Kanal24, Purwodadi – Kebun Raya Purwodadi mencatatkan prestasi dengan berhasil menumbuhkan salah satu spesies tanaman langka dan ikonis, Amorphophallus titanum, atau lebih dikenal dengan sebutan bunga bangkai. Fitra Agung Nugroho, Koordinator Departemen Hortikultura Kebun Raya Purwodadi, menjelaskan kepada Kanal24 pada Senin (14/10/2024) bahwa keberhasilan ini bukan hanya merupakan bagian dari penelitian hortikultura tetapi juga langkah besar dalam konservasi flora endemik Indonesia yang terancam punah.
Menurut Fitra, keberhasilan ini melibatkan proses aklimatisasi yang tidak sederhana, mengingat Amorphophallus Titanum berasal dari lingkungan aslinya di hutan Sumatera. “Karena kita mendatangkannya dari Sumatera, perlu adaptasi supaya dia mampu berkembang dengan baik di sini. Kami menjaga kelembaban tanah dan suhu sesuai dengan habitat asalnya,” tambahnya.

Purwodadi memiliki iklim yang cukup panas, mirip dengan kondisi hutan Sumatera, sehingga tanaman tidak menghadapi banyak kesulitan dalam penyesuaian. Meskipun begitu, perawatan khusus tetap diperlukan, terutama dalam menjaga kelembaban tanah agar sesuai dengan kondisi habitat alaminya.
Fitra menjelaskan, salah satu kunci keberhasilan aklimatisasi Amorphophallus titanum ini adalah menjaga kondisi tanah tetap lembab. “Penyiraman dilakukan secara rutin untuk menjaga kelembaban tanah, dan dalam satu bulan saja, kita sudah bisa melihat calon bunga muncul. Biasanya, butuh waktu hingga dua atau tiga bulan untuk bunga ini mekar, namun di sini hanya butuh waktu sebulan,” jelasnya.
Sebagai salah satu tanaman endemik Sumatera yang langka dan berukuran besar, Amorphophallus titanum menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung Kebun Raya Purwodadi. “Bunga ini merupakan salah satu dari sedikit tanaman yang memiliki ukuran sangat besar dan hanya ditemukan di satu wilayah endemik. Proses adaptasinya tergantung dari habitat aslinya, sehingga perlu perhatian khusus agar tanaman ini bisa tumbuh optimal,” jelas Fitra.
Menariknya, Amorphophallus titanum tumbuh di bawah tegangan atau tekanan lingkungan tertentu, seperti tanah yang memiliki kandungan asam tertentu atau kadar kelembaban khusus. “Tanaman ini unik, tumbuh dengan cara yang sangat berbeda dibanding tanaman lainnya,” kata Fitra. Menurutnya, kebanyakan Amorphophallus di habitat asli tumbuh dalam kondisi semi-kering, sehingga Kebun Raya Purwodadi perlu menyesuaikan kondisi lingkungan agar sesuai dengan habitat asalnya.
Keberhasilan Kebun Raya Purwodadi dalam menumbuhkan Amorphophallus titanum juga mencerminkan upaya konservasi tanaman yang berharga bagi ekosistem Indonesia. “Upaya konservasi ini menjadi bukti bahwa kita bisa menjaga tanaman endemik seperti Amorphophallus titanum agar tidak punah. Kini, tanaman ini sudah bisa tumbuh di beberapa tempat sebagai hasil dari program konservasi yang berkelanjutan,” tambah Fitra.
Sebagai tanaman endemik, keberadaan Amorphophallus titanum hanya ditemukan di daerah tertentu. Meski demikian, berkat upaya konservasi yang berhasil, tanaman ini kini tumbuh di beberapa daerah lain. Keberhasilan ini juga menjadi salah satu indikator penting keberhasilan konservasi botani di Indonesia.

Menurut Fitra, salah satu ancaman utama terhadap Amorphophallus titanum adalah perubahan habitat dan tekanan ekologis. “Habitat tanaman ini terancam oleh aktivitas manusia, dan karena itu, kita harus lebih serius menjaga dan mengembangkannya. Upaya seperti yang kita lakukan di sini diharapkan dapat memperpanjang keberlangsungan hidup tanaman ini di habitat yang mendekati aslinya,” pungkasnya.(nid/sil)