Kanal24, Malang – Aliran modal asing kembali mencatatkan tekanan signifikan terhadap pasar keuangan Indonesia pada pekan terakhir Januari 2026. Bank Indonesia mencatat investor nonresiden melakukan jual neto bersih senilai Rp12,55 triliun dalam periode transaksi 26–29 Januari 2026. Arus keluar tersebut terutama terjadi di pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN), seiring meningkatnya kehati-hatian investor global terhadap kondisi pasar keuangan domestik.
Berdasarkan data Bank Indonesia, pada periode tersebut investor asing tercatat melakukan jual neto saham sebesar Rp12,40 triliun serta jual neto SBN senilai Rp2,77 triliun. Di sisi lain, nonresiden masih mencatatkan beli neto Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp2,61 triliun, sehingga secara keseluruhan arus modal asing keluar bersih mencapai Rp12,55 triliun dalam satu pekan.
Baca juga:
Indonesia Dorong Ekspor Beras untuk Haji 2026
Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan bahwa secara kumulatif sejak awal tahun hingga akhir Januari 2026, aliran modal asing masih menunjukkan dinamika yang relatif terjaga. Investor nonresiden masih mencatatkan beli neto pada instrumen SRBI dan pasar saham dalam skala terbatas, mencerminkan bahwa minat terhadap instrumen keuangan domestik belum sepenuhnya mereda.
Tekanan arus keluar modal asing tersebut turut berdampak pada pergerakan pasar saham nasional. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam dalam pekan terakhir Januari, seiring meningkatnya aksi jual investor asing pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Pelemahan indeks ini mencerminkan meningkatnya sentimen risiko di pasar keuangan, terutama akibat ketidakpastian global yang masih membayangi.
Sejumlah analis menilai keluarnya modal asing tidak terlepas dari faktor eksternal, termasuk arah kebijakan moneter negara maju, penguatan mata uang dolar Amerika Serikat, serta kekhawatiran investor terhadap prospek pasar negara berkembang. Kondisi tersebut mendorong investor global untuk melakukan penyesuaian portofolio dengan mengalihkan dana ke aset yang dinilai lebih aman.
Selain faktor global, sentimen domestik juga turut memengaruhi pergerakan modal asing. Investor mencermati perkembangan stabilitas pasar keuangan, likuiditas, serta reformasi struktural di sektor pasar modal. Persepsi risiko yang meningkat dalam jangka pendek mendorong sebagian investor asing mengambil sikap wait and see.
Menanggapi kondisi tersebut, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan ketahanan pasar keuangan. Koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait terus diperkuat guna memastikan pasar keuangan domestik tetap berjalan secara stabil di tengah dinamika global. BI juga memastikan kecukupan likuiditas di pasar serta kelancaran mekanisme pasar uang dan pasar obligasi.
Ke depan, otoritas berharap langkah-langkah penguatan pasar keuangan, peningkatan transparansi, serta pendalaman pasar keuangan domestik dapat meningkatkan kepercayaan investor, baik domestik maupun asing. Dengan fundamental ekonomi yang dinilai masih solid, Indonesia diharapkan mampu meredam tekanan jangka pendek dan menjaga stabilitas arus modal di sepanjang tahun 2026. (nid)














