Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) menjajaki kerja sama dengan sejumlah institusi pendidikan dan riset di Qatar. Penjajakan ini diarahkan untuk memperkuat kolaborasi di bidang ketahanan pangan, ketersediaan air, pengelolaan lahan kering, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM).
Sejumlah institusi menjadi sasaran penjajakan, di antaranya Hamad Bin Khalifa University (HBKU), University of Doha for Science and Technology (UDST), Qatar University, Qatar Foundation, dan Kedutaan Besar. Kerja sama yang dirancang tidak hanya berorientasi pada kesepakatan kelembagaan, tetapi juga mendorong lahirnya proyek bersama yang memberi manfaat konkret bagi kedua pihak.
Baca juga:
UB Dorong Sampah Plastik Diolah Jadi Produk Bernilai Ekonomi
Riset Pangan dan Air Jadi Titik Temu
Qatar menghadapi tantangan dalam pengembangan pertanian di wilayah lahan kering dan penyediaan air bersih. Persoalan tersebut menjadi salah satu ruang kolaborasi yang relevan dengan kapasitas keilmuan UB.
Melalui Qatar Environment and Energy Research Institute (QEERI), HBKU mengembangkan berbagai riset, mulai dari desalinasi, pertanian lahan kering, pengolahan sampah menjadi protein pakan ternak, energi surya, hingga isu kualitas udara dan pangan.
Peluang tersebut sejalan dengan kekuatan UB yang memiliki 18 fakultas, termasuk Pertanian, Teknologi Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Ilmu Kelautan, Kedokteran Hewan, Teknik, serta Ilmu Komputer.
UB juga memiliki lebih dari 40 pusat riset dan inovasi yang bergerak di berbagai bidang, seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), genomik, ekonomi sirkular, dan kendaraan listrik. Kapasitas tersebut menjadi modal untuk membangun kolaborasi riset lintas negara.
Keahlian UB di bidang pertanian, kelautan, dan kedokteran hewan juga dinilai relevan untuk mendukung agenda ketahanan pangan Qatar. Kolaborasi dapat diarahkan pada pengembangan riset dan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan wilayah tersebut.
Pendidikan Terapan Perkuat SDM
Selain pangan dan air, pengembangan SDM menjadi bagian penting dalam penjajakan kerja sama. Qatar mendorong warga asli negara tersebut agar dapat berperan lebih aktif dalam perekonomian nasional. Pendidikan terapan menjadi salah satu fondasi dalam agenda tersebut.
University of Doha for Science and Technology (UDST) menjadi salah satu institusi yang berpotensi dikolaborasikan dengan UB. UDST ditetapkan pada 2022 sebagai universitas nasional pertama Qatar yang berfokus pada pendidikan terapan dan profesional.
Kerja sama dengan UDST diarahkan pada sejumlah agenda, seperti visiting lecturer atau pertukaran dosen, pertukaran mahasiswa, proyek berbasis Sustainable Development Goals (SDGs), riset bersama, hingga pengembangan sertifikasi melalui Training of Trainers (ToT) dan sertifikasi global.
Pengembangan AI, keamanan siber, dan teknologi digital juga menjadi bagian dari kebutuhan Qatar. Teknologi tersebut diharapkan dapat mendukung layanan kesehatan, ketahanan air, serta ketahanan pangan.
Bagi UB, kebutuhan tersebut menjadi peluang untuk memperluas jejaring akademik internasional. Skema internasional UB telah mencakup lebih dari 700 program gelar ganda serta sejumlah program seperti Visiting Lecturer dan 3 in 1.
Kolaborasi riset dengan Qatar juga telah berjalan. Pada 2024–2025, UB tercatat memiliki tujuh publikasi bersama Qatar University dan Weill Cornell Medicine-Qatar. Rekam jejak tersebut menjadi modal untuk memperluas riset, publikasi, dan mobilitas akademik kedua pihak.
Bangun Kepercayaan Lewat Pendidikan dan Budaya
Penjajakan UB dengan Qatar tidak hanya diarahkan pada kerja sama akademik. Aspek soft diplomacy juga menjadi bagian dari pendekatan untuk membangun hubungan kedua pihak.
UB dan Qatar memiliki kesamaan motivasi dalam menjaga budaya asli bangsa. Karena itu, pendekatan kerja sama akan dimulai dengan membangun kepercayaan melalui pendidikan dan budaya.
Salah satu agenda yang direkomendasikan adalah partisipasi UB dalam Qatar Education Expo 2027. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat jejaring sebelum dilanjutkan dengan aktivitas bersama dalam skala yang lebih kecil dan kemudian diperkuat melalui nota kesepahaman atau MoU.
Pendekatan tersebut sejalan dengan harapan HBKU agar proyek bersama dapat berjalan terlebih dahulu sebelum MoU ditetapkan sebagai payung formal kerja sama.
Bagi UB, kolaborasi ini diharapkan membuka akses terhadap laboratorium kelas dunia, jejaring publikasi, dan sertifikasi profesional global. Sementara bagi Qatar, keahlian UB di bidang pertanian, kelautan, dan kedokteran hewan dapat mendukung ketahanan pangan serta pengembangan SDM nasional.
Sejumlah agenda konkret juga telah dipetakan berdasarkan institusi yang dikunjungi. Kedutaan Besar diarahkan untuk mendukung diplomasi dan jejaring kelembagaan UB–Qatar, termasuk korespondensi, protokol, serta partisipasi pada Qatar Education Expo 2027.
Qatar Foundation berpotensi menjadi mitra dalam penguatan jejaring pendidikan dan riset melalui ekosistem Education City. Sementara HBKU diarahkan pada joint research berbasis proyek, mobilitas mahasiswa, serta pengembangan riset di bidang energi, air, pangan, AI, dan warisan budaya.
Adapun Qatar University berpeluang memperluas riset kesehatan global dan pertanian yang sebelumnya telah menghasilkan publikasi bersama. Agenda lanjutan mencakup joint research, publikasi, mobilitas mahasiswa, dan visiting lecturer.
Penjajakan ini menunjukkan bahwa hubungan UB dan Qatar diarahkan tidak berhenti pada seremoni. Riset bersama, mobilitas akademik, penguatan pendidikan, dan pengembangan SDM menjadi jalur yang diproyeksikan untuk membangun kerja sama yang lebih konkret dan berkelanjutan. (ern)














