Kanal24, Malang – Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,1 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 5 persen yang dirilis pada April 2026.
Proyeksi tersebut tertuang dalam laporan World Economic Outlook: Resilience Under Strain, Urgent Choices edisi Oktober 2026. Meski ketidakpastian ekonomi global meningkat akibat konflik di Timur Tengah, Indonesia diperkirakan tetap mampu menjaga pertumbuhan ekonomi pada level 5,1 persen hingga 2027.
Dalam laporan yang dirilis pada rangkaian Pertemuan Tahunan IMF dan Grup Bank Dunia di Bangkok, Thailand, IMF juga memperkirakan inflasi Indonesia mencapai 3,3 persen pada 2026. Angka tersebut diproyeksikan menurun menjadi 2,8 persen pada 2027.
Kenaikan proyeksi pertumbuhan Indonesia terjadi di tengah perlambatan ekonomi kawasan Asia yang sedang berkembang. IMF memperkirakan pertumbuhan kawasan tersebut mencapai 5,1 persen pada 2026, turun dari 5,6 persen pada 2025.
Baca juga:
10 Mahasiswa UB Wakili Indonesia di Olimpiade Keamanan Finansial Internasional 2026 di Rusia
Perlambatan ini terutama dipengaruhi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi.
Investasi Pusat Data Jadi Peluang
Di tengah berbagai tekanan global, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Asia. Permintaan terhadap produk dan layanan berbasis AI turut memberikan peluang bagi negara-negara yang terintegrasi dalam rantai pasok teknologi global.
IMF menilai sejumlah negara di Asia Tenggara berpotensi memperoleh manfaat dari investasi pusat data atau data center, kebangkitan siklus teknologi global, serta langkah-langkah fiskal darurat.
Direktur Departemen Riset IMF Silvana Tenreyro menyebut China dan India sebagai penggerak utama pertumbuhan di kawasan Asia yang sedang berkembang. Menurutnya, kawasan tersebut masih mencatat tingkat pertumbuhan yang relatif tinggi dibandingkan kawasan lain.
“Secara keseluruhan, kawasan Asia yang sedang berkembang adalah kawasan dengan tingkat pertumbuhan tertinggi,” ujar Tenreyro dalam konferensi pers peluncuran laporan tersebut, sebagaimana dikutip China Daily.
Tenreyro juga menyoroti posisi sejumlah negara Asia dalam rantai pasok AI. Malaysia, Singapura, Korea Selatan, dan Vietnam dinilai memiliki keterhubungan yang kuat dengan industri tersebut sehingga berpeluang mendapatkan manfaat dari peningkatan investasi dan permintaan teknologi.
Meski demikian, manfaat perkembangan AI diperkirakan tidak tersebar merata. Negara yang terintegrasi dengan rantai nilai teknologi berpotensi mencatat kinerja lebih baik, sedangkan negara pengimpor energi dengan keterlibatan terbatas dalam industri AI menghadapi prospek pertumbuhan yang lebih lemah.
Risiko Global Masih Membayangi
IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global mencapai 3,1 persen pada 2026. Sementara itu, inflasi umum global diproyeksikan meningkat menjadi 4,7 persen pada tahun yang sama.
Tekanan tersebut menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi global masih menghadapi sejumlah tantangan. Ketegangan geopolitik, kenaikan harga energi dan komoditas, serta gangguan perdagangan internasional berpotensi menekan aktivitas ekonomi berbagai negara.
Risiko lainnya berasal dari fenomena El Nino yang dapat mengganggu pasokan pangan dan meningkatkan tekanan harga. Di sisi fiskal, tingginya biaya pinjaman dan pembayaran bunga juga berpotensi mengurangi ruang pemerintah untuk membiayai sektor-sektor prioritas maupun merespons guncangan ekonomi.
Perkembangan AI yang menjadi salah satu sumber pertumbuhan turut menyimpan risiko. Konsentrasi rantai pasok teknologi pada sejumlah negara, sektor, dan perusahaan dapat menciptakan hambatan apabila terjadi gangguan produksi atau perubahan kondisi pasar.
Koreksi nilai pasar serta ancaman terhadap keamanan siber juga dinilai berpotensi meningkatkan ketidakstabilan keuangan dan menghambat pertumbuhan ekonomi.
Karena itu, IMF menekankan pentingnya penguatan ruang fiskal dan ketahanan sisi penawaran agar negara-negara mampu menghadapi tekanan global sekaligus mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Lonjakan Biaya Impor Jadi Perhatian
Sementara itu, Direktur Boston University Global Development Policy Center Kevin Gallagher menilai gambaran ekonomi dalam laporan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan tekanan yang dihadapi sejumlah negara di Asia.
Menurut Gallagher, angka pertumbuhan agregat perlu dibaca bersama dampak kenaikan biaya impor akibat konflik di Timur Tengah. Tekanan tersebut semakin berat ketika beriringan dengan guncangan iklim, seperti banjir dan kekeringan.
“Di balik angka-angka agregat tersebut, banyak negara di Asia menghadapi lonjakan biaya impor akibat konflik di Timur Tengah, yang diperparah oleh guncangan terkait perubahan iklim seperti banjir dan kekeringan,” ujar Gallagher kepada China Daily.
Ia juga menyoroti terbatasnya instrumen kebijakan baru dari IMF dan Bank Dunia untuk merespons tekanan yang sedang berlangsung. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memperbesar risiko yang telah dihadapi negara-negara di kawasan.
Bagi Indonesia, kenaikan proyeksi pertumbuhan menjadi 5,1 persen memberikan gambaran prospek ekonomi yang relatif positif. Namun, perkembangan harga energi, tekanan inflasi, gangguan pasokan pangan, dan dinamika ekonomi global tetap menjadi faktor yang perlu dicermati dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan pertumbuhan nasional. (nid)













