Kanal24, Malang – Isu perang, konflik sosial, hingga relasi kuasa tidak selalu disampaikan melalui pidato atau tulisan. Seniman sekaligus tenaga kependidikan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya, Happy Wahyu Firdaus, S.Sn., memilih tubuh sebagai medium untuk mengajak publik memahami berbagai persoalan kemanusiaan melalui pameran tunggal bertajuk AKAR.
Melalui tema besar Corpus Fractum, Happy menghadirkan karya-karya yang merefleksikan tubuh sebagai ruang yang menyimpan luka, tekanan, dan pengalaman manusia akibat berbagai persoalan sosial. Gagasan tersebut ia sampaikan dalam wawancara bersama UBTV di Studio UBTV Lantai 2 Gedung Direktorat Universitas Brawijaya, Rabu (5/8/2026).
Baca juga:
Ratusan Mahasiswa Baru UB Antusias Ambil Jas Almamater Jelang PKKMB
Tubuh Menjadi Medium Membaca Konflik Sosial
Happy menjelaskan bahwa Corpus Fractum merupakan respons artistiknya terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat, mulai dari perang hingga relasi kuasa yang meninggalkan dampak bagi kehidupan manusia.

Baginya, tubuh bukan hanya objek visual, tetapi juga bahasa yang mampu menyampaikan pengalaman manusia secara utuh, baik yang tampak secara fisik maupun yang tersimpan sebagai luka psikologis.
“Saya meminjam tubuh sebagai bahasa visual untuk menunjukkan bahwa dampak sebuah konflik bukan hanya terlihat secara fisik, tetapi juga meninggalkan luka psikologis,” ujar Happy.
Ia mengungkapkan, proses kreatif tersebut berawal dari pengalaman pribadi yang kemudian berkembang menjadi refleksi atas pengalaman banyak orang. Ide-ide tersebut diperdalam melalui riset mandiri dan penelusuran berbagai referensi sebelum diterjemahkan menjadi karya seni.
Menurutnya, pendekatan tersebut membuat setiap karya tidak hanya menghadirkan bentuk visual, tetapi juga menyimpan narasi yang mengajak pengunjung membaca kembali berbagai persoalan kemanusiaan.
Perspektif Baru dalam Membaca Tubuh
Meski masih menjadikan tubuh sebagai bahasa visual utama, Happy menilai pameran kali ini memiliki sudut pandang yang berbeda dibandingkan karya-karyanya sebelumnya.
Jika pada pameran terdahulu tubuh lebih banyak dipahami sebagai medium ekspresi, kali ini ia mengeksplorasi tubuh yang mengalami kerusakan, keterpecahan, hingga fragmentasi akibat berbagai konflik dan tekanan kehidupan.
Di balik proses kreatif tersebut, ia mengaku tantangan terbesar justru datang dari keterbatasan waktu. Dengan waktu persiapan yang relatif singkat, ia tetap berupaya menyelesaikan seluruh rangkaian karya secara maksimal tanpa mengurangi kedalaman konsep yang ingin disampaikan.
Bagi Happy, setiap karya harus mampu menjawab kegelisahan yang melatarbelakangi proses penciptaannya sekaligus membuka ruang dialog bagi penikmat seni.
Seni Sebagai Ruang Refleksi Diri
Happy berharap para pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati karya secara visual, tetapi juga membawa pulang ruang perenungan setelah meninggalkan area pameran.
Ia ingin setiap orang mempertanyakan kembali hubungan dirinya dengan tubuh yang dimiliki, bagaimana manusia menghadapi berbagai persoalan hidup, serta sejauh mana tubuh masih memiliki otonomi di tengah berbagai tekanan sosial.
“Saya ingin pengunjung keluar dari ruang pamer dengan membawa pertanyaan besar tentang dirinya sendiri. Apakah tubuh sudah benar-benar otonom atas dirinya, dan bagaimana manusia dapat keluar dari berbagai persoalan yang dihadapi,” katanya.
Setelah pameran tunggal AKAR, Happy mengaku telah mulai menyiapkan proyek berikutnya. Ia masih akan menjadikan tubuh sebagai bahasa visual utama, namun dengan eksplorasi yang lebih luas terhadap isu identitas, konflik, budaya, dan berbagai fenomena sosial yang dinilainya terus berkembang.
Bagi Happy, seni tidak selalu menghadirkan jawaban. Melalui AKAR, ia justru berharap setiap karya menjadi ruang refleksi yang mengajak masyarakat lebih peka terhadap berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi di sekitar mereka. (ern)













