiah dan budaya.
Sejumlah kegiatan penting kemudian menanti di Tehran. Agenda tersebut antara lain keikutsertaan dalam Proximity Conference atau konferensi Taqrib Mazahib Islami pada 28 Agustus, kunjungan dan pertemuan dengan jajaran universitas pada 29 Agustus, serta kunjungan ke Amirkabir University dan pertemuan ilmiah pada 31 Agustus 2026.
Pada 1 September 2026, rangkaian kegiatan dijadwalkan ditutup dengan keikutsertaan dalam closing ceremony dan penganugerahan edisi pertama Cultural and Public Diplomacy Award of the Islamic Republic of Iran, sebelum delegasi melakukan perjalanan kembali melalui Istanbul.
Perjalanan dari Isfahan menuju Tehran menjadi kelanjutan dari upaya membangun hubungan Indonesia-Iran melalui jalur akademik dan diplomasi pengetahuan.
Dialog mengenai AI, tata kelola data, pendidikan, hubungan internasional, hingga diplomasi budaya menunjukkan bahwa hubungan kedua negara memiliki ruang kerja sama yang semakin luas.
Kehadiran akademisi Indonesia dalam berbagai forum tersebut juga memperlihatkan bahwa hubungan Indonesia-Iran dapat dikembangkan melalui jejaring antaruniversitas dan komunitas akademik.
Melalui perannya sebagai dosen Hubungan Internasional sekaligus Koordinator Iran Corner FISIP UB, Abdullah berharap rangkaian pertemuan di Iran dapat membuka semakin banyak ruang kolaborasi yang konkret dan berkelanjutan bagi institusi serta masyarakat akademik kedua negara. (nid)














