Kanal24, Malang — Ketahanan pangan nasional tidak hanya ditentukan oleh jumlah ternak, tetapi oleh seberapa presisi ternak dipelihara sejak dari pakan. Di tengah tantangan tingginya biaya produksi peternakan, riset berbasis teknologi menjadi kunci untuk menjawab efisiensi sekaligus produktivitas sektor ini.
Urgensi itu mengemuka dalam Ujian Disertasi Terbuka Program Doktor Ilmu Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (UB), Kamis (27/2/2026), melalui penelitian berjudul “Arganin-Tanin dalam Pelet Konsentrat Berbasis Indigofera dengan Level Berbeda terhadap Mikrobiomik, Metabolomik, dan Produksi Domba.”
Penelitian yang dilakukan M. Fadhlirrahman Latief, kandidat doktor Ilmu Ternak UB, menghadirkan pendekatan baru dalam formulasi pakan ternak: bukan lagi sekadar nutrisi konvensional, melainkan pakan berbasis data biologis mikroorganisme di dalam tubuh ternak.

Fadhlirrahman menjelaskan, penelitian ini mengembangkan formulasi pakan pelet dengan suplementasi arginin dan tanin yang dirancang untuk meningkatkan pertumbuhan sekaligus reproduksi domba melalui pendekatan mikrobiomik dan metabolomik.
“Pendekatan mikrobioma menjadi penting karena sangat memengaruhi fermentasi di rumen. Dengan memahami mikrobioma, kecernaan pakan bisa dibuat lebih presisi sehingga ke depan formulasi pakan dapat berbasis mikrobioma, termasuk pengembangan probiotik dan prebiotik,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa penelitian ini melihat sistem pakan secara menyeluruh, mulai dari pengujian in vitro hingga in vivo, guna memastikan efektivitas biologis sekaligus potensi penerapan di lapangan.
Menurutnya, fokus pada pakan menjadi krusial karena komponen ini menyumbang sekitar 70 persen biaya produksi peternakan. Karena itu, inovasi formulasi pakan berpotensi langsung menekan biaya sekaligus meningkatkan produktivitas ternak.
“Harapannya, dampaknya tidak hanya pada produktivitas, tetapi juga kesehatan organ reproduksi ternak sehingga bisa dihilirisasikan dan dimanfaatkan masyarakat,” tambahnya.

Promotor disertasi, Prof. Dr. Sc. Agr. Ir. Suyadi, MS., IPU., ASEAN Eng., menilai riset ini membuka perspektif baru dalam pengembangan teknologi pakan berbasis sains modern.
Menurutnya, penggunaan teknologi mikrobiomik melalui New Generation Sequencing (NGS) menjadi lompatan penting menuju sistem peternakan presisi berbasis data.
“Disertasi ini membuka jendela teknologi masa kini dan masa depan. Kita mulai merancang pakan berbasis data sehingga presisi menjadi fokus utama,” jelasnya.
Ia menambahkan, penelitian tersebut telah mencapai tingkat keterterapan teknologi (TKT) menengah dan berpotensi berkembang hingga tahap produksi industri apabila dikembangkan melalui kolaborasi riset dan sektor industri pakan.
Pemanfaatan teknologi mikrobiomik, lanjutnya, memungkinkan pengembangan probiotik dan prebiotik baru yang mampu meningkatkan efisiensi produksi maupun reproduksi ternak secara signifikan.
“Jika dikembangkan bersama industri, teknologi ini dapat memberi keuntungan bagi perguruan tinggi, industri, sekaligus peternak karena sistem peternakan menjadi lebih efisien,” tegasnya.
Disertasi ini menunjukkan arah baru pembangunan peternakan berbasis ilmu hayati dan teknologi presisi. Integrasi data mikrobioma, metabolisme, dan formulasi pakan membuka peluang transformasi sektor peternakan dari pendekatan konvensional menuju sistem berbasis sains.
Di tengah kebutuhan peningkatan produksi protein hewani nasional, riset semacam ini menjadi fondasi penting untuk menciptakan peternakan yang efisien, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi global.
Karena pada akhirnya, masa depan peternakan tidak lagi hanya bergantung pada jumlah pakan yang diberikan, tetapi pada seberapa tepat pakan itu dirancang — hingga ke tingkat mikroorganisme di dalam tubuh ternak.(Din/Awn)














