Kanal24, Malang – Mata sudah berat, posisi tidur sudah nyaman, tetapi jempol masih terus menggulir layar. Niat awalnya hanya ingin mengecek satu berita sebelum tidur. Beberapa menit kemudian, berita lain muncul, disusul video pendek, kolom komentar, hingga kabar terbaru yang membuat rasa penasaran kembali muncul. Tanpa terasa, waktu tidur pun semakin mundur.
Kebiasaan terus-menerus mengonsumsi informasi melalui media sosial tersebut dikenal sebagai doomscrolling. Istilah ini biasanya merujuk pada pola scrolling tanpa henti, terutama ketika seseorang terus mencari informasi yang negatif, mengkhawatirkan, atau memicu rasa penasaran. Jatimnet sebelumnya menyoroti kebiasaan tersebut sebagai salah satu hal yang dapat mengacaukan waktu istirahat.
Baca Juga:
Tak Suka Pacar Teman Bukan Berarti Harus Memisahkan
Satu Scroll Bisa Berujung Panjang
Doomscrolling menjadi sulit dihentikan karena media sosial tidak memiliki titik akhir yang jelas. Setelah satu konten selesai, pengguna langsung mendapatkan rekomendasi berikutnya.
Kondisi tersebut membuat persoalannya bukan hanya soal cahaya dari layar. Waktu yang seharusnya digunakan untuk bersiap tidur dapat bergeser karena seseorang terus mengikuti informasi yang muncul di beranda.
Dalam artikel Jatimnet, survei American Academy of Sleep Medicine terhadap 2.007 orang dewasa di Amerika Serikat menunjukkan 38 persen responden merasa melihat berita melalui ponsel atau tablet sebelum tidur membuat kualitas tidur mereka sedikit atau jauh lebih buruk. Pada kelompok usia 18–24 tahun, angkanya mencapai 46 persen.
Angka tersebut tentu tidak dapat langsung menggambarkan kondisi pengguna media sosial di Indonesia. Namun, kebiasaan mengecek informasi melalui ponsel sebelum tidur menjadi fenomena yang semakin mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian Terbaru Temukan Dampaknya
Penelitian yang diterbitkan Journal of Sleep Research pada Juli 2026 turut melihat hubungan penggunaan media sosial menjelang tidur dengan kualitas istirahat. Penelitian tersebut melibatkan 23 laki-laki sehat berusia 14–25 tahun yang dipantau selama 14 hari.
Hasilnya menunjukkan penggunaan media sosial yang lebih lama dalam dua jam sebelum tidur berkaitan dengan efisiensi tidur yang lebih rendah. Pada akhir pekan, penggunaan yang lebih lama juga berkaitan dengan kecenderungan waktu tidur lebih pendek, lebih banyak terbangun, dan tidur yang lebih terfragmentasi.
Menariknya, peserta tidak selalu menyadari gangguan tersebut. Artinya, seseorang bisa merasa tidurnya tetap baik meskipun pengukuran objektif menunjukkan adanya perubahan pada pola tidurnya.
Namun, penelitian lain pada 2026 menunjukkan hubungan antara layar dan tidur tidak sesederhana “main ponsel pasti bikin susah tidur”. Studi terhadap 70 anak muda menemukan penggunaan media sosial menjelang tidur justru dapat terasa menenangkan secara fisiologis. Temuan ini menunjukkan bahwa durasi, jenis aktivitas, waktu penggunaan, dan konteks turut menentukan dampaknya terhadap tidur.
Berhenti Scroll Sebelum Mengantuk
Karena itu, mengurangi doomscrolling tidak harus berarti meninggalkan media sosial sepenuhnya. Langkah sederhana dapat dimulai dengan mematikan notifikasi pada malam hari, menentukan batas waktu scrolling, atau meletakkan ponsel sedikit lebih jauh dari tempat tidur.
Jika ingin tetap mengikuti berita, memilih beberapa sumber utama juga dapat membantu agar aktivitas membaca informasi tidak berubah menjadi scrolling tanpa akhir.
Pada akhirnya, masalahnya bukan sekadar ponsel yang berada di samping tempat tidur. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kebiasaan “cek sebentar” membuat waktu istirahat terus tertunda.
Satu berita mungkin hanya membutuhkan beberapa menit untuk dibaca. Tetapi jika terus berlanjut ke puluhan konten lain, waktu tidur yang hilang bisa jauh lebih panjang. (ndr)













