KANAL24, Malang — Upaya mewujudkan desa yang mandiri secara ekonomi sekaligus ramah lingkungan kini mulai bergulir di Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Tim dosen UB yang diketuai Dr.rer.pol. Ferry Prasetyia, S.E., M.App.Ec., melaksanakan program pengabdian masyarakat dengan tema “Green BUMDesa: Inovasi Ekonomi Hijau untuk Pengembangan Berkelanjutan Desa Ngijo Kabupaten Malang” melalui Skema Doktor Mengabdi yang didanai Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat UB.
Kegiatan pelatihan dan pendampingan dilaksanakan pada Sabtu, 20 September 2025, bertempat di kantor BUMDesa Bumiwangi Ngijo, Jl. Raya Ngijo No. 01, Kedawung, Karangploso. Kegiatan ini menyasar para pengelola BUMDesa, aparat pemerintah Desa Ngijo, serta perwakilan masyarakat dan pelaku usaha lokal yang terlibat langsung dalam pengembangan potensi desa.
Berjarak 25 menit dari kampus UB, BUMDesa Bumiwangi Ngijo menyimpan potensi besar berupa panorama pegunungan yang asri, udara sejuk, serta kekayaan budaya lokal yang otentik. Sektor pariwisata, kuliner, dan hiburan menjadi tulang punggung aktivitas ekonominya. Namun potensi besar itu belum sepenuhnya tergali.
Dr. Ferry Prasetyia menjelaskan bahwa temuan di lapangan menunjukkan tiga persoalan mendasar yang masih membelit pengelolaan BUMDesa tersebut. “Pengelola BUMDesa belum memiliki pemahaman yang cukup tentang prinsip ekonomi hijau, kapasitas sumber daya manusianya masih terbatas, dan pemanfaatan sumber daya alam di sini masih cenderung eksploitatif tanpa perencanaan jangka panjang,” ujarnya.
Kondisi itulah yang mendorong tim pengabdian yang terdiri dari lintas fakultas, yakni FEB, FIA, dan FT UB untuk hadir membawa solusi nyata berbasis pendekatan green economy dan ekonomi sirkular.

Dalam sesi pelatihan yang berlangsung penuh semangat itu, para peserta diajak memahami konsep dasar ekonomi hijau dan Green BUMDesa melalui enam modul yang telah disusun khusus oleh tim pengabdi. Mulai dari pemetaan potensi sumber daya alam Desa Ngijo, inovasi produk ramah lingkungan berbahan baku lokal, manajemen operasional dan keuangan, pemasaran digital, hingga strategi membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Salah satu materi yang menarik perhatian peserta adalah sesi workshop pengolahan sampah menjadi produk bernilai ekonomi. Peserta diperkenalkan pada teknik komposting dari limbah organik dapur dan pertanian, pembuatan ecobrick, hingga ide inovatif mengemas kuliner khas Ngijo menggunakan daun pisang dan besek bambu sebagai pengganti plastik dan styrofoam.
“Kami ingin pengelola BUMDesa tidak hanya memikirkan keuntungan hari ini, tapi juga bagaimana menjaga alam agar tetap bisa dinikmati anak cucu. Itu inti dari ekonomi hijau,” kata Dr. Alfi Haris Wanto, S.A.P., M.A.P., MMG., salah satu anggota tim pengabdian dari Fakultas Ilmu Administrasi UB.
Program ini merupakan kolaborasi lintas disiplin dan lintas pihak. Selain empat dosen dari FEB, FIA, dan FT UB, turut dilibatkan lima mahasiswa UB sebagai agen perubahan di lapangan. Mereka bertugas membantu penyusunan materi pelatihan, pendampingan langsung kepada masyarakat, hingga pengembangan konten promosi digital bagi BUMDesa.
Di sisi mitra, BUMDesa Bumiwangi Ngijo berperan aktif dalam implementasi operasional program, sementara Pemerintah Desa Ngijo memberikan dukungan kebijakan dan fasilitasi infrastruktur. Masyarakat desa pun turut dilibatkan dalam musyawarah perencanaan, memberikan masukan sesuai kebutuhan dan potensi lokal yang mereka pahami lebih baik dari siapa pun.
Kegiatan September 2025 ini bukan titik akhir, melainkan bagian dari peta jalan (road map) pengabdian yang telah dirintis sejak dua tahun sebelumnya. Pada tahun-tahun sebelumnya, tim yang sama telah lebih dulu mendampingi optimalisasi ekowisata dan pengelolaan sampah menjadi produk ekonomis di Kabupaten Malang. Kini, tahap berikutnya adalah mengintegrasikan seluruh produk BUMDesa dengan pariwisata melalui konsep Green BUMDesa, dilanjutkan pendampingan berkelanjutan untuk meningkatkan daya saing.
“Program ini kami rancang agar tidak berhenti saat tim kami pergi. Kami menyiapkan modul, mendampingi penyusunan SOP, dan mendorong kaderisasi generasi muda desa agar keberlanjutannya terjaga,” jelas Girindra Mega Paksi, S.E., M.E., dosen muda FEB UB yang ikut dalam tim.
Program ini diharapkan menjadi model konkret yang dapat diadopsi desa-desa lain di Kabupaten Malang dan seluruh Indonesia. Jika BUMDesa Bumiwangi Ngijo berhasil membuktikan bahwa ekonomi dan kelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan, maka desa-desa lain pun tak perlu ragu mengikuti jejaknya.
“Transformasi ini memang bukan perjalanan singkat. Tapi selama semua pihak berkomitmen dan mau berkolaborasi, tidak ada yang tidak mungkin,” pungkas Dr. Ferry Prasetyia dengan optimis.(sdk)













