Kanal24, Malang – Profesor Dr. Wuryan Andayani, guru besar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) mengembangkan konsep Octuple Bottom Line (OBL) sebagai model keberlanjutan untuk mendukung kesejahteraan bumi dan manusia.
OBL merupakan kombinasi dari Sustainable Development Goals (SDGs), Triple Bottom Line (People, Planet, Profit/3P), dan Pentuple Bottom Line (2P, Phenotechonology, Prophet).
“Model ini menekankan bahwa pembangunan harus memperhatikan delapan pilar pembangunan berkelanjutan, yaitu people, planet, profit, phenotechnology, prophet, power, peace-loving, dan partnership,” ungkapnya dalam pidato pengukuhan guru besarnya (21/2/2024).

Menurutnya dalam konteks global, kekuatan seperti Power, Peace-Loving, dan Partnership saling terkait dalam menangani konflik dan hubungan diplomatik antarnegara. Power mencakup kekuatan internal, seperti pikiran positif, kesehatan mental, dan jiwa yang bersih, serta kekuatan eksternal, seperti patuh terhadap peraturan pemerintah atau organisasi internasional.
Kekuatan Peace-Loving mendorong cinta damai sesuai dengan tujuan Pembangunan Berkelanjutan tentang perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh. Sedangkan kekuatan Partnership berfokus pada kualitas pendidikan, perdagangan multilateral, dan kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan.
Adapun strategi Corporate Social Responsibility (CSR) dapat disesuaikan dengan konsep OBL untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/SDGs. Namun, implementasi OBL memerlukan konsistensi, kesepakatan, dan waktu untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan, seperti target Indonesia tahun 2030 dan Indonesia Emas tahun 2045.
“Konsep OBL menawarkan pendekatan holistik dalam memandang pembangunan berkelanjutan. Dengan memperhatikan delapan pilar tersebut, diharapkan pembangunan dapat berlangsung secara seimbang dan berkelanjutan, tanpa merusak lingkungan dan kesejahteraan masyarakat,” tutur Prof Wuryan.
Ia juga menegaskan bahwa implementasi OBL membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, masyarakat, dan lembaga internasional untuk mencapai kesepakatan bersama dan mengatasi tantangan yang ada.
Sedangkan dalam konteks Indonesia, implementasi OBL, menurutnya dapat menjadi panduan bagi pembangunan yang lebih berkelanjutan dan inklusif. Dengan memperhatikan aspek-aspek penting seperti kekuatan internal, perdamaian, dan kemitraan, diharapkan Indonesia dapat mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang telah ditetapkan.
Konsep Octuple Bottom Line (OBL) diciptakan untuk mengatasi kelemahan Triple Bottom Line (TBL) dan mengembangkan Pentuple Bottom Line (PBL) dengan fokus pada tanggung jawab dan kesepakatan bersama. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan nilai bagi para pemangku kepentingan dan mempromosikan perdamaian dunia.
Meski demikian Prof. Wuryan menegaskan bahwa mengembangkan konsep OBL lebih lanjut, diperlukan penelitian lebih mendalam dengan metode kualitatif dan kuantitatif. Selain itu, perlu ditambahkan pemangku kepentingan internal, seperti tenaga kerja perusahaan, terutama perusahaan multinasional, yang memiliki peran yang sama pentingnya dengan pemangku kepentingan eksternal. Hal ini diharapkan dapat memperkuat kerukunan dan perdamaian, baik di Indonesia maupun antar negara di dunia. (fan)