Kanal24, Malang — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Eskalasi konflik tersebut dinilai tidak lagi bersifat lokal, melainkan berpotensi berkembang menjadi konflik regional bahkan berdampak global.
Pakar Politik Timur Tengah Universitas Brawijaya, Abdullah, S.Sos., M.Hub.Int, menilai serangan yang terjadi pada 28 Februari 2026 menjadi titik perubahan dinamika keamanan kawasan.
“Saya kira eskalasi yang terjadi di Timur Tengah akibat agresi Amerika Serikat yang mendukung Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 jelas akan menyebabkan gempa politik regional di Timur Tengah sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, konflik kini melibatkan dimensi militer yang lebih luas karena penggunaan pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk.
“Serangan ini tidak hanya melibatkan Amerika Serikat. Kita ketahui pangkalan Amerika ada di negara teluk seperti Irak, Kuwait, Bahrain, dan juga pangkalan Eropa di Sibrus. Amerika menyerang Tehran menggunakan pangkalan-pangkalan militer tersebut,” jelas Abdullah.
Respons militer Iran yang menyerang balik pangkalan Amerika memperbesar potensi konflik regional.
“Artinya secara tidak langsung perang hari ini tidak hanya antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, tapi juga negara-negara teluk,” katanya.

Konflik Lama yang Kembali Memanas
Abdullah menjelaskan konflik Iran dan Israel memiliki akar panjang sejak Revolusi Islam 1979 yang membentuk arah kebijakan luar negeri Iran yang menentang Zionisme Israel.
“Sejatinya ini adalah konflik antara Iran dengan Israel yang dimulai sejak tahun 1979 akibat revolusi Islam yang menekankan kebijakan luar negeri anti Zionis,” ujarnya.
Meluasnya konflik, menurutnya, berpotensi memicu ketegangan diplomatik baru di kawasan Timur Tengah.
Dampak Energi dan Ekonomi Global
Selain aspek politik, dampak paling cepat dirasakan dunia berasal dari sektor energi, terutama setelah Iran menutup Selat Hormuz.
“Kemarin sore Iran sudah menutup Selat Hormus. Dua puluh sampai dua puluh lima persen minyak dunia jalur distribusinya melewati Selat Hormus,” katanya.
Gangguan distribusi energi global diperkirakan meningkatkan biaya logistik internasional dan memicu kenaikan harga energi serta barang.
“Mau tidak mau perekonomian nasional kita juga akan terdampak. Per 1 Maret BBM non subsidi sudah naik,” tambahnya.
Kepentingan China dan Rusia Mulai Terlibat
Dalam pernyataan tambahan yang disampaikan kepada Kanal24, Abdullah menilai konflik ini juga menyangkut kepentingan strategis negara besar seperti China dan Rusia.
“Perang ini akan berdampak global termasuk kepentingan China dan Rusia karena di Iran ini perusahaan-perusahaan Rusia terkait nuklir, sedangkan perusahaan Rusia juga terkait gas, dan perusahaan China terkait minyak dan gas serta kerja sama perdagangan yang sangat besar,” ujarnya.
Ia menyebut keterlibatan ekonomi tersebut membuat kedua negara memiliki kepentingan langsung terhadap stabilitas Iran.
“Sehingga China dan Rusia akan ikut serta, termasuk sudah mengirim banyak bantuan militer dan radar. Jika perang ini semakin meningkat eskalasinya termasuk penggunaan nuklir, bukan tidak mungkin China dan Rusia berkepentingan untuk terjun karena tidak mau Iran jatuh di tangan Amerika,” katanya.
Menurut Abdullah, faktor kepentingan ekonomi dan pertahanan menjadi pertimbangan utama dalam dinamika geopolitik global.
Eskalasi Militer Dinilai Semakin Nyata
Abdullah juga menyoroti peningkatan intensitas serangan balasan Iran yang menunjukkan perubahan keseimbangan kekuatan militer di kawasan.
“Serangan Iran semakin intensif, rudal-rudal unggul baru dikeluarkan dan terbukti di Tel Aviv menembus bunker. Dilaporkan ratusan luka-luka dan puluhan warga Israel tewas,” ujarnya.
Ia menilai situasi tersebut menjadi indikator meningkatnya eskalasi konflik.
“Ini menandakan eskalasi semakin meningkat dan terjadi keseimbangan kekuatan bahwa kekuatan rudal Iran tidak bisa dipandang sebelah mata, sehingga ini akan membakar Timur,” kata Abdullah.
Diplomasi Internasional Diuji
Di tengah meningkatnya konflik, Abdullah menegaskan pentingnya peran komunitas internasional untuk mencegah perluasan perang.
“PBB harus melaksanakan fungsinya untuk melakukan sidang darurat dan mengambil langkah yang diperlukan untuk mencapai perdamaian di antara pihak-pihak yang bertikai,” tegasnya.
Eskalasi konflik Timur Tengah kini menjadi perhatian global karena berpotensi memengaruhi stabilitas politik, keamanan energi, hingga perekonomian dunia dalam jangka panjang. (Din)














