Kanal24, Malang – Beasiswa menjadi salah satu pintu gerbang penting bagi mahasiswa atau pelajar yang ingin melanjutkan pendidikan tanpa harus membebani keluarga secara finansial. Dalam dunia beasiswa, Dylan Arga, Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), menjadi figur yang menarik perhatian. Sebagai penerima Beasiswa Djarum Foundation, Dilan tidak hanya berprestasi di dunia akademis tetapi juga dikenal sebagai content creator yang berbagi tips dan trik terkait cara mendapatkan beasiswa.
Dylan menceritakan mengenai perjalanannya meraih beasiswa, memberikan wawasan mengenai proses seleksi, serta berbagi pengalaman dalam dunia konten khususnya yang berkaitan dengan beasiswa.

Menurut Dylan, masih banyak mahasiswa atau pelajar yang belum mengetahui secara detail mengenai beasiswa apa yang masih tersedia, kriteria yang dibutuhkan, dan bahkan kerap terjadi kebingungan terkait mitos bahwa beasiswa hanya untuk mereka yang kurang mampu.
“Beasiswa tidak hanya ditujukan untuk mereka yang kurang mampu, tetapi juga bagi mereka yang sudah mampu dan memiliki kemauan untuk berprestasi lebih,” ujar Dylan.
Dylan mengungkapkan tujuan memilih konten berbagi informasi tentang beasiswa adalah untuk berbagi informasi kepada banyak orang bahwa masih ada banyak kesempatan beasiswa yang dapat diikuti. Ia mengawali kontennya dengan berbagi benefits kepada followers-nya karena menurutnya orang-orang tertarik melihat kontennya karena yang dicari adalah manfaat dari tema yang ia angkat.
Selain manfaat yang dibagi, Dylan juga berbagi informasi terkait yayasan atau lembaga yang mengadakan beasiswa tersebut serta mengulas tentang proses seleksi beasiswa dan tidak sedikit terjadi lembaga penyelenggara pemberi beasiswa bodong.
Dylan memberikan tips menghindari beasiswa bodong. Ia menyoroti tahapan rekrutmen yang terlalu singkat, administrasi yang terlalu mudah lolos, serta lembaga penyelenggara yang terlihat mencurigakan. Kemudian di tahapan akhir, biasanya penerima beasiswa disuruh membayar sebagai komitmen fee atau hal sejenis, padahal hal tersebut seharusnya ada di tahapan rekrutmen beasiswa.
“Selain riset tentang benefits, aku juga melakukan riset tentang lembaga penyelenggara, termasuk melihat jejak alumni dan reputasi lembaga. Riset bisa dilakukan ke website atau berbagai platform online,” tegas Dylan.
Dylan mengaku baru dua kali apply beasiswa, tetapi saat mencoba untuk pertama kalinya ia gagal. Namun, dari kegagalan ini, Dylan terpicu untuk mencari peluang lain. Pada percobaan kedua, Dylan berhasil menjadi salah satu penerima beasiswa Djarum Foundation.
Dylan menceritakan proses seleksi beasiswa yang dilakukan oleh Djarum Foundation. Ia mengungkapkan bahwa kualifikasi di lembaga tersebut sesuai dengannya. Mulai dari mahasiswa semester lima, IPK minimal 3,2, aktif berorganisasi dan akan menjadi nilai plus kalau menjadi salah satu pengurus dalam organisasi, dan beberapa kualifikasi lainnya.
“Dalam organisasi itu jika jadi pemimpin tuh jadi nilai plus dan pada saat itu aku jadi Co-Founder dari komunitasku. Jadi, aku melihat bahwa itu adalah peluangku,” ujar Dylan.
Selain kualifikasi, juga ada tahapan tes yang dilakukan oleh Djarum Foundation. Jika lolos tahapan kualifikasi, kemudian ada tes hingga wawancara. Bagi Dylan, tes yang diberikan seperti tes di CPNS dengan waktu singkat. Sedangkan, untuk sesi wawancaranya itu tidak sulit karena pertanyaan-pertanyaan yang diberikan berkaitan dengan yang telah diisi di formulir pendaftaran.
Dylan menjadi mahasiswa inspiratif dalam menempuh pendidikan dan berusaha meraih beasiswa. Melalui kisahnya, Dylan berhasil memberikan pandangan baru tentang pentingnya pengetahuan, ketekunan, dan semangat dalam meraih peluang pendidikan melalui beasiswa untuk generasi muda yang ingin mengikuti jejaknya. Selain itu, ia dapat ditemui di Instagram @dylanarga atau Tiktok @disiniarga untuk mendapatkan informasi-informasi terbaru terkait beasiswa. (nid/gld)