Kanal24, Malang — Di tengah derasnya arus transformasi industri global, peran alumni perguruan tinggi tak lagi sekadar simbol nostalgia. Di Universitas Brawijaya (UB), sinergi alumni justru menjadi fondasi penting dalam memperkuat relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja. Semangat itulah yang mengemuka dalam Reuni Akbar Dies Natalis ke-62 Departemen Teknik Mesin UB, yang digelar Sabtu (18/10/2025) di halaman Gedung Teknik Mesin 1 Fakultas Teknik UB.
Acara ini selain menjadi temu kangen lintas generasi, juga menjadi ruang dialog produktif antara kampus dan para alumninya — banyak di antaranya kini menduduki posisi strategis di industri nasional maupun global.
Baca juga : 62 Tahun Teknik Mesin UB, Alumni jadi Motor Produktifitas dan Inovasi Kampus
Relevansi jadi Kunci
Ketua Ikatan Alumni (IKA) Departemen Teknik Mesin UB, Ir. Wiko Migantoro, mantan Wakil Direktur Pertamina, menegaskan bahwa keberhasilan akademik harus diimbangi dengan kesiapan menghadapi realitas industri. Ia mengapresiasi hubungan kampus–alumni yang semakin erat, yang kini tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga substantif.
“Dari para alumni banyak memberikan masukan-masukan yang diperlukan dari tempatnya bekerja, dari industri kepada kampus, sehingga kampus dapat selalu mengaktifkan kurikulumnya dan membuatnya tetap relevan,” ujarnya.
Wiko menjelaskan, kolaborasi yang terjalin telah menghasilkan sejumlah program bersama, seperti riset terapan, magang industri, hingga dukungan terhadap pengembangan soft skill mahasiswa. Kerja sama dengan Pertamina, misalnya, melibatkan tim Teknik Mesin UB dalam proyek pemantauan efisiensi mesin industri dan pengembangan software sistem reliabilitas alat produksi.
“Output-nya ada model software yang dikembangkan teman-teman kampus energi. Program ini selesai pada 2024 dan menjadi contoh nyata sinergi antara dunia industri dan kampus,” tambahnya.
Ia juga berharap forum alumni dapat dimanfaatkan sebagai wadah strategis untuk merumuskan program penguatan kurikulum dan pengembangan mahasiswa secara sistematis. “Masukan dari industri penting, tapi perlu diformulasikan agar tidak hanya berhenti sebagai wacana. Kami ingin hasil diskusi para alumni bisa diterjemahkan menjadi kebijakan nyata,” katanya.

Alumni Teknik Mesin UB Menembus Industri Dunia
Sementara itu, Dudi Prasetio, alumnus angkatan 1989 yang kini berkarier di Boeing Amerika Serikat, turut hadir dan berbagi pengalamannya. Sebagai stress analyst untuk proyek pesawat Boeing 787-9 dan 787-8, Dudi menilai lulusan Teknik Mesin UB memiliki kemampuan teknis kuat, namun perlu memperkuat mental keberanian untuk menembus pasar global.
“Anak-anak sekarang sudah bagus secara kemampuan, tapi harus lebih berani untuk berkembang dan jangan takut bersaing dengan siapa pun. Dunia kerja menuntut keberanian dan kesiapan menghadapi tantangan,” ujarnya.
Dudi yang juga aktif memberi kuliah tamu daring untuk mahasiswa UB ini berharap generasi muda tidak hanya fokus pada nilai akademik, tetapi juga kesiapan mental dan kedisiplinan. “Jangan terlalu manja. Dunia industri global bergerak cepat, dan hanya yang punya semangat pantang menyerah yang bisa bertahan,” tegasnya.

Teknik Mesin UB Lahirkan Produktivitas
Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., turut hadir memberikan apresiasi kepada keluarga besar Teknik Mesin. Ia menyebut Departemen Teknik Mesin sebagai salah satu penyumbang produktivitas terbesar UB.
“Teknik Mesin adalah penyumbang produktivitas yang luar biasa bagi UB — dari dosen yang berprestasi, riset yang banyak, mahasiswa yang berprestasi, hingga alumni yang tersebar di berbagai sektor strategis,” ungkapnya.
Prof. Widodo juga mengapresiasi kontribusi alumni yang tidak hanya dalam bentuk dukungan dana abadi dan beasiswa, tetapi juga mentoring dan jejaring profesional. “Saya melihat di UB belum ada alumni yang sekompak ini. Dukungan alumni mesin luar biasa, mulai dari dana abadi, beasiswa, hingga jaringan industri,” tambahnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik, Prof. Hadi Suyono, menegaskan bahwa alumni Teknik Mesin telah membuktikan kontribusinya. Dari hasil executive meeting malam sebelumnya, lebih dari 50 perwakilan perusahaan hadir, 60 persen di antaranya menjabat posisi direktur atau CEO. “Ini membanggakan. Daya serap lulusan kita tinggi, dan banyak yang justru direkrut langsung karena reputasi yang sudah dikenal baik,” ujarnya.
Semangat Kolaborasi dan Kepedulian
Ketua Departemen Teknik Mesin, Dr. Purnami, ST., MT., menambahkan bahwa seluruh rangkaian acara reuni ini murni digagas dan didukung alumni. Ia menilai semangat gotong royong dan kepedulian antar generasi menjadi kekuatan terbesar keluarga besar Teknik Mesin.
“Semua dukungan datang dari alumni — dari pendanaan hingga semangat. Ini bukti nyata bahwa hubungan antara kampus dan alumni kita sangat hidup,” ujarnya.
Sinergi antara kampus, alumni, dan industri bukan hanya membangun reputasi, tetapi juga menegaskan jati diri Teknik Mesin UB sebagai pusat lahirnya inovator, pemimpin, dan insan berakhlak yang siap menghadapi tantangan zaman.














