Kanal24, Malang – Inovasi kecerdasan buatan (AI) hasil karya mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) bersiap melangkah dari ruang kampus menuju implementasi nyata. Melalui Demo Use Case AI Talent Factory (AITF) 2026 di Auditorium Algoritma FILKOM UB, Selasa (30/6/2026), berbagai solusi AI dipamerkan untuk mendukung program strategis pemerintah, terutama di sektor pendidikan dan bantuan sosial.
Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial, Dr. Robben Rico, menilai inovasi yang dipresentasikan mahasiswa menunjukkan kapasitas sumber daya manusia Indonesia yang semakin siap menjawab tantangan era digital.
“Kita melihat anak-anak kita tadi mempresentasikan sesuatu yang menurut saya cukup luar biasa. Bahwa kemudian kita makin optimis terhadap sumber daya manusia kita,” ujarnya.
Baca juga:
Fun Games Meriahkan Dies Natalis Ke-18 FKG UB, Pererat Dosen dan Mahasiswa

Menurut Robben, berbagai inovasi tersebut tidak akan berhenti sebagai prototipe, tetapi akan didorong hingga tahap implementasi. Salah satu solusi yang dipamerkan adalah sistem berbasis AI yang mampu membantu guru menyusun kurikulum, menyiapkan materi pembelajaran, hingga membuat soal evaluasi.
“Dengan teknologi ini nanti mempermudah kerja para kepala sekolah, guru, dan tendik dalam proses belajar mengajar,” jelasnya.
Implementasi di 178 Sekolah Rakyat
Pemerintah menargetkan teknologi tersebut mulai diterapkan di 178 Sekolah Rakyat pada tahun ajaran 2026–2027. Untuk memastikan proses adaptasi berjalan optimal, Kemensos juga menyiapkan program pendampingan bagi tenaga pendidik.
“Kami akan melakukan proses pendampingan terhadap 3.000 guru dan 5.000 tenaga kependidikan,” kata Robben.
Ia menambahkan, pemerintah telah menyiapkan tiga komitmen utama agar implementasi AI berjalan efektif, yakni penguatan kapasitas sumber daya manusia, distribusi teknologi ke berbagai daerah, serta dukungan pembiayaan.
“Kami ingin memastikan pelaksanaan program ini bisa dibantu dan di-cover dengan anggaran yang proper,” tegasnya.
Kolaborasi Kampus, Pemerintah, dan Industri
Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan SDM Komunikasi dan Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Bonifasius Wahyu Pudjianto, mengatakan AI Talent Factory merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, hingga industri.

“Ini adalah kolaborasi bersama dengan seluruh stakeholders, baik itu pemerintah, perguruan tinggi, bahkan dengan industri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap perguruan tinggi memiliki fokus pengembangan yang berbeda sesuai kebutuhan nasional. Universitas Brawijaya, misalnya, mengembangkan solusi AI untuk mendukung Sekolah Rakyat dan penyaluran bantuan sosial, sementara kampus lain mengembangkan teknologi di bidang perlindungan anak maupun analisis media.
AI Didorong Perkuat Ketepatan Bansos
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, mengatakan pemanfaatan AI diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan publik, termasuk memastikan penyaluran bantuan sosial menjadi lebih akurat.
“Harapannya nanti dengan AI itu pemberian bantuan sosial pemerintah menjadi lebih tepat sasaran,” katanya.
Menurutnya, penerapan AI tidak hanya meningkatkan efisiensi kerja, tetapi juga memperkuat kualitas pelayanan di sektor pendidikan dan sosial.
“Ini modal yang bagus untuk meningkatkan kualitas SDM kita,” ujarnya.
Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri melalui AI Talent Factory diharapkan menjadi langkah awal percepatan transformasi digital nasional. Inovasi yang lahir dari kampus pun diharapkan tidak berhenti di laboratorium, melainkan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat melalui implementasi di sektor pendidikan dan layanan sosial. (qrn)














