Oleh: Ustadz Akhmad Muwafik Saleh*
Menarik apabila kita mencoba melihat kembali pada 1447 tahun yang lalu. Tepatnya pada tahun 610 Masehi saat Nabi Muhammad diutus sebagai seorang Rasul yang bertugas untuk memperbaiki umatnya dan mengarahkan agar menjadi umat terbaik di tengah kejahiliaan.
Saat itu dunia dikelilingi beberapa imperium besar yang mendominasi percaturan global, yaitu Kekaisaran Bizantium (Romawi Timur) yang berpusat di Konstantinopel. Kedua, Kekaisaran Sassaniyah (Persia) yang terletak di tepi Sungai Tigris, sekitar 35 km di selatan Baghdad, Irak modern. Selain itu ada pula Kerajaan Aksum (Abyssinia/Habasyah), kerajaan Kristen yang adil di Afrika Timur yang dipimpin oleh Raja Negus/Najashi.
Arab saat itu tidak dikenal sama sekali dalam peta percaturan politik dunia, bahkan dianggap belum memiliki suatu peradaban yang memandunya. Masyarakatnya bukanlah dari kalangan terdidik. Terlebih Nabi yang ditugasi membawa wahyu kepada masyarakatnya dikenal sebagai Nabi yang ummiy (tidak bisa baca tulis), bahkan banyak dari kalangan sahabatnya berasal dari kelas sosial bawah, termasuk para budak.
Namun menariknya, mereka mampu mengubah peradaban dan menjadikannya sebagai poros peradaban baru yang memiliki daya dobrak luar biasa yang berpusat di Madinah.
Pertanyaannya, apa rahasia yang membuat mereka mampu melakukan perubahan besar tersebut hanya dalam waktu yang sangat singkat, yaitu 23 tahun? Sementara kita hari ini, dengan segala fasilitas yang dimiliki, sumber dana dan sumber daya yang sangat mencukupi, akses pendidikan yang luas, bahkan didukung teknologi canggih di berbagai bidang seperti IT dan AI, ternyata belum mampu melakukan perubahan besar dalam waktu singkat. Apa gerangan rahasia mereka?
Ternyata mereka melakukan perubahan itu dengan menjadikan Alquran sebagai panduan utama (way of life). Alquran adalah cetak biru langit (blueprint) ilahi yang menekankan bahwa rancangan peradaban berasal dari otoritas tertinggi yang melampaui akal manusia.
Alquran yang hadir pada mereka tidak sekadar menjadi bahan bacaan, melainkan dijadikan kompas pemandu arah dalam bersikap. Setiap ayat Alquran yang turun, mereka segera mempraktikkan dan mengimplementasikannya.
Mereka tidak menjadikan Alquran sebagai bahan diskusi atau academic curiosity semata, apalagi sekadar wacana pemuas akal pikiran. Alquran bagi mereka benar-benar dijadikan panduan praktis, sebagai protokol kehidupan dan algoritma perilaku (behavioral algorithm) yang menginstruksikan secara presisi setiap tindakan dalam bimbingan wahyu.
Demikianlah Allah swt menjadikan Alquran sebagai “hudan” atau petunjuk bagi umat manusia. Penggunaan kata hudan memberikan pengertian bahwa petunjuk (guidance) mengimplikasikan adanya gerakan vertikal maupun horizontal.
Jika Al-Qur’an hanya dibaca dan didiskusikan tanpa diterapkan, maka ia tidak berfungsi sebagai hudan, melainkan hanya sebagai information. Ketakwaan (taqwa) adalah bentuk implementatif, bukan sekadar pemahaman teoretis.
Demikianlah Allah swt menegaskan dalam firman-Nya:
{ ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah : 2)
Secara semantik, Al-Qur’an mendefinisikan dirinya sebagai hudan (petunjuk). Logikanya, petunjuk tidak akan berguna jika tidak diikuti arahnya. Ibarat sebuah standard operating procedure yang hanya menjadi dokumen akademis tanpa pernah digunakan sebagai panduan praktis dalam mengelola organisasi.
Alquran dijadikan oleh Rasulullah saw dan para sahabat pada saat itu sebagai SOP hidup dan protokol pengelolaan organisasi besar, mulai dari pribadi, keluarga, masyarakat, hingga negara.
Alquran bukan sebuah artefak museum yang indah dipandang dan menarik untuk didiskusikan semata. Alquran bukan sekadar sekumpulan teks, melainkan algoritma perilaku.
Jika Al-Qur’an melarang riba, maka logika praktisnya adalah membangun sistem ekonomi yang berkeadilan, bukan sekadar menulis tesis tentang keburukan kapitalisme.
Mengapa umat Islam hari ini gagal membangun dan menguatkan kembali peradaban Islam?
Hal ini karena Alquran hanya dijadikan bagian dari retorika wacana tanpa realitas.
Dalam ranah sosial-politik maupun kehidupan pribadi, sering kali kita terjebak pada “kerennya” ide-ide Al-Qur’an namun gagal dalam eksekusi. Kegagalan ini disebut sebagai kabura maqtan (kebencian yang sangat besar), karena menciptakan kemunafikan intelektual.
Allah swt secara tegas menyatakan:
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ . كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفۡعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. Ash-Shaff: 2-3)
Ayat ini menyerang inkonsistensi logis. Jika seseorang mengakui sebuah nilai sebagai kebenaran (wacana), maka secara moral ia wajib mengaktualisasikannya. Jika mereka sama sekali tidak menggerakkan tindakan atas wacana yang dikembangkannya, maka hal ini merupakan kegagalan besar (kabura maqtan).
Kegagalan nyata umat ini karena telah terjebak pada dialektika akademis atas isi Alquran namun minus implementasi realitas. Masyarakat Muslim saat ini mengalami obesitas informasi tetapi kelaparan transformasi.
Al-Qur’an diposisikan hanya sebagai wacana pemikiran sehingga terjebak dalam masturbasi intelektual—merasa puas hanya karena memahami konsep, tanpa pernah merasakan perubahan karakter.
Al-Qur’an memberikan perumpamaan yang sangat keras bagi mereka yang memiliki akses terhadap ilmu (wacana) namun tidak menjadikannya panduan hidup.
مَثَلُ ٱلَّذِینَ حُمِّلُوا۟ ٱلتَّوۡرَىٰةَ ثُمَّ لَمۡ یَحۡمِلُوهَا كَمَثَلِ ٱلۡحِمَارِ یَحۡمِلُ أَسۡفَارَۢاۚ بِئۡسَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ لَا یَهۡدِی ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّـٰلِمِینَ
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal…”
(QS. Al-Jumu’ah: 5)
Keledai membawa beban buku di punggungnya. Ia “memiliki” ilmu secara fisik dan akses, namun tidak memahami esensinya dan tidak mendapat manfaat darinya. Ini adalah sindiran metaforis bagi mereka yang terjebak dalam wacana pemikiran namun kehilangan spirit transformasi.
Menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan praktis adalah bentuk validasi tertinggi terhadap kecerdasan seorang mukmin. Karena kecerdasan sejati bukan terletak pada seberapa banyak yang kita ketahui, melainkan seberapa konsisten kita mengonversi pengetahuan menjadi kebijakan (wisdom).
*) Dr. Akhmad Muwafik Saleh, S.Sos., M.Si
Ketua Pusat Pengembangan Kepribadian Universitas Brawijaya, Pengasuh Asrama Karakter Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar Malang













