KANAL24, Malang – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) membukukan kinerja kuat pada penyaluran kredit secara konsolidasi yang tercatat Rp110,5 triliun atau melonjak 46,65 persen dibandingkan akhir 2024 senilai Rp75,35 triliun.
Laporan keuangan emiten berkode BJTM untuk periode yang berakhir 31 Desember 2025, total penyaluran kredit tersebut belum dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai ( CKPN ) sebesar Rp3,71 triliun atau lebih tinggi dibandingkan dengan CKPN setahun sebelumnya Rp2,11 triliun.
Pertumbuhan penyaluran Bank Jatim itu sejalan dengan peningkatan total aset konsolidasi per 31 Desember 2025 sebesar 42,9 persen (year-on-year) menjadi Rp168,86 triliun. Pendapatan bunga bersih (NII) di 2025 sebesar Rp7,22 triliun atau meningkat 26 persen dibandingkan Tahun Buku 2024 senilai Rp5,73 triliun.
Mengutip keterangan Direktur Utama Bank Jatim, Winardi Legowo pada paran publik Senin 30 Maret 2026 kemarin, perseroan mencatatkan laba bersih tahun berjalan (konsolidasian) di 2025 mencapai Rp1,62 triliun atau meningkat 24,8 persen (y-o-y), sedangkan besaran laba bersih tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk untuk Tahun Buku 2025 senilai Rp1,54 triliun atau bertumbuh 20,65 persen (y-o-y).
Baca Juga : 8 Pemda Pemegang Saham Jumbo Bank Jatim
“Menutup Tahun Buku 2025 di tengah dinamisnya kondisi ekonomi di berbagai level, manajemen telah mengimplementasikan beberapa strategi untuk menjaga performa bisnis dan keuangan Bank Jatim,” ujar Winardi.
Dia menjelaskan, perseroan menjaga keseimbangan pengelolaan Dana Pihak Ketiga (DPK) dengan memperbesar rasio dana murah melalui pendekatan transaction banking. Selain itu, BJTM melakukan penerbitan obligasi untuk mendukung portofolio stable fund. “Kami berencana menerbitkan lagi obligasi berkelanjutan tahap kedua, pada tahap pertama mampu mencatatkan oversubscribed,” ucapnya.
Pada sisi penyaluran, lanjut Winardi, Bank Jatim menerapkan strategi kredit yang lebih selektif pada sektor-sektor prospektif, sekaligus memperdalam penetrasi kredit konsumer.
Secara bank only hingga akhir 2025, menurut Winardi, penyaluran kredit tercatat Rp67,24 triliun atau bertumbuh 4,98 persen (y-o-y). Komposisinya terdiri dari kredit konsumer sebesar Rp36,54 triliun atau meningkat 6,2 persen (y-o-y) dan kredit produktif sebesar Rp30,7 triliun atau mengalami kenaikan 3,55 persen (y-o-y).(sdk)














