Kanal24, Malang – Kemandirian benih menjadi salah satu fondasi penting dalam mewujudkan ketahanan pangan. Namun, tidak sedikit petani yang masih bergantung pada benih komersial sehingga biaya produksi meningkat dan pelestarian benih lokal semakin berkurang. Padahal, melalui pengetahuan tentang pemilihan, penyimpanan, hingga pengelolaan benih, masyarakat dapat membangun sistem perbenihan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, sebanyak 27 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (KKN FBiPK UB) bersama dosen pembimbing Dr. Uma Khumairoh, S.P., M.Sc. dan Dr. Euis Elih Nurlaelih, S.P., M.Si. merintis Bank Benih Masyarakat di Desa Kemiri, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Program Kemandirian Benih Masyarakat ini merupakan kolaborasi pengabdian kepada masyarakat dosen dengan program KKN mahasiswa untuk memperkuat kemampuan warga dalam mengelola benih secara mandiri.

Membangun Kemandirian Benih Sejak Usia Dini
Program ini tidak hanya menyasar petani, tetapi juga melibatkan siswa sekolah dasar dan kelompok PKK. Pendekatan lintas generasi dipilih agar pengetahuan mengenai benih tumbuh sejak lingkungan sekolah, keluarga, hingga kelompok tani sehingga budaya menjaga dan memanfaatkan benih lokal dapat terus berlanjut.
Rangkaian kegiatan dimulai di SDN 1 Kemiri pada 21–22 Juli 2026. Mahasiswa mengenalkan berbagai jenis benih kacang-kacangan, ciri-ciri benih sehat, hingga tahapan pembibitan sederhana. Para siswa juga diajak mengenali daun dan pelepah pisang, bambu, batok kelapa, serta janur sebagai alternatif wadah semai yang lebih ramah lingkungan dibandingkan plastik.

Edukasi kemudian berlanjut bersama kelompok PKK Desa Kemiri di Balai Desa pada 22 Juli 2026. Materi difokuskan pada ketahanan pangan keluarga, teknik ekstraksi benih hortikultura, pengeringan, pengemasan, hingga penyimpanan benih. Melalui demonstrasi langsung, peserta mempelajari proses memperoleh benih dari buah terpilih hingga menyiapkannya untuk digunakan kembali pada musim tanam berikutnya. Mahasiswa juga memperkenalkan pemanfaatan batok kelapa sebagai wadah penyimpanan sederhana agar pengelolaan benih dapat dilakukan dengan biaya terjangkau dan mudah diterapkan di tingkat rumah tangga.

Bank Benih Jadi Ruang Belajar dan Ketahanan Pangan Desa
Penguatan kepada petani dilakukan melalui Sekolah Lapang Petani pada 26 Juli 2026 di kawasan persawahan Dusun Tempur. Sebanyak 41 petani mengikuti paparan, diskusi, dan tanya jawab bersama Syarifin Firdaus, S.P., M.Sc., Ph.D. mengenai teknik budidaya, penggunaan pestisida secara tepat, pengelolaan hama, serta pemanfaatan tanaman di pematang untuk menjaga keseimbangan agroekosistem.
Pada sesi praktik, mahasiswa mengenalkan kriteria benih bermutu, teknik pengeringan dan penyimpanan, serta membagikan 5.000 wadah semai organik berbahan daun dan gedebok pisang sebagai alternatif pengganti plastik. Peserta juga diperkenalkan pada label benih, logbook, dan kartu stok sebagai dasar pengelolaan Bank Benih Masyarakat agar asal, jumlah, kondisi, serta penggunaan benih terdokumentasi dengan lebih baik.

Program ini menunjukkan hasil yang positif. Berdasarkan evaluasi melalui pre-test dan post-test, sebanyak 56,7 persen pasangan jawaban peserta mengalami peningkatan atau menjadi lebih spesifik. Peningkatan pemahaman terutama terlihat pada aspek pemilihan dan penyimpanan benih, pemanfaatan bahan lokal sebagai media semai, penggunaan wadah alami, pestisida nabati, jerami sebagai mulsa, hingga pengolahan limbah organik.
Ke depan, Bank Benih Masyarakat diharapkan berkembang tidak hanya sebagai tempat penyimpanan benih, tetapi juga menjadi ruang belajar, pertukaran pengetahuan, dan pencatatan benih lokal. Keberlanjutan program memerlukan sinergi antara kelompok tani, pemerintah desa, penyuluh pertanian, dan perguruan tinggi agar benih yang dikelola tetap bermutu dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Kolaborasi dosen dan mahasiswa Universitas Brawijaya ini menjadi salah satu upaya memperkuat ketahanan pangan berbasis masyarakat melalui peningkatan kapasitas warga dalam mengelola benih secara mandiri. Program tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 15 (Ekosistem Daratan).(Din)














