Greg Teguh Santoso*
Di lapangan hijau yang berdebu dan riuh itu, sejatinya kita sedang menonton bukan sekadar pertandingan bola, tetapi cermin kehidupan sebuah bangsa. Sepak bola, seperti juga pendidikan, mengajarkan disiplin, kerja sama, kesetiaan pada proses, dan kejujuran dalam bermain. Maka, ketika bangsa kecil seperti Tanjung Verde—yang luasnya tak lebih besar dari kota Bogor—berhasil menembus Piala Dunia 2026, itu bukan keajaiban, melainkan hasil dari sistem yang tertata, jujur, dan sabar. Tanjung Verde sadar sejak awal: mereka miskin sumber daya alam, tetapi kaya tekad untuk menanam investasi pada manusia. Mereka membangun akademi nasional, memberdayakan diaspora, dan menjaga federasi sepak bola yang bersih dari politik praktis. Pelatih mereka, Bubista, dipertahankan sejak 2020 tanpa guncangan jabatan. Hasilnya jelas: mereka lolos ke Piala Dunia.
Sebaliknya, Indonesia yang besar sering tersesat dalam labirin kebijakan dan kebiasaan yang tidak konsisten. Kita mencintai hasil, tapi takut menempuh proses. Padahal dalam pendidikan, seperti juga dalam sepak bola, proses adalah kemenangan yang paling sejati. Pelajaran ini seharusnya sampai ke meja kebijakan kita. Presiden Prabowo Subianto berbicara tentang Sekolah Rakyat, sebuah gagasan untuk membuka akses pendidikan bagi masyarakat kecil, terutama di daerah terpencil. Namun, Sekolah Rakyat bukan sekadar soal fasilitas. Ia harus menjadi ekosistem jiwa belajar bangsa, sebuah sistem yang menumbuhkan karakter dan kemandirian, bukan sekadar ijazah.
Jika Tanjung Verde membangun akademi sepak bola rakyat untuk menyiapkan generasi pemain jujur dan disiplin, maka Sekolah Rakyat Prabowo pun perlu menjadi akademi kehidupan, tempat anak-anak desa belajar mencintai proses, mencintai tanah air, dan menghormati kerja keras. Di situlah titik temu antara bola dan bangsa. Gagasan Sekolah yang Menyentuh Jiwa tidak berhenti pada kurikulum atau teknologi digital. Ia adalah sebuah gerakan batin dan gerakan nasional nan konsisten untuk menghidupkan pendidikan sebagai pengalaman yang manusiawi.
Sekolah seperti ini menolak menjadi pabrik nilai untuk sekedar lulus dan berolah ijazah. Ia memilih menjadi taman tempat anak-anak tumbuh sesuai kodratnya: jujur, berani, dan sadar makna kehidupan berbangsa dan bernegara. Sekolah yang menyentuh jiwa adalah sekolah yang menghidupkan nilai-nilai seperti: guru menjadi pendengar, bukan penguasa apalagi menyalah-gunakan kuasanya; di mana belajar menjadi ruang dialog, bukan ruang ujian; dan di mana refleksi menjadi napas harian, bukan kegiatan seremonial belaka.
Sepak bola dan sekolah, keduanya butuh sistem dan jiwa. Sistem tanpa jiwa akan melahirkan rutinitas yang hampa. Jiwa tanpa sistem akan melahirkan idealisme tanpa arah. Keduanya harus berpadu agar bangsa ini tidak hanya pandai bermimpi, tetapi juga mampu melangkah. Seperti halnya pelatih sepak bola, guru adalah arsitek karakter. Bubista, pelatih Tanjung Verde, tidak hanya mengajari taktik, tetapi juga membangun kepercayaan diri para pemainnya. Ia percaya bahwa manusia harus tumbuh dalam kepercayaan, bukan ketakutan.
Demikian pula guru dalam Sekolah Rakyat: mereka bukan sekadar pengajar, tetapi penyemai nilai. Mereka mengajarkan bahwa belajar bukan untuk naik kelas, melainkan untuk naik derajat kemanusiaan. Pendidikan yang menyentuh jiwa membutuhkan guru yang reflektif—guru yang berani mengakui kekurangan, yang mau belajar dari murid, dan yang melihat setiap anak sebagai potensi, bukan masalah. Seperti halnya sepak bola, mereka bukan mengejar kemenangan instan, melainkan membangun karakter untuk menang dengan bermartabat.
Sekolah Rakyat yang digagas Prabowo dapat menjadi momentum untuk memperbaiki arah pendidikan kita: dari kuantitas menuju kualitas batin; dari pemerataan fasilitas menuju pemerataan kesempatan bermakna; dari proyek ke proses. Pada titik inilah, mungkin, mimpi pendidikan Indonesia menemukan maknanya: di titik di mana sekolah, sepak bola, dan jiwa bangsa berpadu menjadi satu irama: irama belajar untuk mencintai negeri dan membangun kehidupan semua anggota bangsa yang lebih baik.
*) Greg Teguh Santoso
Doktor Knowledge Management, praktisi sistem manajemen pendidikan, dan pemerhati budaya belajar bangsa.














