Kanal24 – Lebaran selalu identik dengan kebersamaan. Jalanan dipenuhi arus mudik, rumah-rumah kembali ramai oleh keluarga yang pulang, dan meja makan dipenuhi hidangan yang hanya muncul setahun sekali.
Namun di balik semua itu, ada satu perjalanan lain yang sering menjadi bagian dari Lebaran: perjalanan menuju pemakaman.
Di banyak daerah di Jawa dan berbagai wilayah Nusantara, tradisi nyekarāatau ziarah ke makam keluargaāmenjadi bagian yang hampir tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri. Orang-orang datang membawa bunga, membersihkan makam, lalu memanjatkan doa bagi mereka yang telah lebih dahulu pergi.
Di antara keramaian Lebaran, nyekar menghadirkan ruang sunyi yang mengingatkan kita pada satu hal sederhana: bahwa hidup tidak hanya tentang yang hadir hari ini, tetapi juga tentang mereka yang pernah membentuk perjalanan kita.
Ziarah Kubur dalam Ajaran Islam
Dalam tradisi Islam, ziarah kubur bukanlah praktik yang asing. Ia bahkan memiliki dasar yang jelas dalam hadis Nabi Muhammad SAW.
Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah bersabda dalam salah satu hadisnya:
ŁŁŁŁŲŖŁ ŁŁŁŁŁŁŲŖŁŁŁŁ Ł Ų¹ŁŁŁ Ų²ŁŁŁŲ§Ų±ŁŲ©Ł Ų§ŁŁŁŁŲØŁŁŲ±Ł ŁŁŲ²ŁŁŲ±ŁŁŁŁŲ§
āDahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian,ā (HR. Muslim).
Dalam riwayat lain, Rasulullah tidak hanya memerintahkan ziarah kubur, tetapi juga menjelaskan manfaat dari praktik tersebut. Beliau bersabda:
ŁŁŁŁŲŖŁ ŁŁŁŁŁŁŲŖŁŁŁŁ Ł Ų¹ŁŁŁ Ų²ŁŁŁŲ§Ų±ŁŲ©Ł Ų§ŁŁŁŁŲØŁŁŲ±Ł Ų£ŁŁŁŲ§ ŁŁŲ²ŁŁŲ±ŁŁŁŁŲ§Ų ŁŁŲ„ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ±ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁŲØŁŲ ŁŁŲŖŁŲÆŁŁ ŁŲ¹Ł Ų§ŁŁŲ¹ŁŁŁŁŁŲ ŁŁŲŖŁŲ°ŁŁŁŁŲ±Ł Ų§ŁŁŲ¢Ų®ŁŲ±ŁŲ©ŁŲ ŁŁŁŁŲ§ ŲŖŁŁŁŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲ¬ŁŲ±Ł
āDahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian. Sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati, menitikkan air mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk ketika berziarah,ā (HR. Hakim).
Penjelasan mengenai hadis ini juga banyak dibahas dalam kajian ulama tentang ziarah kubur dalam perspektif Islam, yang menekankan bahwa ziarah kubur menjadi sarana refleksi spiritual sekaligus pengingat tentang kehidupan akhirat.
Nyekar: Islam yang Berjumpa dengan Budaya Nusantara
Di Indonesia, ziarah kubur kemudian berkembang dengan ekspresi budaya lokal. Dalam masyarakat Jawa, praktik ini dikenal sebagai nyekar, yaitu menaburkan bunga di makam keluarga atau leluhur.
Kajian tentang tradisi nyekar dalam perspektif Islam Nusantara menjelaskan bahwa praktik ini merupakan hasil pertemuan antara ajaran Islam dengan budaya lokal yang telah hidup di masyarakat.
Penelitian lain mengenai nyekar sebagai tradisi religius dan budaya di Nusantara menunjukkan bahwa ziarah makam tidak hanya dimaknai sebagai penghormatan kepada leluhur, tetapi juga sebagai sarana refleksi spiritual dan penguatan hubungan sosial dalam masyarakat.
Dalam konteks ini, nyekar bukan sekadar ritual budaya, tetapi juga bagian dari ekspresi religius masyarakat Muslim Indonesia.
Ruang Sunyi di Tengah Perayaan
Jika Lebaran adalah perayaan kehidupan, nyekar adalah pengingat tentang kefanaan.
Di pemakaman, tidak ada hiruk pikuk seperti di rumah yang sedang menerima tamu. Yang ada hanyalah keheningan, doa, dan kenangan.
Sebagian orang berdiri lama di depan nisan. Sebagian lain duduk sejenak, mengingat kembali wajah-wajah yang dulu pernah menyambut mereka pulang.
Kajian tentang pendidikan spiritual dalam tradisi ziarah makam menyebut bahwa praktik ini membantu manusia merenungkan kehidupan, menumbuhkan empati, serta memperkuat kesadaran tentang kefanaan hidup.
Di tengah perayaan yang penuh kegembiraan, nyekar menghadirkan ruang refleksi yang jarang kita temui dalam rutinitas sehari-hari.
Nyekar sebagai Ingatan Keluarga
Bagi banyak keluarga di Indonesia, nyekar juga menjadi cara merawat ingatan.
Orang tua sering mengajak anak-anak datang ke makam keluarga, membersihkan nisan, lalu menceritakan kisah tentang kakek, nenek, atau leluhur yang mungkin tidak sempat mereka temui.
Tradisi ini secara tidak langsung menjadi cara untuk mentransmisikan sejarah keluarga kepada generasi berikutnya.
Melalui cerita-cerita sederhana di depan makam, anak-anak belajar memahami asal-usul mereka dan menyadari bahwa kehidupan yang mereka jalani hari ini merupakan bagian dari perjalanan panjang keluarga.
Lebaran dan Kesadaran Akan Waktu
Pada akhirnya, nyekar mengingatkan kita bahwa Lebaran bukan hanya tentang yang hadir. Ada orang tua yang dulu menunggu kita pulang.Ada kakek nenek yang dulu mengajarkan arti keluarga.
Kini mereka tidak lagi hadir secara fisik, tetapi doa tetap menjadi cara untuk menjaga hubungan yang tidak pernah benar-benar putus.
Di tengah tawa, silaturahmi, dan hidangan Lebaran, nyekar menghadirkan ruang sunyi yang mengajarkan kita tentang waktu, tentang syukur, dan tentang pentingnya menghargai setiap pertemuan.
Karena dalam setiap perjalanan mudik, selalu ada satu tempat yang mengingatkan kita tentang asal-usul: makam orang-orang yang pernah menanamkan cinta dalam hidup kita.
Di situlah Lebaran menemukan maknanya yang paling sunyiādan mungkin juga yang paling dalam.(Din)














