KANAL24, Malang – Karir yang diperoleh selepas dari bangku perkuliahan tidak lepas dari benih aktifitas yang ditanam selama perkuliahan. Hal ini dialami oleh Dr. Evi Latifah alumni Budidaya Pertanian UB angkatan 1994 selama menjalani karir sebagai peneliti Pusat Riset Hortikultura BRIN.
Ditemui disela kegiatan di Fakultas Pertanian UB, Evi dua kali menempuh pendidikan di FP UB yakni jenjang sarjana tahun 1994 dan program doktor tahun 2014.
“Saya dua kali menempuh pendidikan di UB yaitu sarjana tahun 1994 dan program doktor tahun 2014,” kata Evi.
Lepas dari kampus biru, Evi menjalani karir di Balai Penelitian Teknologi Pertanian Jawa Timur tahun 2007 sebelum ahirnya dilantik sebagai peneliti BRIN pada tahun 2022.
Baca Juga : Pilihan Kedua Berbuah Brand Benih Unggul
“Peleburannya itu tahun 2021 semua peneliti lintas kementerian namun pelantikannya tahun 2022,” lanjutnya.
Sewaktu kuliah Evi aktif di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Agronomi dan berlanjut di Senat Mahasiswa Fakultas Pertanian UB.
Pengalaman aktif di organisasi mahasiswa ini menurut Evi berdampak besar dalam perjalanan karirnya hingga meraih posisi saat ini.
Manfaat terbesarnya adalah Evi terbiasa berjejaring dan berkolaborasi dengan pihak lain sejak mahasiswa sehingga memudahkan ketika terjun kedunia kerja.
“Berorganisasi itu membuat saya terbiasa bertemu dengan orang lain, berjejaring dan berkolaborasi. Dulu terbiasa berkolaborasi dengan mahasiswa fakultas dan kampus lain, Ini membuat saya lebih luwes ketika menekuni profesi peneliti,” kelas Evi.
Apalagi di Pusat Riset Hortikultura tidak hanya satu bidang karena terdiri dari beberapa bidang seperti pusat riset tanaman pangan, pusat riset perkebunan, pusat riset peternakan dan perikanan.
“Untuk bidang kami adalah riset pertanian presisi yang menuntut lebih advance dan presisi untuk mendukung program pemerintah,” imbuhnya.
Menghadapi kondisi kerja yang lintas keilmuan dan tuntutan presisi ini membuat Evi merasakan betul manfaat berorganisasi sejak kuliah di Budidaya Pertanian UB.
Menurut Evi manfaat berorganisasi masih tetap relevan hingga saat ini sebagai laboratorium belajar kepemimpinan, komunikasi dan jejaring sehingga dirinya menyarankan agar mahasiswa saat ini juga aktif berorganisasi.
“Saya meyakini dan merasakan betul manfaat berorganisasi di Budidaya Pertanian UB sehingga menurut saya adik- adik mahasiswa saat ini ya harus berorganisasi sebagai sarana belajar,” lanjut Evi.
Namun tentu saja terdapat perbedaan kondisi antara dulu dengan sekarang sehingga pola berorganisasi juga mengalami perubahan.
Hal ini menurutnya justru menjadi kesempatan untuk lebih berkembang karena saat ini berjejaring lebih mudah hingga keluar negeri melalui dukungan teknologi.
“Berorganisasi saat ini kan lebih dinamis dan berkembang bisa sampai luar negeri, sayang sekali jika tidak dimanfaatkan,” jelas Evi.
Apalagi jika ingin berkarir sebagai peneliti pertanian seperti dirinya sebagai Alumni Budidaya Pertanian UB, Evi mendorong adik-adiknya untuk aktif berorganisasi.
Dunia riset saat ini penuh dengan kolaborasi, inovasi lintas keilmuan yang membutuhkan komunikasi intens serta jejaring .Kedua kemampuan tersebut dapat diperoleh melalui jalur organisasi.
Terkait dengan pola organisasi di Fakultas Pertanian UB, Evi menilai bagus karena berjenjang sejak dari tingkat Himpunan atau Prodi hingga Fakultas sebagai sarana belajar bagi mahasiswa Budidaya Pertanian UB.
“Pokoknya sayang banget kalo tidak berorganisasi terutama jika ingin menjadi peneliti seperti saya karena hal tersebut sangat menunjang,” pungkasnya. (sdk)














