Kanal24, Malang – Pernahkah kamu merasa bad mood lalu spontan membuka aplikasi belanja online? Tanpa rencana, jari-jemari menggulir katalog, mengisi keranjang, bahkan sekadar menikmati sensasi menambahkan barang meski tak selalu membeli. Ajaibnya, hati terasa lebih ringan. Fenomena sederhana ini kini dikenal dengan istilah retail therapy.
Menurut Cleveland Clinic, retail therapy adalah kebiasaan berbelanja untuk memperbaiki suasana hati atau melupakan emosi yang sulit. Aktivitas ini tidak selalu berujung pada pembelian besar, melainkan bisa berupa window shopping, sekadar melihat-lihat produk, hingga mengisi keranjang belanja virtual.
Baca juga:
3 Jam Tangan Tipis Elegan untuk Pria

Belanja sebagai Kendali Emosi
Riset dalam Journal of Consumer Psychology (2014) mengungkapkan, membuat keputusan sederhana seperti memilih barang dapat memunculkan rasa kendali yang sering hilang saat seseorang merasa sedih atau stres. Dengan kata lain, aktivitas ini memberi “ilusi kontrol” yang berdampak positif pada psikologis.
Hal serupa ditegaskan oleh Psychology Today. Belanja memang bukan terapi medis, tetapi terbukti membantu sebagian orang meredam tekanan emosional. Efek ini bekerja melalui rasa antisipasi dan kepuasan sesaat ketika berhasil membawa pulang atau sekadar menatap barang idaman (Psychology Today).
Window Shopping pun Bisa Menghibur
Tidak semua orang yang melakukan retail therapy benar-benar mengeluarkan uang. Menurut WebMD, melihat-lihat produk di pusat perbelanjaan atau katalog online saja sudah cukup untuk meningkatkan mood. Aktivitas tersebut memberi pengalaman emosional yang menyenangkan karena otak merespons seolah-olah sedang mendapatkan sesuatu yang baru.
Tren Global: Terapi Universal
Fenomena ini ternyata bersifat lintas negara. Survei global Deloitte pada 2023 mencatat, hampir 80 persen responden di 23 negara pernah membeli sesuatu semata-mata untuk menyenangkan diri, meski hanya 42 persen yang sebenarnya mampu secara finansial. Data ini menunjukkan bahwa dorongan untuk “memanjakan diri” lewat belanja adalah hal universal, tidak terbatas pada gender, usia, atau kelas sosial (Deloitte via Forbes).
Sementara itu, survei LendingTree yang dikutip Midland Paper menyebut hampir setengah konsumen Amerika melakukan retail therapy untuk memperbaiki mood. Barang yang paling sering dibeli adalah makanan dan minuman (63%), pakaian dan aksesori (54%), serta produk kecantikan (42%) (Midland paper).
Mengapa Efektif?
Psikolog konsumen Chris Gray, Psy.D., menjelaskan bahwa makanan dan minuman adalah pilihan populer dalam retail therapy karena menyentuh aspek emosional manusia. “Selain nutrisi, makanan memberi kenyamanan, hiburan, bahkan rasa penasaran lewat pengalaman mencoba hal baru,” jelasnya dalam laporan Forbes. Efek ini memicu pelepasan dopamin di otak hormon yang berhubungan dengan kebahagiaan.
Selain itu, retail therapy juga memberi rasa self-reward. Bagi sebagian orang, memberi hadiah kecil pada diri sendiri menjadi bentuk penghargaan setelah melalui hari yang berat. Di era digital, perasaan ini diperkuat dengan kemudahan akses belanja online, yang membuat aktivitas retail therapy semakin cepat dan instan.
Baca juga:
Lima Trik Ampuh Hilangkan Noda di Baju Putih
Batas Tipis: Hiburan atau Masalah?
Meski banyak manfaatnya, para ahli mengingatkan agar retail therapy tidak berubah menjadi kecanduan belanja. Verywell Health menyebut sekitar 6–8 persen orang dewasa mengalami compulsive buying disorder, kondisi ketika belanja dijadikan pelarian utama hingga berdampak pada keuangan pribadi (Verywell Health).
Laporan NerdWallet (2024) juga menemukan 30 persen orang Amerika membeli barang hanya untuk memperbaiki mood dalam setahun terakhir, namun 15 persen di antaranya menyesal setelahnya, dan 41 persen mengaku terjebak utang kartu kredit akibat kebiasaan itu (NerdWallet).
Belanja, pada akhirnya, bukan hanya soal transaksi, tetapi juga interaksi emosional. Aktivitas sederhana ini bisa menjadi jeda sejenak dari rutinitas melelahkan. Namun, sebagaimana terapi apa pun, kuncinya adalah keseimbangan. Retail therapy sebaiknya dilihat sebagai bentuk self-care kecil, bukan pelarian permanen. Karena pada titik tertentu, “klik add to cart” hanyalah cara untuk merayakan diri selama dilakukan dengan bijak. (han)