Kanal24, Malang – Derasnya pengaruh budaya dari luar membuat jati diri bangsa menghadapi tantangan yang tidak selalu terlihat. Di tengah kondisi tersebut, pengenalan kembali budaya menjadi penting agar generasi muda tidak kehilangan pijakan atas identitasnya sendiri.
Pesan itu disampaikan Prof. Iwan Triyuwono, SE., Ak., M.Ec., Ph.D. saat memaparkan karakter Brawijayan dalam pertunjukan wayang kontemporer Mutiara Kerang Kencana di Universitas Brawijaya (UB). Ia menjelaskan filosofi air, makna jiwa suci, hingga nilai-nilai yang menjadi dasar karakter Brawijayan.
Baca juga:
Wayang Kontemporer Mutiara Kerang Kencana Kenalkan Karakter Brawijayan di UB
Filosofi Air untuk Menghidupkan Kehidupan
Prof. Iwan mengibaratkan pertunjukan tersebut seperti pohon bakau yang menahan erosi di pantai. Namun, erosi yang dimaksud bukan hanya berkaitan dengan lingkungan, melainkan juga erosi budaya yang perlahan dapat membuat masyarakat melupakan budayanya sendiri.
“Sehingga boleh saya katakan bahwa pertunjukan ini merupakan semacam pohon bakau di pantai yang menahan erosi, erosi budaya yang sebetulnya ini masuk ke negara kita sehingga kita ini agak terlupa dengan budaya kita sendiri,” ujar Prof. Iwan.
Menurutnya, ketika sebuah bangsa melupakan jati dirinya, bangsa tersebut dapat menjadi lemah. Karena itu, pengenalan budaya perlu terus dilakukan, terutama kepada generasi muda.
Ia berharap mahasiswa dapat mengenal kembali budaya dan jati dirinya. Dengan begitu, generasi muda diharapkan mampu tumbuh menjadi bagian dari bangsa yang kuat dan bermanfaat bagi bangsa lain.
Dalam pemaparan karakter Brawijayan, Prof. Iwan menggunakan filosofi air sebagai salah satu dasar pemikiran. Air dipandang sebagai unsur penting bagi keberlangsungan kehidupan.
“Air itu adalah benda yang tanpa ada dia maka kehidupan ini akan mati. Oleh karena itu sangat tepat kalau kita akhirnya mengatakan bahwa filosofi air itu adalah filosofi menghidupkan kehidupan,” jelasnya.
Brawijaya dan Makna Jiwa Suci
Prof. Iwan menjelaskan istilah Brawijayan berasal dari kata Brawijaya yang mendapat tambahan akhiran “-an”. Menurutnya, akhiran tersebut menunjukkan penggunaan model Brawijaya dalam kehidupan.
Ia kemudian menjelaskan makna kata Brawijaya. “Bra” disebut berasal dari kata batara yang dimaknai sebagai jiwa yang suci, sedangkan “waya” berarti menang. Dari pemaknaan tersebut, ia menekankan jiwa suci sebagai kunci utama karakter Brawijayan.
“Artinya apa? Setiap jiwa yang suci pasti dia akan menang. Ya. Ah, jadi kata kunci kita di sini adalah jiwa suci,” katanya.
Konsep tersebut tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa. Prof. Iwan menyebut dosen, pimpinan, tenaga kependidikan, dan seluruh sivitas akademika juga dapat menjadikan penyucian diri sebagai bagian dari proses kehidupan.
Ia menjelaskan bahwa jiwa manusia pada dasarnya sudah suci. Namun, kesucian tersebut dapat tertutup oleh berbagai hal yang muncul dalam kehidupan manusia.
Ego, luka batin, angkara murka, pikiran ilusif, dosa, hingga kuasa gelap disebut dapat menutupi jiwa yang asli. Karena itu, penyucian diri diperlukan agar karakter yang menjadi fitrah manusia kembali muncul.
“Yang asli itu adalah suci. Oleh karena itu, kita harus melakukan penyucian diri sehingga karakter yang menjadi fitrah kita itu muncul dan kita bisa berkiprah untuk menghidupi kehidupan ini,” tutur Prof. Iwan.
Sebelas Karakter Bentuk Pribadi Brawijayan
Dari konsep jiwa suci tersebut, Prof. Iwan menjelaskan tiga karakter utama yang menjadi dasar Brawijayan, yakni ilahi, suci, dan cinta. Ketiganya kemudian berkembang menjadi 11 karakter Brawijayan.
Sejumlah karakter yang disebut dalam pemaparannya meliputi tangguh, taktis, wiracipta, toleran, wibawa, visioner, dan loyal. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari karakter yang diharapkan tumbuh dalam pribadi warga UB.
Menurut Prof. Iwan, keseluruhan karakter tersebut berkaitan dengan karakter para raja Majapahit dan karakter Brawijaya. Karena itu, nilai Brawijayan diharapkan tidak berhenti sebagai identitas, tetapi berkembang menjadi karakter pribadi.
“Harapannya adalah bahwa Anda yang kuliah di UB itu memiliki karakter dari Brawijaya dan karakter itu ada 11 yang nanti bisa Anda kultifikasi menjadi karakter dari pribadi-pribadi Anda,” ujarnya.
Ia menegaskan, karakter Brawijayan tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa. Nilai tersebut juga ditujukan kepada seluruh elemen di lingkungan UB.
Pengenalan karakter Brawijayan menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas warga Brawijaya. Melalui filosofi air dan konsep jiwa suci, nilai tersebut diharapkan dapat menjadi pijakan bagi sivitas akademika untuk membangun pribadi yang kuat sekaligus memberi manfaat bagi bangsa. (ern)














