Kanal24, Malang – Pengembangan kendaraan listrik tidak hanya bergantung pada kemampuan baterai dan motor penggerak, tetapi juga pada bagaimana sumber energi dapat dimanfaatkan secara optimal. Tantangan tersebut mendorong mahasiswa untuk mengembangkan inovasi yang menggabungkan sistem kelistrikan, teknologi energi, dan rekayasa kendaraan dalam satu rancangan.
Tim micro EV Elektroformula Brawijaya dari Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FTUB) mengembangkan kendaraan listrik dengan memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi pendukung. Prototipe tersebut diperkenalkan dalam peluncuran kendaraan Elektroformula Brawijaya di Lobby Dekanat FTUB, Selasa (27/10/2026), sebagai bagian dari persiapan menghadapi PLN ICE 2026.
Baca Juga:
FT UB Padukan Bakti Sosial dan Edukasi Hunian Lahan Terbatas
Panel Surya Jadi Fokus Pengembangan Micro EV
Perwakilan tim micro EV, Marshallyndra Restra Diandri, menjelaskan bahwa optimalisasi energi menjadi salah satu fokus utama pengembangan kendaraan tersebut. Tim memanfaatkan teknologi photovoltaic (PV) atau panel surya untuk mendukung pemanfaatan energi pada kendaraan listrik.

Melalui pendekatan tersebut, tim berharap penggunaan energi dari baterai dapat menjadi lebih efisien sehingga mendukung durasi pemakaian kendaraan. Integrasi panel surya juga menjadi upaya mahasiswa untuk mengeksplorasi pemanfaatan sumber energi alternatif dalam pengembangan kendaraan listrik.
Dekan FTUB, Prof. Ir. Hadi Suyono, S.T., M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng., menjelaskan bahwa micro EV yang dikembangkan mahasiswa memiliki pendekatan berbeda dari kendaraan gokart listrik. Micro EV diarahkan pada rancangan kendaraan yang berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, sedangkan gokart lebih berorientasi pada performa kompetisi.
Hadi juga menjelaskan bahwa pengembangan micro EV mengombinasikan baterai dengan sumber energi lain, termasuk panel surya. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa mengembangkan sistem kendaraan listrik yang sesuai dengan kebutuhan dan rancangan mereka.
Tantangan Manufaktur di Luar Bidang Kelistrikan
Meski berangkat dari kompetensi Teknik Elektro, pengembangan micro EV menuntut mahasiswa mempelajari aspek manufaktur kendaraan. Marshallyndra mengungkapkan bahwa proses pembuatan sasis, bodi, dan komponen mekanis menjadi tantangan karena tidak seluruhnya termasuk dalam bidang keahlian awal anggota tim.
Mahasiswa harus mempelajari aspek tersebut agar sistem kelistrikan yang dikembangkan dapat terintegrasi dengan konstruksi kendaraan. Proses ini membutuhkan pemahaman lintas bidang, mulai dari perancangan hingga pengerjaan komponen yang mendukung fungsi kendaraan secara keseluruhan.
Tantangan tersebut sekaligus menjadi bagian dari pembelajaran berbasis proyek. Mahasiswa tidak hanya menerapkan teori yang diperoleh di perkuliahan, tetapi juga belajar menghadapi persoalan teknis selama proses pengembangan.
Menurut Hadi, kegiatan Elektroformula memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan melalui desain menggunakan perangkat lunak, pengerjaan komponen elektronik, dan aspek mekanikal. Pengalaman tersebut diharapkan memperkuat keterampilan teknis sekaligus kemampuan bekerja dalam tim.
Bidik Podium di PLN ICE 2026
Pengembangan micro EV menjadi bagian dari persiapan Elektroformula Brawijaya menghadapi PLN ICE 2026. Marshallyndra menyampaikan bahwa peluncuran kendaraan bertujuan memperlihatkan perkembangan proyek kepada pihak-pihak yang selama ini mendukung tim, termasuk dosen, fakultas, universitas, dan sponsor.
Tim menargetkan podium pada salah satu kategori yang diikuti. Untuk mencapai target tersebut, penyempurnaan kendaraan menjadi pekerjaan penting, terutama pada aspek manufaktur dan optimalisasi energi.
Pengembangan micro EV juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memperluas kemampuan rekayasa kendaraan listrik. Proses perancangan, pengerjaan komponen, dan pengembangan sistem energi memberikan pengalaman yang dapat digunakan untuk menghadapi tantangan teknologi berikutnya.
Melalui proyek ini, Elektroformula Brawijaya berupaya menghubungkan pembelajaran akademik dengan penerapan teknologi. Keberhasilan pengembangan kendaraan nantinya tidak hanya diukur dari hasil kompetisi, tetapi juga dari kemampuan mahasiswa memahami dan menyempurnakan teknologi yang mereka rancang.(ffn)














