Kanal24, Malang – Pertanian menghadapi tantangan untuk tetap produktif di tengah keterbatasan sumber daya dan perubahan kondisi lingkungan. Pemanfaatan teknologi menjadi salah satu pendekatan yang mulai dikembangkan untuk membuat proses budidaya lebih terukur sekaligus mendorong penggunaan energi dan sumber daya secara lebih efisien.
Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan konsep smart indoor farming system bernama Agrising. Konsep ini menggabungkan pertanian dalam ruang, sistem sirkular, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), energi bersih, serta pengadaan air secara mandiri. Konsep tersebut disampaikan Adit Maulana Prasetyo, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB, dalam program Arsitektur Zero Waste yang berlangsung di Lorong Studio UBTV, lantai 2 Gedung Rektorat UB, Rabu (30/9/2026).
Baca juga:
Musyawarah (Syura) Digagas sebagai Paradigma Baru Pembentukan Hukum yang Dikehendaki Publik
Agrising Hadirkan Pertanian dalam Ruang
Adit menjelaskan, Agrising dirancang sebagai sistem pertanian indoor yang mengintegrasikan berbagai komponen teknologi dalam satu ruang. Pendekatan tersebut memungkinkan proses budidaya dilakukan dengan kondisi lingkungan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.

“Jadi teman-teman di sini kami tim itu menyusun konsep yang namanya smart indoor farming system itu kami namai dengan namanya agresing. Jadi Agrising ini merupakan pertanian di dalam indoor,” ujar Adit.
Dalam sistem tersebut, tim juga mengintegrasikan AI untuk mendukung proses pertanian. Teknologi digunakan sebagai bagian dari sistem yang dirancang untuk membantu petani menjalankan aktivitas budidaya di dalam ruang.
Selain AI, Agrising mengusung sistem sirkular. Mulai dari sumber energi, kebutuhan air, proses budidaya, hingga pemantauan dirancang untuk saling terhubung dalam satu sistem.
Adit menjelaskan, energi yang digunakan berasal dari limbah pertanian. Sementara kebutuhan air dirancang dapat diperoleh secara mandiri melalui sistem yang dikembangkan.
“Terus juga kita juga ada sistem dalam aplikasi kita juga menggunakan learning dan mulai dari printing sampai harvesting. Jadi mulai dari monitoring sampai ke monitoring distribusi kepada para petani nantinya,” jelasnya.
Konsep tersebut membuat Agrising tidak hanya berfokus pada aktivitas menanam. Sistem juga diarahkan untuk mendukung proses pemantauan hingga distribusi kepada petani.
Limbah Pertanian Jadi Sumber Energi
Konsep zero waste dalam Agrising juga diterapkan pada penggunaan energi. Adit menjelaskan, tim berupaya memanfaatkan limbah pertanian sebagai bagian dari sumber energi bersih.
“Arsitektur Zero Waste ini itu membangun sebuah sistem yang di mana kita mengintegrasikan energi bersih gitu ya dari limbah pertanian,” kata Adit.
Salah satu teknologi yang disebut dalam konsep tersebut adalah microbial fuel cell. Sistem ini digunakan untuk mengambil energi dari limbah sebagai bagian dari upaya membangun sistem dengan karbon dan emisi yang lebih rendah.
Menurut Adit, pendekatan tersebut menjadi bagian dari rancangan sistem yang tidak hanya memperhatikan produktivitas pertanian, tetapi juga sumber daya yang digunakan selama proses budidaya.
Penerapan konsep zero waste kemudian diperluas melalui sistem pertanian indoor. Berbeda dengan pertanian konvensional yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan di lapangan, sistem ini memungkinkan kondisi ruang pertanian dikendalikan sesuai kebutuhan tanaman.
“Kalau dari kita itu sistemnya indoor. Jadi teman-teman bisa membuat cuacanya sendiri. Jadi bisa mengkontrolling cuacanya berdasarkan kebutuhan tanamannya,” jelasnya.
Dengan pengaturan tersebut, kondisi lingkungan dapat disesuaikan dengan jenis tanaman yang dipilih. Sistem dirancang agar kebutuhan tanaman menjadi dasar dalam pengaturan lingkungan budidaya.
Pendekatan ini menempatkan teknologi sebagai bagian dari pengelolaan sumber daya. Energi bersih, air, kondisi lingkungan, dan proses pertanian dirancang berada dalam satu sistem yang saling terhubung.
Teknologi Pertanian Sasar Generasi Muda
Bagi Adit, pengembangan Agrising tidak hanya berkaitan dengan efisiensi proses pertanian dan aspek lingkungan. Teknologi juga diharapkan dapat menjawab tantangan menurunnya ketertarikan anak muda terhadap sektor pertanian.
Ia menilai integrasi teknologi dapat membuat aktivitas pertanian menjadi lebih efisien, terutama dari sisi penggunaan tenaga. Teknologi diharapkan dapat membantu sejumlah pekerjaan sehingga pertanian tidak sepenuhnya bergantung pada aktivitas manual.
“Saya harapkan mungkin dengan integrasi teknologi terutama dalam sistem pertanian. Mungkin kalau teman-teman sadar itu kan sekarang motivasi anak muda untuk bertani itu kan semakin menurun,” ujar Adit.
Menurutnya, dukungan teknologi dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan ketertarikan generasi muda terhadap pertanian. Efisiensi tenaga menjadi salah satu manfaat yang diharapkan dari sistem yang sedang dirancang tersebut.
“Diharapkan dengan efisiensi tenaga seperti dibantuan oleh teknologi yang kita rancang ini mungkin bisa meningkatkan motivasi anak-anak muda untuk semakin mengembangkan potensi pertanian di Indonesia,” lanjutnya.
Selain mendorong regenerasi petani, Adit melihat sistem dengan energi bersih dan pengadaan air secara mandiri dapat mendukung arah pertanian yang lebih ramah lingkungan. Konsep tersebut juga diharapkan berkontribusi terhadap upaya Indonesia menuju target zero emission.
Bagi tim pengembang, integrasi teknologi menjadi bagian penting untuk membawa pertanian lebih dekat dengan kebutuhan generasi masa kini. Pertanian tidak hanya dipandang sebagai kegiatan budidaya di lahan terbuka, tetapi juga dapat dikembangkan melalui sistem yang menggabungkan teknologi, efisiensi sumber daya, dan keberlanjutan.
Melalui Agrising, tim berharap inovasi pertanian berbasis teknologi dapat membuka cara baru dalam mengelola budidaya sekaligus mendorong lebih banyak anak muda melihat pertanian sebagai bidang yang dapat berkembang bersama teknologi.(ern)














