Kanal24
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Login
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
No Result
View All Result
Kanal24
No Result
View All Result

Sedih? Klik ‘Add to Cart’: Efek Psikologis Retail Therapy

Einid Shandy by Einid Shandy
August 31, 2025
in Gaya Hidup
0
Sedih? Klik ‘Add to Cart’: Efek Psikologis Retail Therapy

Sedih? Klik 'Add to Cart': Efek Psikologis Retail Therapy (Freepik)

0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Kanal24, Malang – Pernahkah kamu merasa bad mood lalu spontan membuka aplikasi belanja online? Tanpa rencana, jari-jemari menggulir katalog, mengisi keranjang, bahkan sekadar menikmati sensasi menambahkan barang meski tak selalu membeli. Ajaibnya, hati terasa lebih ringan. Fenomena sederhana ini kini dikenal dengan istilah retail therapy.

Menurut Cleveland Clinic, retail therapy adalah kebiasaan berbelanja untuk memperbaiki suasana hati atau melupakan emosi yang sulit. Aktivitas ini tidak selalu berujung pada pembelian besar, melainkan bisa berupa window shopping, sekadar melihat-lihat produk, hingga mengisi keranjang belanja virtual.

Baca juga:
3 Jam Tangan Tipis Elegan untuk Pria

Belanja sebagai Kendali Emosi

Riset dalam Journal of Consumer Psychology (2014) mengungkapkan, membuat keputusan sederhana seperti memilih barang dapat memunculkan rasa kendali yang sering hilang saat seseorang merasa sedih atau stres. Dengan kata lain, aktivitas ini memberi “ilusi kontrol” yang berdampak positif pada psikologis.

Hal serupa ditegaskan oleh Psychology Today. Belanja memang bukan terapi medis, tetapi terbukti membantu sebagian orang meredam tekanan emosional. Efek ini bekerja melalui rasa antisipasi dan kepuasan sesaat ketika berhasil membawa pulang atau sekadar menatap barang idaman (Psychology Today).

Window Shopping pun Bisa Menghibur

Tidak semua orang yang melakukan retail therapy benar-benar mengeluarkan uang. Menurut WebMD, melihat-lihat produk di pusat perbelanjaan atau katalog online saja sudah cukup untuk meningkatkan mood. Aktivitas tersebut memberi pengalaman emosional yang menyenangkan karena otak merespons seolah-olah sedang mendapatkan sesuatu yang baru.

Tren Global: Terapi Universal

Fenomena ini ternyata bersifat lintas negara. Survei global Deloitte pada 2023 mencatat, hampir 80 persen responden di 23 negara pernah membeli sesuatu semata-mata untuk menyenangkan diri, meski hanya 42 persen yang sebenarnya mampu secara finansial. Data ini menunjukkan bahwa dorongan untuk “memanjakan diri” lewat belanja adalah hal universal, tidak terbatas pada gender, usia, atau kelas sosial (Deloitte via Forbes).

Sementara itu, survei LendingTree yang dikutip Midland Paper menyebut hampir setengah konsumen Amerika melakukan retail therapy untuk memperbaiki mood. Barang yang paling sering dibeli adalah makanan dan minuman (63%), pakaian dan aksesori (54%), serta produk kecantikan (42%) (Midland paper).

Mengapa Efektif?

Psikolog konsumen Chris Gray, Psy.D., menjelaskan bahwa makanan dan minuman adalah pilihan populer dalam retail therapy karena menyentuh aspek emosional manusia. “Selain nutrisi, makanan memberi kenyamanan, hiburan, bahkan rasa penasaran lewat pengalaman mencoba hal baru,” jelasnya dalam laporan Forbes. Efek ini memicu pelepasan dopamin di otak hormon yang berhubungan dengan kebahagiaan.

Selain itu, retail therapy juga memberi rasa self-reward. Bagi sebagian orang, memberi hadiah kecil pada diri sendiri menjadi bentuk penghargaan setelah melalui hari yang berat. Di era digital, perasaan ini diperkuat dengan kemudahan akses belanja online, yang membuat aktivitas retail therapy semakin cepat dan instan.

Baca juga:
Lima Trik Ampuh Hilangkan Noda di Baju Putih

Batas Tipis: Hiburan atau Masalah?

Meski banyak manfaatnya, para ahli mengingatkan agar retail therapy tidak berubah menjadi kecanduan belanja. Verywell Health menyebut sekitar 6–8 persen orang dewasa mengalami compulsive buying disorder, kondisi ketika belanja dijadikan pelarian utama hingga berdampak pada keuangan pribadi (Verywell Health).

Laporan NerdWallet (2024) juga menemukan 30 persen orang Amerika membeli barang hanya untuk memperbaiki mood dalam setahun terakhir, namun 15 persen di antaranya menyesal setelahnya, dan 41 persen mengaku terjebak utang kartu kredit akibat kebiasaan itu (NerdWallet).

Belanja, pada akhirnya, bukan hanya soal transaksi, tetapi juga interaksi emosional. Aktivitas sederhana ini bisa menjadi jeda sejenak dari rutinitas melelahkan. Namun, sebagaimana terapi apa pun, kuncinya adalah keseimbangan. Retail therapy sebaiknya dilihat sebagai bentuk self-care kecil, bukan pelarian permanen. Karena pada titik tertentu, “klik add to cart” hanyalah cara untuk merayakan diri selama dilakukan dengan bijak. (han)

Post Views: 38
Tags: Add to CartKANAL24kanal24.co.idPsikologisRetail Therapyuniversitas brawijaya
Previous Post

Sigma Male: Misterius, Mandiri, dan Berpengaruh

Next Post

Psikosomatis, Pikiran Bisa Bikin Badan Sakit

Einid Shandy

Einid Shandy

Reporter dan penulis Kanal24

Next Post
Psikosomatis, Pikiran Bisa Bikin Badan Sakit

Psikosomatis, Pikiran Bisa Bikin Badan Sakit

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest

ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

August 4, 2023

Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

August 3, 2023

AYAT-AYAT KREATIFITAS DAN INOVASI PELAYANAN

August 4, 2023
oval layer

5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

August 25, 2024
Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

39
Dosen UB Kenalkan Teknologi Pembuatan Pakan Ternak dan Pupuk Organik ke Desa Plandirejo

Dosen UB Kenalkan Teknologi Pembuatan Pakan Ternak dan Pupuk Organik ke Desa Plandirejo

5
Layanan RSUB Kini Terintegrasi dengan Mobile JKN BPJS

Layanan RSUB Kini Terintegrasi dengan Mobile JKN BPJS

4

Review Film : Glass Onion: A Knives Out Story

3
Psikosomatis, Pikiran Bisa Bikin Badan Sakit

Psikosomatis, Pikiran Bisa Bikin Badan Sakit

August 31, 2025
Sedih? Klik ‘Add to Cart’: Efek Psikologis Retail Therapy

Sedih? Klik ‘Add to Cart’: Efek Psikologis Retail Therapy

August 31, 2025
Sigma Male: Misterius, Mandiri, dan Berpengaruh

Sigma Male: Misterius, Mandiri, dan Berpengaruh

August 31, 2025
Cardio vs Strength: Mana yang Lebih Efektif?

Cardio vs Strength: Mana yang Lebih Efektif?

August 31, 2025

Popular Stories

  • ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AYAT-AYAT KREATIFITAS DAN INOVASI PELAYANAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yuk Kenali Sistem Swiss Manager Dalam Catur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berita
  • Tentang Kanal24
  • Galeri
  • Layanan
  • Pedoman Media Siber
Copyright Kanal24.com 2023

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan

Copyright Kanal24.com 2023