Kanal24, Malang – Pergerakan pasar keuangan Indonesia kembali menunjukkan arah yang berbeda pada perdagangan Rabu (29/7/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih melanjutkan pelemahan hingga menyentuh level Rp18.099 per dolar AS. Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru membuka perdagangan di zona hijau.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pelemahan nilai tukar tidak selalu diikuti tekanan pada pasar saham. Di tengah berbagai sentimen global dan domestik yang masih membayangi, investor mulai melihat peluang di sejumlah saham unggulan sehingga IHSG mampu mencatatkan penguatan pada awal sesi perdagangan.
Baca Juga:
Pemerintah Respons Penilaian IMF dan S&P: Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Kuat
Ekspektasi The Fed Masih Membayangi Rupiah
Pelemahan rupiah dinilai masih dipengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS masih akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi juga menilai ketidakpastian global, termasuk perkembangan geopolitik di Timur Tengah, masih menjadi faktor yang membuat pelaku pasar berhati-hati. Selain itu, pasar sempat merespons pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia yang dinilai menambah ketidakpastian di tengah tekanan terhadap rupiah.
“Namun, penunjukan Destry Damayanti memberi optimisme pasar akan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan laju inflasi, serta mempertahankan stabilitas sistem keuangan yang berkelanjutan,” ungkap Ibrahim dikutip Antara News, Selasa (28/7/2026).
Sementara itu, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan moneter.
“Tidak hanya mengandalkan suku bunga kebijakan, instrumen moneter lain juga dipertajam,” kata Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, dikutip Antara News, Rabu (29/7/2026).
IHSG Rebound Meski Rupiah Masih Tertekan
Berbeda dengan pergerakan rupiah, IHSG membuka perdagangan dengan kenaikan 10,57 poin atau 0,17 persen ke level 6.141,16. Indeks LQ45 juga ikut menguat, didorong kenaikan sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti ESSA Industries Indonesia, Petrindo Jaya Kreasi, dan Solusi Sinergi Digital.
Meski demikian, beberapa saham masih berada di zona merah, menunjukkan bahwa pelaku pasar belum sepenuhnya lepas dari sikap hati-hati menghadapi berbagai sentimen ekonomi global maupun domestik.
Pasar Masih Menunggu Kepastian
Sebelumnya, IHSG sempat ditutup melemah pada perdagangan Selasa seiring tekanan terhadap rupiah. Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menilai investor masih memilih menunggu arah kebijakan The Fed serta perkembangan penunjukan Gubernur Bank Indonesia yang definitif.
“Investor masih bersikap wait and see di tengah meningkatnya ketidakpastian terkait penunjukan Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif berikutnya yang dinilai dapat berpengaruh terhadap kebijakan bank sentral ke depannya.” ujar Ratna Lim dikutip Antara News, Selasa (28/7/2026).
Pergerakan rupiah dan IHSG pada hari ini menjadi pengingat bahwa pasar keuangan tidak hanya dipengaruhi kondisi ekonomi dalam negeri, tetapi juga dipengaruhi dinamika global. Selama ketidakpastian masih tinggi, volatilitas diperkirakan tetap akan mewarnai perdagangan dalam beberapa waktu ke depan. (ndr)














