Kanal24, Malang – Kenaikan harga bahan baku kembali membayangi industri pangan rakyat. Lonjakan harga kedelai yang diikuti naiknya biaya plastik pembungkus membuat harga tempe diprediksi ikut merangkak naik dalam waktu dekat.
Tekanan ini dirasakan langsung oleh para perajin tahu dan tempe di berbagai daerah. Mereka kini menghadapi kenaikan biaya produksi secara bersamaan, baik dari bahan utama maupun bahan pendukung, yang berpotensi menekan margin usaha kecil.
Wakil Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Hedy Kuswanto, mengungkapkan bahwa tren kenaikan harga kedelai terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Ia menyebut, harga kedelai yang sebelumnya berada di kisaran Rp9.000 hingga Rp9.200 per kilogram kini melonjak menjadi sekitar Rp10.800 hingga Rp11.000 per kilogram.
Baca juga:
Ekspor Indonesia Februari 2026 Tembus USD 22,17 Miliar
āMemang kecenderungan tren harga kedelai terus naik, terutama dalam satu bulan terakhir akibat faktor geopolitik global,ā ujar Hedy.
Kenaikan harga tersebut tidak berdiri sendiri. Biaya lain seperti plastik pembungkus tempe juga mengalami lonjakan signifikan, sehingga semakin membebani biaya produksi perajin.
Kondisi ini membuat pelaku usaha kecil berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, mereka harus menjaga harga jual agar tetap terjangkau bagi masyarakat. Namun di sisi lain, biaya produksi terus meningkat sehingga keuntungan semakin tergerus.
Hedy menjelaskan, dampak kenaikan harga bahan baku belum sepenuhnya terasa saat ini karena sebagian perajin masih belum kembali berproduksi pasca libur Lebaran. Namun ia memperkirakan tekanan akan semakin kuat dalam waktu dekat.
āSebagian besar anggota kami masih berada di kampung halaman, sehingga belum sepenuhnya kembali beraktivitas produksi,ā katanya.
Ia menambahkan, ketika seluruh perajin kembali beroperasi, keluhan diperkirakan akan meningkat. Hal ini berpotensi memicu penyesuaian harga di tingkat produsen maupun pedagang.
āSaya yakin ketika semua pelaku usaha kecil kembali produksi, keluhan mereka akan semakin terdengar,ā tegasnya.
Tekanan biaya ini juga dipicu faktor eksternal, seperti dinamika geopolitik global dan ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai. Fluktuasi nilai tukar rupiah serta gangguan rantai pasok dunia turut memperburuk situasi.
Selain itu, kondisi global yang memengaruhi harga energi ikut berdampak pada biaya logistik dan distribusi. Akibatnya, harga kedelai impor semakin sulit dikendalikan di pasar domestik.
Dalam kondisi tersebut, sejumlah perajin mulai melakukan berbagai strategi bertahan. Ada yang mengurangi ukuran tempe, menekan volume produksi, hingga mempertimbangkan kenaikan harga jual. Fenomena pengecilan ukuran tempe bahkan mulai terlihat di pasar sebagai upaya menjaga daya beli konsumen.
Namun, langkah tersebut bukan solusi jangka panjang. Jika tren kenaikan harga terus berlanjut, perajin tidak memiliki banyak pilihan selain menaikkan harga jual.
Hedy juga menyoroti perlunya peran pemerintah dalam menjaga stabilitas harga bahan baku, khususnya kedelai. Ia menilai kebijakan terkait penguatan produksi kedelai dalam negeri masih belum berjalan optimal.
āPemerintah sebenarnya memiliki Perpres Pajale, tetapi implementasinya dari masa ke masa belum maksimal,ā ujarnya.
Menurutnya, jika kondisi ini tidak segera diatasi, keberlangsungan usaha tahu dan tempe, terutama skala kecil, bisa terancam. Bahkan, Gakoptindo membuka kemungkinan untuk menyampaikan aspirasi langsung kepada pemerintah pusat.
āApabila harga kedelai terus meningkat, hal ini akan sangat memberatkan kami,ā kata Hedy.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat pun diimbau bersiap menghadapi potensi kenaikan harga tempe di pasaran. Sebagai salah satu sumber protein utama yang terjangkau, kenaikan harga tempe tidak hanya berdampak pada pelaku usaha, tetapi juga pada konsumsi rumah tangga secara luas. (nid)














