Kanal24, Malang – Pada gelaran Pameran SUARASA Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut ASIA Malang yang digelar di Malang Creative Center (MCC) pada Senin – Sabtu (15-20/07/2024), ada dua stand yang turut serta memamerkan karyanya, yakni Ardeana Husnia Septa Maharani dan Yola Ananda Duval. Keduanya seperti para peserta lainnya menampilkan karya-karya inovatif mereka yang menunjukkan masa depan industri kreatif di Indonesia.

Ardeana Husnia Septa Maharani, salah satu peserta pameran, mempersembahkan karyanya berupa identitas merek untuk KBIT Nurul Fikri. Ardeana menjelaskan bahwa karya yang diuat adalah brand identity KBIT Nurul Fikri. Ia membuat brand identity karena dari KBIT ini belum memiliki logo yang konsisten, sehingga memerlukan sebuah logo untuk membangun brand image kepada masyarakat.
“Sebelumnya, logo yang dimiliki tidak konsisten dari segi warna dan bentuk. Jadi, butuh pengaplikasian logo yang lebih konsisten, seperti penggunaan warna biru, kuning, dan hijau. Dengan penggunaan warna yang konsisten, bisa membuat brand image dari sebuah sekolah tersebut meningkat,” terang Ardeana.

Ardeana juga menyampaikan pandangannya mengenai masa depan industri kreatif, khususnya di bidang Desain Komunikasi Visual (DKV). Menurutnya, “Industri kreatif ini nggak bisa disamakan sama seperti industri yang lain. Misalnya, ada AI kan sekarang ya. Industri kreatif ini lebih memerlukan sentuhan manusia. Jadi, meskipun ada perkembangan teknologi seperti AI, industri kreatif tetap memerlukan kreativitas manusia yang tidak bisa diprogram. Saya percaya, industri kreatif ini masih punya harapan besar untuk terus berkembang dan memiliki umur panjang.”
Sementara itu, Yola Ananda Duval menampilkan karya yang terinspirasi dari alat musik tradisional, Gendang, yang berasal dari Blitar. “Dari karya saya ini, saya mengambil objek gendang yang ada di Blitar. Kenapa saya mengambil itu? Karena di Blitar terkenal sekali dengan produsen-produsen pembuatan gendang. Tetapi masih banyak orang yang belum mengetahui detail tentang gendang tersebut, seperti alat pembuatannya, foto pembuatannya, atau buku tentang gendang itu sendiri. Jadi, saya ingin memperkenalkan lebih jauh tentang gendang ini,” jelas Yola.
Judul dari karyanya, “Berkumpul Bersama,” memiliki makna mendalam tentang kebersamaan dan budaya lokal. Yola juga memberikan pendapatnya bahwa DKV pastinya akan semakin berkembang. Untuk kebutuhan di masa depan, digital itu semakin dibutuhkan karena dapat menampung orang-orang kreatif.
“Saya yakin, kebutuhan akan DKV akan terus meningkat seiring perkembangan teknologi,” ujar Yola.
Yola juga memiliki rencana pengembangan lebih lanjut untuk karyanya. “Ini masih proses, nanti kalau ada kesalahan-kesalahan atau perbaikan yang perlu dilakukan, saya akan terus mengembangkannya,” tambah Yola.
Kedua karya tersebut mewakili karya-karya lain yang juga dipamerkan yang tidak hanya menunjukkan keterampilan dan kreativitas mahasiswa, tetapi juga mencerminkan optimisme mereka terhadap masa depan industri kreatif di Indonesia. Dengan dukungan teknologi dan semangat inovasi, bidang DKV diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi besar dalam berbagai sektor.
Pameran ini menjadi bukti bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi besar untuk membawa perubahan positif dan mengharumkan nama bangsa melalui kreativitas dan dedikasi mereka. Dengan semangat dan kerja keras, masa depan industri kreatif di Indonesia tampaknya cerah dan penuh dengan peluang. (nid/una)