Kanal24, Malang – Pernahkah kamu merasa sakit kepala, perut mual, atau jantung berdebar padahal hasil pemeriksaan medis menunjukkan tubuhmu baik-baik saja? Jangan-jangan itu bukan sekadar lelah, melainkan tanda psikosomatis.
Psikosomatis adalah kondisi ketika pikiran atau emosi negatif, seperti stres dan cemas, memengaruhi tubuh hingga menimbulkan gejala fisik nyata. Walau tidak ditemukan kerusakan organ, rasa sakit yang muncul tetap benar-benar dirasakan penderita.
Baca juga:
Overthinking & Homesick: Kenapa Mahasiswa Baru Perlu Jaga Kesehatan Mental?
Gejala yang Nyata Meski Sulit Dipahami
Gejala psikosomatis bisa muncul di berbagai bagian tubuh. Ada yang mengalami nyeri dada, sakit kepala, sesak napas, hingga gangguan pencernaan seperti kembung dan mual. Beberapa orang juga merasakan kulit gatal, jantung berdebar, telapak tangan berkeringat, sampai sulit tidur. Rasa sakit ini sering membuat penderita bingung, karena hasil tes medis biasanya tidak menunjukkan adanya penyakit.
Bagaimana Pikiran Bisa Menyakitkan Tubuh?
Ketika seseorang berada dalam kondisi stres, otak memicu pelepasan hormon adrenalin yang memengaruhi sistem saraf. Akibatnya, tubuh bisa gemetar, jantung berdetak lebih cepat, dan perut terasa tidak nyaman. Respons ini sebenarnya adalah reaksi alami tubuh terhadap tekanan, namun jika berlangsung terus-menerus, ia bisa menimbulkan gejala yang mengganggu kesehatan.
Siapa yang Rentan?
Psikosomatis biasanya muncul pada orang yang mengalami tekanan emosional berkepanjangan. Beban pekerjaan, trauma, kecemasan berlebihan, hingga masalah dalam kehidupan sehari-hari bisa menjadi pemicu. Bahkan, penyakit fisik seperti asma, tukak lambung, atau hipertensi dapat semakin parah bila faktor psikologis tidak ditangani dengan baik.
Cara Mengatasinya
Menangani psikosomatis tidak cukup hanya dengan obat fisik. Dibutuhkan pendekatan holistik yang menyentuh pikiran dan tubuh sekaligus. Beberapa langkah yang dapat membantu antara lain:
Baca juga:
Lulusan Disabilitas Masih Sulit Masuk Dunia Kerja
- Psikoterapi untuk memahami dan mengubah pola pikir negatif.
- Latihan relaksasi seperti meditasi, yoga, atau pernapasan dalam.
- Obat-obatan tertentu jika gejala mental sangat berat.
- Terapi lanjutan misalnya biofeedback atau terapi keluarga.
- Gaya hidup sehat melalui olahraga, tidur cukup, serta menjaga komunikasi sosial yang positif.
Menjaga Pikiran, Menjaga Tubuh
Psikosomatis bukan sekadar “sugesti” atau “dibesar-besarkan.” Tubuh benar-benar merasakan sakit ketika pikiran sedang kacau. Karena itu, penting untuk tidak mengabaikan gejala ini. Mendengarkan sinyal tubuh, mencari bantuan profesional, dan merawat kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. (han)