Kanal24, Malang – Perempuan memegang peranan penting dalam perjuangan melawan krisis lingkungan dan kemubaziran pangan. Sejumlah penelitian dan kisah inspiratif dari berbagai kalangan menunjukkan bahwa kaum perempuan tidak hanya menjadi aktor utama dalam gerakan zero waste, tetapi juga pelopor gaya hidup etis yang berkelanjutan. Bukan tanpa alasan. Data dari agensi riset pasar Mintel tahun 2018 yang dikutip waste4change.com menunjukkan bahwa 71% perempuan lebih berusaha hidup secara etis dibandingkan dengan 59% laki-laki. Angka ini memperlihatkan adanya fenomena Eco Gender Gap, yakni kesenjangan dalam penerapan gaya hidup ramah lingkungan antara pria dan wanita.
Dalam konteks rumah tangga, perempuan umumnya memiliki kendali lebih besar dalam hal konsumsi pangan, pengelolaan limbah rumah tangga, hingga pemilihan produk ramah lingkungan. Hal ini diperkuat oleh pendapat Hendro Utomo, pendiri Foodbank of Indonesia (FOI), yang menyebut bahwa sekitar 80% relawan dalam gerakan penyelamatan pangan yang dipelopori FOI adalah perempuan. “Perempuan secara alamiah memiliki keterikatan erat dengan urusan pangan, dari memilih hingga membagikannya. Mereka sangat peka terhadap kebutuhan dan kondisi lapangan,” kata Hendro. Sepanjang Juli–Agustus 2022, FOI melalui program Dapur Pangan Kembangan berhasil menyalurkan hampir 26 kilogram makanan dari Hotel Hilton Garden Inn Taman Palem ke masyarakat yang membutuhkan. Sebagian besar relawan yang terlibat adalah perempuan, yang bekerja dengan penuh dedikasi untuk memastikan tidak ada pangan terbuang sia-sia.
Baca juga:
Jangan Terjerat! Ini 5 Tips Bijak Paylater

Sementara itu, pegiat gaya hidup minim sampah, Andhini Miranda, membuktikan bahwa aksi kecil di rumah bisa menjadi kontribusi besar dalam gerakan global. Ia bersama keluarganya telah menjalani zero waste lifestyle sejak 2012. “Kami bahkan sudah tidak menggunakan tempat sampah lagi di rumah sejak 2018,” ujar Andhini, pendiri @021suarasampah dan penggagas Gerakan Keluarga Tanpa Sampah. Andhini mulai dengan mengganti popok sekali pakai dengan popok kain, membawa wadah belanja sendiri, dan menghindari produk kemasan. Semua sampah yang tidak terhindarkan dipilah dan diolah sedemikian rupa agar tidak berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Gerakan ini juga merambah dunia kuliner. Chef Ragil Imam Wibowo, pemilik restoran Nusa Indonesian Gastronomy, menjadikan dapurnya sebagai laboratorium inovasi zero waste. Kulit nanas yang biasanya dibuang, ia olah menjadi minuman penyambut tamu. Ia juga tengah meneliti pemanfaatan ampas kopi menjadi briket arang.
“Selain itu, kami berupaya menggunakan bahan lokal dan alat dapur produksi dalam negeri untuk mengurangi jejak karbon,” ujarnya. Tak hanya perempuan atau pelaku industri, generasi muda pun bergerak. Arka Irfani, generasi Z kelahiran 1996, mendirikan Bell Society bersama temannya, Gita Semeru. Mereka menciptakan kulit vegan berbahan selulosa mikroba dari limbah singkong dan ubi. Inovasi ini mampu menghasilkan material pengganti kulit sintetis yang ramah lingkungan, fleksibel, dan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). “Bahan ini sudah digunakan untuk membuat dompet, pakaian, hingga furnitur. Kami ingin industri ikut beralih ke material berkelanjutan,” tutur Arka, peraih Swiss Innovation Challenge 2019.
Baca juga:
Clean Eating: Panduan Praktis Menuju Gaya Hidup Sehat
Meski semakin banyak pihak yang tergerak, Hendro Utomo menyoroti tantangan besar yang masih ada. Ia mengkritik rendahnya kepedulian pemimpin terhadap isu hak atas pangan. “Kita belum punya regulasi yang melindungi kedermawanan dunia usaha untuk menyumbangkan pangan berlebih. Padahal satu undang-undang saja bisa menekan kemubaziran dan menghapus kelaparan,” tegas Hendro. Ia juga menyayangkan keterputusan masyarakat dari sumber pangan. “Kita tidak lagi mengenal petani dan nelayan. Gandum sebagai pangan pokok kedua kita bahkan ditanam ribuan kilometer dari Indonesia. Ini membuat kita kehilangan empati dan penghargaan terhadap pangan,” katanya. Pentingnya peran perempuan dan lintas generasi dalam gerakan zero waste bukanlah soal gender, tapi kemanusiaan. Seperti kata Andhini, “Semua orang—laki-laki, perempuan, tua, muda—seharusnya punya tanggung jawab yang sama dalam menjaga bumi.”
Dengan langkah kecil yang konsisten dan dukungan kebijakan strategis, impian Indonesia yang bebas sampah dan pangan berkelanjutan bukanlah hal yang mustahil. (dht)