Kanal24, Malang — Universitas Brawijaya menegaskan perannya sebagai arsitek peradaban, bukan sekadar institusi pencetak lulusan. Penegasan ini disampaikan Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., dalam Rapat Pleno Terbuka Majelis Wali Amanat dalam rangka Dies Natalis ke-63 Universitas Brawijaya, yang digelar di Gedung Samantha Krida, Senin (5/1/2026).
Di hadapan Majelis Wali Amanat, Senat Akademik, pimpinan universitas, serta tamu kehormatan, Rektor UB menyampaikan laporan kinerja tahunan yang menyoroti capaian strategis UB sekaligus arah transformasi universitas menuju research university berdampak global.
Prof. Widodo menekankan bahwa Universitas Brawijaya mengemban “janji peradaban” melalui motonya Building a Noble Future. Menurutnya, universitas tidak boleh berhenti pada pengajaran di ruang kelas, melainkan harus hadir sebagai kekuatan intelektual yang melahirkan solusi kebijakan, inovasi, dan arah perubahan zaman.
“Universitas sejatinya bukan menara gading. Ia harus hadir di tengah masyarakat dan ikut membentuk peradaban,” ujar Prof. Widodo.
Capaian Akademik dan SDM
Dalam laporannya, Prof. Widodo menyampaikan bahwa Universitas Brawijaya kini memiliki 1.908 program studi, dengan lebih dari 85 persen terakreditasi unggul. Selain itu, terdapat 85 program studi terakreditasi internasional, menandai penguatan standar pendidikan global di lingkungan UB.
Jumlah mahasiswa UB mencapai sekitar 70 ribu orang, terdiri atas 62 ribu mahasiswa sarjana dan 8 ribu mahasiswa pascasarjana. Rektor menegaskan bahwa peningkatan jumlah mahasiswa pascasarjana menjadi fokus penting, seiring target UB bertransformasi menjadi universitas riset.
Di sisi sumber daya manusia, UB memiliki lebih dari 2.300 dosen, didukung ribuan tenaga kependidikan. Prof. Widodo menekankan pentingnya transformasi peran dosen, dari pengajar menjadi academic leader dan knowledge creator.
Riset, Inovasi, dan Publikasi
Sepanjang 2025, UB mencatat 1.996 judul penelitian dengan total anggaran lebih dari Rp130 miliar. Kualitas publikasi ilmiah juga mengalami peningkatan signifikan, dengan mayoritas artikel kini berada pada jurnal bereputasi Q1, bergeser dari dominasi Q4 pada tahun-tahun sebelumnya.
UB juga mencatat lebih dari 80 paten aktif, ratusan buku akademik, serta berbagai produk inovasi, termasuk di bidang kesehatan dan pangan. Untuk mendukung produktivitas ilmiah, UB mengalokasikan insentif publikasi hingga Rp30 miliar.
Internasionalisasi, Tata Kelola dan Reputasi Global
Dalam aspek internasionalisasi, Universitas Brawijaya mengimplementasikan 246 kerja sama luar negeri, melibatkan ratusan dosen dan profesor asing melalui program 3 in 1 dan visiting professor. Di bidang pengabdian masyarakat, UB melaksanakan lebih dari 1.000 kegiatan di berbagai daerah di Indonesia, dengan anggaran sekitar Rp18 miliar.
Dari sisi tata kelola, UB memperoleh predikat A untuk kinerja rumah sakit pendidikan dan enam tahun berturut-turut meraih penghargaan sebagai universitas informatif. Secara global, UB kini berada di 150 besar Asia, 680 besar dunia versi QS, serta masuk 400 besar dunia untuk Impact Ranking.
Selain itu, lebih dari 85 persen lulusan UB terserap dunia kerja tepat waktu, menempatkan UB dalam jajaran 10 besar perguruan tinggi dengan lulusan berkinerja tinggi di Indonesia.
Arah Transformasi 2026
Menutup laporannya, Prof. Widodo menegaskan bahwa arah UB ke depan adalah memperkuat ekosistem riset, transformasi digital, dan kolaborasi global, agar dampak perguruan tinggi benar-benar dirasakan masyarakat.
“Universitas bukan pabrik ijazah, melainkan tempat merancang peradaban dunia,” tegasnya.(Din/Cay)















Comments 2