Kanal24, Malang – Dunia kembali menaruh perhatian pada fenomena El Niño. Badan Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) memperingatkan bahwa fenomena iklim tersebut diperkirakan berkembang semakin kuat pada periode Juli hingga September 2026, sehingga meningkatkan risiko berbagai cuaca ekstrem di banyak negara. Mulai dari gelombang panas, kekeringan, kebakaran hutan, hingga hujan lebat di wilayah tertentu diperkirakan lebih berpotensi terjadi apabila El Niño terus menguat.
Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengingatkan perlunya kesiapsiagaan lintas sektor. Meski dampaknya tidak akan sama di setiap daerah, sebagian wilayah diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Lalu, apa sebenarnya El Niño dan mengapa fenomena ini menjadi perhatian dunia?
Apa Itu El Niño?
El Niño merupakan bagian dari siklus iklim global yang dikenal sebagai El Niño-Southern Oscillation (ENSO). Fenomena ini terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat dari kondisi normal.
Pemanasan tersebut mengubah pola sirkulasi atmosfer yang selama ini mengatur distribusi hujan di berbagai belahan dunia. Akibatnya, ada wilayah yang mengalami curah hujan jauh lebih tinggi, sementara wilayah lain justru menghadapi musim kering yang lebih panjang. Fenomena ini umumnya muncul setiap dua hingga tujuh tahun dan dapat berlangsung sekitar sembilan hingga dua belas bulan.
Meski sering dikaitkan dengan perubahan iklim, El Niño merupakan fenomena iklim alami. Namun, ketika terjadi bersamaan dengan tren pemanasan global, dampaknya dapat terasa lebih besar di berbagai negara.
Mengapa Dunia Mulai Waspada?
WMO menyebut El Niño tahun ini berpotensi berkembang cepat pada periode Juli hingga September. Kondisi tersebut meningkatkan kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem di berbagai kawasan dunia.
Di sejumlah negara, El Niño dapat memicu kekeringan berkepanjangan yang mengganggu produksi pangan dan ketersediaan air. Di wilayah lain, fenomena yang sama justru meningkatkan peluang hujan lebat dan banjir akibat perubahan pola atmosfer global.
Karena dampaknya menjangkau banyak sektor, mulai dari pertanian, energi, kesehatan hingga ekonomi, berbagai negara mulai memperkuat sistem mitigasi dan kesiapsiagaan sejak dini.
Bagaimana Dampaknya bagi Indonesia?
BMKG menegaskan Indonesia tidak akan mengalami dampak yang seragam. Namun secara umum, musim kemarau tahun 2026 diperkirakan datang lebih awal di sejumlah wilayah dan memiliki karakter yang lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis. Sebagian besar zona musim diproyeksikan berada pada kategori bawah normal, yang berarti curah hujan lebih rendah daripada biasanya.
Wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan antara lain Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan, karena berpotensi mengalami curah hujan di bawah normal pada periode Juli hingga Oktober.
Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa kondisi cuaca Indonesia juga dipengaruhi faktor lain seperti monsun dan dinamika Samudra Hindia. Karena itu, dampak El Niño dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Sektor Apa yang Paling Terdampak?
Apabila El Niño berkembang sesuai prediksi, beberapa sektor diperkirakan menghadapi tekanan lebih besar.
Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling rentan karena berkurangnya curah hujan dapat memengaruhi pola tanam dan produktivitas berbagai komoditas pangan. Di sisi lain, ketersediaan air baku untuk rumah tangga maupun irigasi juga perlu diantisipasi apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.
Risiko kebakaran hutan dan lahan juga berpotensi meningkat, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut atau vegetasi yang mudah mengering selama musim kemarau. Selain itu, sektor kesehatan dapat menghadapi peningkatan kasus penyakit yang berkaitan dengan suhu panas, dehidrasi, maupun kualitas udara apabila terjadi kebakaran hutan.
Baik WMO maupun BMKG menekankan bahwa prediksi El Niño bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan menjadi dasar pengambilan langkah antisipasi sejak dini.
Pemerintah, pelaku usaha, petani, hingga masyarakat diimbau mulai menyiapkan strategi adaptasi sesuai karakteristik wilayah masing-masing. Pengelolaan air yang lebih efisien, penyesuaian pola tanam, kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan, hingga pemantauan informasi cuaca secara berkala menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko apabila El Niño terus menguat dalam beberapa bulan mendatang.(din)













