KANAL24, Malang – Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan bagaikan pisau bermata dua. Satu sisi AI menawarkan efisiensi luar bias, sementara disisi lain menantang batas etika dan orisinalitas karya ilmiah.
Fenomena ini menjadi perhatian tim dosen Departemen Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UB dengan langkah konkret melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang inovatif.
Bertajuk “Etika Penggunaan Teknologi Informasi dan Artificial Intelligence (AI) bagi Civitas Akademika”, program ini dirancang untuk membekali mahasiswa dan dosen dengan kompas moral di era digital.
Menjembatani Kemahiran Teknis dan Kesadaran Moral Program yang diketuai oleh Dr. Syaiful Iqbal, S.E., M.Si., Ak., bersama Komarudin Achmad, S.E., Ak., M.Si., dan tim, menyasar mahasiswa FEB UB sebagai target utama yang merupakan generasi yang paling intensif bersentuhan dengan asisten AI dalam tugas akademik.

Mahasiswa dinilai perlu memahami batasan antara pemanfaatan teknologi dan pelanggaran integritas.
“AI memberikan kemudahan, namun tantangan etis seperti plagiarisme digital dan manipulasi data adalah ancaman nyata bagi marwah akademik. Kami hadir untuk mengisi kesenjangan antara kemahiran teknis dan kesadaran moral,” ujar Dr. Syaiful Iqbal dalam keterangan tertulisnya.
Pendekatan Holistik Selama Enam Bulan dimulai sejak Mei 2025 dengan rangkaian yang menarik bulan sekedar teori. Selama enam bulan, para peserta terlibat dalam berbagai agenda intensif, antara lain:
Seminar Sosialisasi & FGD: Memetakan tantangan penggunaan AI di lingkungan kampus.
Pelatihan Berbasis Studi Kasus: Simulasi penggunaan AI secara bertanggung jawab untuk menghindari bias data dan pelanggaran privasi.
Kampanye Digital: Menanamkan budaya literasi etika secara berkelanjutan melalui kanal-kanal digital.
“Rangkaian kegiatan ini tidak hanya teori namun juga ada aksi nyata yang berdampak bagi mahasiswa dan masyarakat,” lanjutnya.

Kegiatan ini berdampak nyata bagi dunia akademik dengan hasil yang terukur. Selain peningkatan signifikan pemahaman peserta yang terlihat dari hasil post-test, kegiatan ini juga menghasilkan modul pembelajaran etika digital yang aplikatif sebagai panduan bagi mahasiswa.
Dari sisi akademik, tim PkM FEB UB juga berhasil mencatatkan luaran berupa publikasi ilmiah di jurnal terakreditasi Sinta serta perolehan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Langkah ini membuktikan bahwa penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap orisinalitas karya.
Melalui inisiatif ini, FEB UB menegaskan komitmennya untuk mencetak lulusan yang tidak hanya mahir secara teknologi, tetapi juga teguh dalam menjaga nilai-nilai integritas di tengah disrupsi AI.(sdk)













