Kanal24, Malang – Ekonomi Iran kembali menghadapi tekanan berat setelah Amerika Serikat memperluas kampanye sanksi terhadap jaringan keuangan yang dianggap membantu pemerintah Teheran. Tekanan tersebut datang ketika nilai rial terpuruk, inflasi melonjak, dan ekspor minyak Iran terganggu akibat situasi keamanan di Selat Hormuz.
Amerika Serikat meluncurkan Operation Economic Outcast pada 24 Agustus 2026. Departemen Keuangan AS menyebut operasi tersebut bertujuan memutus jalur keuangan yang menopang pemerintah Iran dan pihak-pihak yang membantu Teheran menghindari sanksi. Pada 28 Agustus, Washington kembali mengambil langkah terhadap Banque Misr UAE dan sejumlah pihak yang disebut terkait jaringan keuangan Iran.
Baca juga:
Kurangi Limbah Keju, Mahasiswa UB Kembangkan Pelapis Alami Buah dan Sayur
Rial Anjlok, Inflasi Makin Menekan
Tekanan terhadap ekonomi Iran tidak berhenti pada sektor keuangan.

Nilai rial telah jatuh hingga lebih dari 2 juta rial untuk satu dolar AS. Bank Sentral Iran menyebut inflasi mencapai 66 persen pada Juli 2026, sementara pemerintah menghadapi tekanan besar untuk menjaga stabilitas pasar valuta asing.
Kondisi tersebut membuat persoalan ekonomi terasa langsung di tingkat masyarakat. Pelemahan mata uang membuat barang impor semakin mahal, sementara kenaikan harga kebutuhan pokok menggerus daya beli.
Angka inflasi akhirnya bukan sekadar statistik yang muncul dalam laporan ekonomi.
Bagi masyarakat, angka tersebut berarti harga makanan lebih mahal, pengeluaran rumah tangga semakin besar, dan kemampuan membeli kebutuhan sehari-hari semakin terbatas.
Minyak Iran Ikut Terpukul
Masalah semakin rumit karena ekspor minyak merupakan salah satu sumber penting pemasukan Iran.
Reuters melaporkan pengiriman minyak mentah Iran mengalami penurunan drastis. Volume pemuatan minyak yang sebelumnya sekitar 2 juta barel per hari pada Maret turun menjadi sekitar 220 ribu hingga 255 ribu barel per hari pada Agustus. Gangguan tersebut berkaitan dengan situasi di Selat Hormuz yang menghambat pergerakan kapal tanker.
Kondisi ini menjadi pukulan besar bagi Iran karena minyak merupakan sumber penting valuta asing.
Ketika ekspor tersendat, pemasukan dolar ikut tertekan. Pada saat yang sama, kebutuhan terhadap valuta asing tetap tinggi untuk mendukung perdagangan dan menjaga kestabilan mata uang.
Di sinilah tekanan ekonomi mulai membentuk lingkaran yang sulit diputus.
Ekspor turun, pemasukan berkurang, rial melemah, lalu harga barang semakin sulit dikendalikan.
Sanksi AS Menyasar Jalur Keuangan
Washington tidak hanya menyasar perusahaan atau individu di Iran.
Melalui Operation Economic Outcast, Departemen Keuangan AS juga membidik jaringan keuangan di luar Iran yang dianggap membantu Teheran memindahkan uang, menjual minyak, atau menghindari pembatasan ekonomi.
Pada 28 Agustus, AS mengumumkan langkah terhadap Banque Misr UAE, termasuk rencana mencabut akses bank tersebut terhadap layanan correspondent banking di Amerika Serikat. Washington juga menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah individu dan entitas yang disebut terkait jaringan keuangan Iran.
Strategi ini menunjukkan perubahan pendekatan.
Tekanan tidak hanya diarahkan kepada Iran, tetapi juga kepada pihak ketiga yang masih menjadi jalur perdagangan dan keuangan Teheran.
Bagi perusahaan atau lembaga keuangan internasional, kondisi tersebut menciptakan dilema baru: tetap berbisnis dengan Iran atau menghindari risiko terkena sanksi Amerika Serikat.
China Jadi Salah Satu Kunci
Di tengah tekanan tersebut, China menjadi faktor penting bagi kemampuan Iran mempertahankan perdagangan minyak.
China selama beberapa tahun terakhir menjadi pembeli utama minyak Iran. Karena itu, kemampuan Teheran mempertahankan akses ke pasar China menjadi sangat penting ketika jalur perdagangan dan sistem keuangan Iran semakin dibatasi.
Namun, ketergantungan tersebut juga memiliki risiko.
Jika pengiriman minyak semakin sulit dan akses terhadap sistem keuangan internasional terus menyempit, Iran harus mencari jalur alternatif untuk mempertahankan perdagangan.
Reuters mencatat Iran masih memiliki aktivitas ekspor melalui mekanisme yang lebih rumit, tetapi gangguan terhadap pengiriman minyak membuat kemampuan tersebut semakin tertekan.
Dengan kata lain, sanksi AS tidak serta-merta membuat perdagangan Iran berhenti.
Tetapi biaya untuk tetap berdagang menjadi semakin mahal dan rumit.
Iran Bantah Ekonominya Kolaps
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah Iran berusaha menunjukkan bahwa kondisi ekonomi masih dapat dikendalikan.
Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati mengatakan Iran masih memiliki cadangan valuta asing yang cukup. Bank sentral juga menyatakan siap menggelontorkan hingga US$2 miliar ke pasar valuta asing untuk meredam gejolak.
Hemmati mengakui sanksi dan blokade telah menciptakan kesulitan ekonomi, tetapi menegaskan Iran belum mengalami keruntuhan ekonomi.
Pernyataan tersebut menjadi penting karena narasi mengenai kondisi Iran kini datang dari dua sisi.
Washington menggambarkan tekanan ekonomi sebagai bagian dari upaya memutus sumber pendapatan pemerintah Iran. Sementara Teheran berusaha meyakinkan pasar dan masyarakat bahwa negara masih memiliki kemampuan bertahan.
Namun, persoalan di lapangan tetap tidak mudah diselesaikan hanya dengan pernyataan optimistis.
Benarkah Semua Gara-Gara Sanksi?
Ada satu asumsi yang perlu dipertanyakan: bahwa krisis ekonomi Iran sepenuhnya disebabkan oleh sanksi Amerika Serikat.
Sanksi jelas memberikan tekanan besar. Akses terhadap sistem keuangan internasional semakin terbatas, sementara ekspor minyak menghadapi hambatan serius.
Namun, persoalan ekonomi Iran juga berkaitan dengan masalah internal seperti lemahnya pengelolaan ekonomi, korupsi, penyelundupan, dan ketergantungan terhadap pendapatan minyak.
Departemen Keuangan AS sendiri sebelumnya menuduh adanya jaringan keuangan informal dan praktik penyelundupan yang digunakan untuk memindahkan dana Iran.
Karena itu, melihat krisis Iran hanya dari satu sisi juga kurang lengkap.
Sanksi bisa mempersempit ruang gerak, tetapi persoalan internal menentukan seberapa kuat sebuah negara mampu bertahan ketika tekanan dari luar semakin besar.
Dampaknya Mulai Menjalar ke Dunia
Krisis Iran juga tidak sepenuhnya menjadi persoalan domestik.
Gangguan di Selat Hormuz memengaruhi pasar energi dunia karena kawasan tersebut merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak. Ketegangan terbaru bahkan mendorong harga minyak Brent menembus sekitar US$94,65 per barel pada 1 September 2026.
Kenaikan harga minyak kemudian berpotensi membawa efek berantai ke negara lain.
Biaya energi dapat meningkat, biaya transportasi ikut terdorong, dan tekanan inflasi global kembali muncul.
Artinya, konflik dan tekanan ekonomi terhadap Iran tidak berhenti di perbatasan negara tersebut.
Ketika jalur minyak terganggu, negara yang bahkan tidak terlibat langsung dalam konflik pun bisa ikut merasakan dampaknya melalui harga energi.
Iran di Persimpangan Sulit
Iran kini menghadapi persoalan yang saling berkaitan: mata uang melemah, inflasi tinggi, ekspor minyak terganggu, dan tekanan terhadap jaringan keuangan semakin kuat.
Di sisi lain, pemerintah masih berusaha mempertahankan perdagangan melalui mitra seperti China serta menggunakan cadangan valuta asing untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah Iran mampu bertahan menghadapi satu putaran sanksi baru.
Persoalan yang lebih besar adalah berapa lama ekonomi Iran mampu menanggung tekanan berlapis tanpa membuat beban tersebut semakin berat bagi masyarakatnya sendiri.
Sebab pada akhirnya, perang ekonomi tidak hanya berlangsung di ruang diplomasi atau pasar minyak. (ern)













