Kanal24, Malang – Prof. Dr. Ali Maksum, Guru Besar Bidang Sosiologi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip UB), mengemukakan gagasan yang sangat relevan dalam naskah pengukuhan profesornya. Dalam naskah tersebut, ia memperkenalkan Model Transformasi Sosial Profetik untuk Masyarakat Sipil Berkeadaban. Model ini menjadi solusi yang inovatif untuk mengatasi berbagai masalah sosial yang sedang dihadapi, seperti fragmentasi sosial, kesenjangan, konflik, dan krisis lingkungan hidup.
Dalam pidato pengukuhan guru besarnya (21/2/2024), ia memaparkan bahwa kondisi sosial di Indonesia, terutama setelah Reformasi, telah menjadi semakin kompleks. Masyarakat terpolarisasi dalam bidang politik dan ekonomi, dan kesenjangan ekonomi yang dilaporkan oleh World Inequality Report tahun 2022 menunjukkan bahwa persoalan ini telah berlangsung selama dua dekade terakhir tanpa perubahan yang signifikan.

“Model transformasi sosial profetik ini merupakan hasil dari refleksi kritis tentang hubungan antara transformasi sosial dan nilai-nilai profetik. Model ini mengintegrasikan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat sipil dengan nilai-nilai profetik, dengan harapan dapat membentuk relasi sosial yang lebih berkeadaban,” ungkapnya.
Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa dalam model ini, terdapat tiga elemen penting yang mendukung transformasi sosial profetik, yaitu struktur, kultur, dan agen dalam dimensi sosial makro, meso, dan mikro. Kelebihan dari model ini adalah kemampuannya untuk mengoptimalkan nilai moral dan spiritual, menggunakan pendekatan holistik, serta membutuhkan kolaborasi antara masyarakat sipil dan negara.
Meskipun demikian, Prof. Ali Maksum juga menyampaikan bahwa model ini juga memiliki kelemahan. Pertama, model transformasi sosial profetik ini mendasarkan pada nilai-nilai Islam. Penerapan model ini tentunya dihadapkan pada pluralitas nilai yang ada di dalam masyarakat. Pemaknaan nilai secara eksklusif dapat menimbulkan resistensi dari kelompok-kelompok lain serta abai terhadap pluralitas nilai.
Kedua, model ini menaruh perhatian penting pada agensi masyarakat sipil, namun konsolidasi masyarakat sipil dapat terhalang oleh keberagaman agenda, isu-isu, nilai-nilai, ideologi, dan cita-cita transformasi sosial masing-masing.
Ketiga, model ini tentunya tidak dapat dilepaskan dari ragam kreativitas kepemimpinan yang berdampak pada keberterimaan kepemimpinan dan individu terhadap nilai-nilai profetik.
Dalam konteks perguruan tinggi, Prof. Dr. Ali Maksum berharap agar terjadi dialog ilmiah yang membahas model transformasi sosial profetik ini. Melalui penelitian-penelitian di bidang ilmu sosial dan multidisiplin, diharapkan model ini dapat diimplementasikan dalam penyelesaian persoalan sosial di Indonesia. Selain itu, Prof. Dr. Ali Maksum juga berharap agar universitas dan lembaga pendidikan lainnya dapat menjadi bagian dari upaya mewujudkan masyarakat sipil yang lebih berkeadaban. (fan)