Kanal24, Malang – Kasus kekerasan seksual dan perundungan di lingkungan kampus kembali menjadi perhatian serius. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) pun menggelar Psikoedukasi Penguatan Internal Pencegahan Kekerasan Seksual dan Perundungan bagi mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan di Aula Lantai 2 Gedung A FIB UB, Rabu (21/5/2026).
Kegiatan ini menjadi upaya FIB UB meningkatkan kesadaran civitas akademika terhadap berbagai bentuk kekerasan yang masih sering dianggap sepele, mulai dari catcalling hingga bullying verbal di lingkungan kampus.
Baca Juga :
Taylor Swift Dibahas di Kuliah UB, Mahasiswa Diajak Bongkar Female Gaze
FIB UB Soroti Kasus Kekerasan Seksual dan Bullying di Kampus

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa FIB UB, Ismatul Khasanah mengatakan kasus kekerasan seksual dan perundungan masih banyak ditemukan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Karena itu, edukasi dinilai penting agar mahasiswa memahami bentuk-bentuk kekerasan yang kerap tidak disadari.
“Perlu kita ketahui bersama bahwa akhir-akhir ini banyak terjadi kekerasan seksual dan perundungan di kampus-kampus besar di Indonesia. Maka dari itu acara pencegahan ini perlu terus kita gaungkan agar semua aware,” ujarnya.
Menurutnya, kekerasan tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga verbal dan psikis yang dapat memengaruhi kenyamanan serta kesehatan mental korban.
Catcalling Dinilai Bukan Sekadar Candaan
Dalam kegiatan tersebut, Ismatul juga menyoroti masih maraknya tindakan catcalling yang sering dianggap bercanda oleh sebagian orang. Padahal, tindakan seperti siulan, komentar terhadap tubuh, hingga candaan bernada seksual sudah termasuk bentuk pelecehan verbal.
“Kadang masih dianggap bercanda, seperti disuit-suitin atau komentar soal fisik. Padahal itu sudah masuk kekerasan verbal dan sexual harassment,” jelasnya.
Ia berharap mahasiswa lebih memahami batasan dalam berinteraksi agar lingkungan kampus tetap aman dan nyaman bagi semua pihak.
DWP UB Dorong Pencegahan Kekerasan Seksual di Seluruh Fakultas
Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) UB, Rani Mariana Ulfa Widodo menilai psikoedukasi semacam ini perlu dilakukan secara rutin dan menyeluruh di setiap fakultas.
Menurutnya, pencegahan kekerasan seksual dan bullying tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen kampus.
“Saya berharap tidak hanya di FIB, tapi semua fakultas harus ada usaha pencegahan. Jadi mahasiswa bisa belajar dengan nyaman dan bebas dari perundungan maupun kekerasan seksual,” katanya.

Rani menambahkan, DWP UB bersama DWP Sahabat Kampus dan ULTKSP di masing-masing fakultas juga menyediakan layanan konseling bagi mahasiswa yang mengalami persoalan akademik, keluarga, maupun masalah sosial di lingkungan kampus.
Melalui kegiatan psikoedukasi ini, FIB UB berharap mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan semakin memahami pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang aman, sehat, dan bebas dari kekerasan seksual maupun bullying.
Selain meningkatkan kesadaran, kegiatan ini juga menjadi langkah preventif agar civitas akademika lebih berani melaporkan tindakan kekerasan serta mendukung terciptanya budaya saling menghormati di lingkungan perguruan tinggi. (ger)














