Kanal24, Malang – Pemerintah Indonesia resmi memulai perundingan perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) dengan Uzbekistan sebagai langkah strategis memperluas akses pasar ke kawasan Asia Tengah. Peluncuran negosiasi tersebut diumumkan Menteri Perdagangan RI Budi Santoso bersama Menteri Investasi, Industri, dan Perdagangan Uzbekistan Laziz Kudratov dalam pertemuan resmi di Jakarta, awal pekan ini.
Dalam keterangan persnya, Budi menegaskan bahwa inisiasi FTA ini menjadi tonggak penting hubungan bilateral kedua negara, sekaligus bagian dari strategi diversifikasi pasar ekspor Indonesia. “Kerja sama ini diharapkan mampu mendorong peningkatan perdagangan yang lebih inklusif, memperluas akses pasar, serta memperkuat struktur rantai pasok kedua negara,” ujarnya.
Baca juga:
Strategi Digital BLUD Percepat Belanja Barang dan Jasa
Perundingan FTA tersebut juga dibarengi dengan penandatanganan kesepakatan kerja sama perdagangan dan investasi yang menjadi payung hukum awal sebelum pembahasan teknis dimulai. Kesepakatan ini akan menjadi dasar pembentukan kelompok kerja bersama atau joint working group guna mengidentifikasi sektor prioritas dan potensi kerja sama lanjutan.
Tren Perdagangan Meningkat
Secara statistik, hubungan dagang Indonesia dan Uzbekistan menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Nilai perdagangan bilateral pada 2025 tercatat meningkat signifikan dibandingkan lima tahun sebelumnya. Komoditas utama ekspor Indonesia ke Uzbekistan antara lain produk minyak kelapa sawit dan turunannya, karet, tekstil, alas kaki, serta produk makanan olahan. Sementara itu, Indonesia mengimpor sejumlah produk kapas dan bahan baku tekstil dari Uzbekistan.
Budi menjelaskan, dengan adanya FTA, hambatan tarif maupun non-tarif dapat ditekan sehingga arus barang dan jasa menjadi lebih kompetitif. Pemerintah juga menargetkan pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) dapat memanfaatkan peluang ekspor baru melalui skema perdagangan yang lebih terbuka.
Uzbekistan dinilai memiliki posisi geografis strategis sebagai pintu masuk ke kawasan Asia Tengah yang lebih luas. Negara tersebut berbatasan dengan beberapa negara penting di kawasan, sehingga berpotensi menjadi hub distribusi produk Indonesia. Selain itu, reformasi ekonomi yang tengah dijalankan pemerintah Uzbekistan dinilai membuka ruang investasi baru di sektor manufaktur, energi, hingga infrastruktur.
Fokus pada Akses Pasar dan Investasi
Menteri Laziz Kudratov menyampaikan komitmen pemerintahnya untuk mempercepat proses perundingan agar manfaat ekonomi dapat segera dirasakan. Menurutnya, Uzbekistan melihat Indonesia sebagai mitra penting di Asia Tenggara, baik dari sisi populasi maupun kapasitas produksi.
Ia menekankan bahwa perjanjian ini tidak hanya berfokus pada pengurangan tarif barang, tetapi juga mencakup kerja sama investasi, pengembangan industri, serta pertukaran teknologi. Pemerintah Uzbekistan berharap investor Indonesia dapat memanfaatkan peluang di sektor tekstil, pertanian, dan pengolahan makanan di negaranya.
Dalam konteks yang lebih luas, langkah ini sejalan dengan kebijakan Indonesia yang aktif menjalin perjanjian dagang dengan berbagai negara dan blok ekonomi. Sebelumnya, Indonesia telah menandatangani sejumlah kesepakatan perdagangan bebas dengan mitra strategis di kawasan Asia Pasifik maupun Eurasia. Strategi tersebut bertujuan memperluas jaringan pasar ekspor di tengah dinamika perdagangan global yang semakin kompetitif.
Tantangan Negosiasi
Kendati demikian, proses perundingan FTA bukan tanpa tantangan. Negosiasi biasanya mencakup pembahasan detail mengenai tarif, aturan asal barang (rules of origin), standar teknis, hingga mekanisme penyelesaian sengketa. Pemerintah Indonesia menegaskan akan tetap menjaga kepentingan nasional, terutama dalam melindungi industri dalam negeri yang masih berkembang.
Pengamat perdagangan internasional menilai, keberhasilan FTA ini akan sangat bergantung pada kecepatan dan konsistensi kedua pihak dalam menyelesaikan isu-isu teknis. Transparansi dan pelibatan pelaku usaha juga dinilai penting agar hasil perundingan benar-benar sesuai kebutuhan pasar.
Di sisi lain, dunia usaha menyambut positif inisiatif tersebut. Asosiasi eksportir menilai pasar Asia Tengah masih relatif belum tergarap optimal oleh pelaku usaha Indonesia. Dengan adanya FTA, biaya masuk pasar diharapkan turun sehingga produk Indonesia dapat bersaing lebih baik.
Pemerintah menargetkan putaran awal perundingan teknis dapat dimulai dalam waktu dekat. Jika berjalan lancar, kesepakatan ini diharapkan menjadi motor penggerak baru bagi pertumbuhan perdagangan dan investasi bilateral, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta perdagangan lintas kawasan.
Dengan dimulainya negosiasi ini, Indonesia dan Uzbekistan membuka babak baru kerja sama ekonomi yang lebih komprehensif, menandai komitmen kedua negara untuk tumbuh bersama dalam ekosistem perdagangan global yang dinamis. (nid)














