Oleh : Arif Gumantia – Ketua Majelis Sastra Madiun
Kumpulan cerpen Rumpun Kupu-Kupu yang diterbitkan Padmedia ini menghadirkan mozaik kehidupan yang dituturkan dari sudut pandang perempuan : jujur, intim, dan penuh lapisan makna. Ditulis oleh para penulis perempuan, buku ini merangkum pengalaman keseharian yang kerap luput dari sorotan: tentang tubuh, ingatan, relasi, luka, serta daya tahan yang tumbuh diam-diam. Seperti sekumpulan kupu-kupu yang berteduh dalam satu rumpun, setiap cerpen menawarkan suara yang berbeda, namun saling terhubung oleh keberanian untuk menyuarakan kehidupan sebagaimana dirasakan, bukan sekadar sebagaimana diceritakan.
Pendapat dari Ernest Hemingway bahwa dalam menulis cerpen itu ” just write story, don’t judge ” dalam pengertian berceritalah, jangan menghakimi, sampai sekarang tetap relevan agar cerita pendek ( cerpen ) menjadi memikat saat dibaca. Cerpen yang penulisnya bukan seperti hakim yang menentukan benar, salah, baik, buruk, dan cerpen yang tanpa banyak menggurui. Pengarang lewat cerita yang ditulisnya justru menghujamkan rentetan pertanyaan-pertanyaan yang memaksa pembaca untuk menggali makna yang ada didalamnya, memberikan sebuah ruang yang terbuka untuk kontemplasi pembacanya.
12 Penulis Perempuan dalam buku kumpulan cerpen Rumpun Kupu-Kupu mencoba mengungkapkan pemikiran-pemikirannya ini agar menjadi cerita yang memikat tanpa menggurui. Wina Bojonegoro, Ana Ratri, Anindita S, Intan Andaru, Muna Masyari, Ni Komang Ariani, Ninuk Retno, Sasti Gotama, Titik Kartitiani, Vika Wisnu, Yetti A.K.A, Yuliati Kumudaswari dalam menulis cerpen terbaca adanya interaksi timbal balik antara penulis dan lingkungan sosial penulis, termasuk ruang dan waktu yang mempengaruhi hasil karya penulis tersebut, hingga terciptanya realitas baru yang dikisahkan dalam cerpen, yaitu realitas yang sebenarnya ditambah dengan imajinasi penulis hingga menghasilkan realitas baru ( dunia baru ).
Realitas inilah yang membuat pembaca mempunyai ruang imajinasi yang luas karena adanya pertautan dengan pengalaman dan kenangan para pembaca.
Dalam cerpen Kupu-Kupu Merah Marun ( hal. 20 ) Wina Bojonegoro menggunakan metafora Kupu-Kupu untuk memperlihatkan kehidupan perempuan panggilan yang harus berganti-ganti “kepompong” untuk mempertahankan hidupnya. Cerpen Pesan untuk Ratri karya Ana Ratri ( hal. 28 ) mencoba mengungkapkan pemikirannya bahwa dalam dunia digital di era sekarang ini perempuan harus berjuang untuk tetap mempertahankan warisan budaya leluhur, seni tari Montro. Dengan narasi histori, ironi dan dialog yang memikat, hingga pembaca di bawa dalam ruang kontemplasi antara warisan budaya dan modernisasi yang terkadang memberi pengaruh negatif pada kehidupan.
Tema tentang Panopticon dan kuasa simbolik dari suatu rezim diceritakan dengan baik pada cerpen Mata-Mata di Kepala karya Ni Komang Ariani ( hal. 61 ). Filsuf Michel Foucault menjelaskan bagaimana kontrol kekuasaan bekerja di masyarakat modern : orang merasa diawasi terus, akhirnya patuh tanpa perlu dipaksa, sehingga menjadi bentuk kontrol sosial yang halus tapi kuat. Ini yang disebut “panopticon”, dalam cerpen ini si tokoh “aku” dicukupi semua kebutuhannya tapi ditempatkan dalam rumah dan pekerjaan yang mudah untuk diawasi. Dan kalau kita mau jujur terhadap realitas, hal ini sering terjadi pada perempuan di manapun ruang dan waktunya berada.
Salah satu kreativitas dalam menulis cerpen adalah teknik Split from personality, si penulis bener-bener lenyap kepribadiannya dan menjelma menjadi tokoh yang diciptakannya, hal ini ada di cerpen Pedoman Ibu Teladan karya Sasti Gotama ( hal 77 ), penulis berhasil menciptakan tokoh seorang LC ( pemandu lagu ) di tempat karaoke yang disewa seorang bocah SD untuk mengambilkan rapor di sekolahnya. Ini sungguh menjadi cerpen yang memikat.
Tema psikologi ada pada cerpen Jene di Ruang Tengah karya Vika Wisnu ( hal 95 ) dari sudut pandang Ibu dan anak perempuan menghadapi suaminya penderita Sindrom Asperger. Gangguan perkembangan pervasif, dipicu oleh disfungsi otak yang bisa diakibatkan oleh trauma, penyakit, atau struktur otak yang abnormal. Sehingga membuat orang sangat kaku dalam berfikir dan melihat segala sesuatu hanya dari satu sudut pandang saja.
Pada cerpen Cahaya di Sela Papan Jendela karya Yuliani Kumudaswari ( hal 112 ) mengambil tema bagaimana seorang perempuan tidak punya hak atas tubuhnya ketika berada dalam norma rumah tangga, yaitu hak untuk hamil atau tidak hamil yang harusnya kesepakatan dua pihak karena menyangkut kesehatan tubuh dan kemampuan dalam membesarkan dan mendidik anak.
Para penulis di Kumcer Rumpun Kupu-Kupu ini telah berhasil menciptakan dunia yang baru, dunia yang berasal dari realitas yang sebenarnya dan berjalin kelingan dengan imajinasi penulisanya. Narasi-narasi ironi, metafora, dan sinisme yang ada di tiap kisahnya menjadikan cerita-cerita pendeknya selain menarik buat pembaca karena punya ruang imajinasi yang luas juga memberikan insight ( wawasan pengetahuan) sebagai bagian dari ruang kontemplasi.
Catatan kritik terhadap Kumcer ini, yang pertama adalah di beberapa cerpennya masih kurang dalam membangun dramatisasi konflik lewat dialog dan narasinya. Yang kedua adalah tidak adanya tema ekologi dalam cerpen-cerpen ini padahal perempuan lah yang paling menderita jika terjadi bencana Ekologi, sehingga ekologi tidak hanya relevan bagi perempuan tapi signifikan.
Judul buku : Rumpun Kupu-Kupu
Jumlah halaman : 118 halaman
Cetakan pertama : Desember 2025
Penerbit : Padmedia, Garuda Regency M-60 Rewwin-Waru Sidoarjo
Telepon : ( 031 ) 8554004, 081217237313














