Kanal24, Taipei — Di tengah meningkatnya isu kesehatan mental pekerja migran Indonesia, langkah nyata dilakukan oleh tim dosen Psikologi Universitas Brawijaya (UB) melalui Program Dosen Berkarya (Dokar) 2025. Kegiatan internasional yang digelar di Taiwan ini menyoroti urgensi kesejahteraan psikologis bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan memperluas jejaring akademik global lewat kerja sama dengan National Taiwan University (NTU).
Program yang berlangsung pada 26 September hingga 1 Oktober 2025 ini menggabungkan dua agenda besar: pelatihan manajemen stres dan regulasi emosi bagi PMI di Komisi Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei, serta kunjungan akademik ke NTU untuk menjajaki kerja sama riset dan pengajaran lintas kampus.
Penguatan Kesejahteraan Psikologis PMI
Sebanyak 30 PMI mengikuti pelatihan bertajuk “Enhancing Subjective Well-Being Through Stress Management Skill: Psychoeducation for Indonesia Migrant Worker”. Program ini dirancang dalam kerangka PRIMA (Psychoeducation for Indonesia Migrant Worker Adjustment) dengan tujuan membantu peserta memahami sumber stres, mengenali respons emosional, dan menguasai keterampilan praktis dalam mengelola tekanan hidup di luar negeri.
Pelatihan disusun dengan pendekatan psikoedukatif reflektif—menggabungkan ceramah interaktif, sesi berbagi pengalaman, latihan pernapasan, teknik grounding, refleksi diri, dan praktik kebersyukuran. Suasana pelatihan dibuat hangat dan partisipatif agar peserta merasa nyaman untuk membuka diri.
“Kesehatan mental pekerja migran sering kali terabaikan, padahal sangat penting untuk mendukung produktivitas dan kebahagiaan mereka. Melalui pelatihan ini, kami ingin membekali mereka dengan cara sederhana namun efektif untuk mengelola stres,” ujar Yuli Rahmawati, S.Psi., M.Psi., Psikolog, ketua tim dosen Psikologi UB.
Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Kepala KDEI Taipei, Arif Sulistiyo, yang menilai kegiatan tersebut sangat relevan dengan kebutuhan psikososial PMI.
“PMI menghadapi berbagai tantangan psikologis seperti tekanan kerja dan kerinduan terhadap keluarga. Kegiatan dari Universitas Brawijaya ini memberikan manfaat nyata bagi mereka,” tuturnya.
Tim dosen pengabdi terdiri dari Yuli Rahmawati, Fatiya Halum Husna, Ziadatul Hikmiah, dan Elmy Bonafita Zahro, dosen Psikologi UB yang aktif meneliti intervensi psikologis berbasis komunitas.

Kolaborasi Akademik dengan National Taiwan University
Selain melatih PMI, tim UB juga mengunjungi National Taiwan University (NTU) untuk memperkuat kolaborasi akademik. Mereka diterima oleh Prof. Yen-Nan Chiu dan Counselor Pin-Han Chen dari Student Counseling Center NTU.
Pertemuan membahas best practice layanan konseling mahasiswa dan dukungan psikologis bagi mahasiswa disabilitas. Tim UB memperoleh wawasan baru tentang sistem layanan psikologis yang inklusif dan terintegrasi di NTU.
“Kami banyak belajar dari NTU tentang bagaimana dukungan psikologis bisa dikelola secara kolaboratif dan berbasis inklusivitas. Hal ini akan menjadi inspirasi dalam pengembangan layanan konseling di UB,” ujar Fatiya Halum Husna, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Diskusi kedua pihak menghasilkan rencana kerja sama jangka panjang, meliputi joint research, kuliah tamu lintas kampus, serta pengabdian masyarakat internasional bersama dengan fokus pada isu kesejahteraan psikologis lintas budaya.
Psikologi UB Perkuat Jejak Global
Kegiatan ini mempertegas langkah UB dalam memperluas pengabdian dan kolaborasi global melalui Program Dosen Berkarya 2025.
“Kolaborasi lintas negara ini tidak hanya membuka peluang riset, tetapi juga memastikan bahwa ilmu psikologi hadir untuk memberi dampak nyata bagi manusia di berbagai konteks,” ujar Ziadatul Hikmiah, S.Pd., S.Psi., M.Sc.
Melalui sinergi antara akademisi, praktisi, dan komunitas internasional, Universitas Brawijaya terus menguatkan perannya dalam menjembatani pengetahuan dan kemanusiaan — menjadikan psikologi bukan sekadar ilmu, tetapi juga jembatan empati dan perubahan sosial.(Din)














