Setyo Widagdo*
Tiidak cukup menghajar Venezuela dan menangkap Presidennya, Trump terus mengumbar kejumawaannya dengan sesumbar bahwa Dia tidak butuh hukum internasional dan mengklaim dirinya sebagai Presiden sementara Venezuela sampai Pemilu secara demokratis dilangsungkan.
Trump benar benar tidak memperdulikan kecaman dan kutukan dunia sekaligus tidak menyadari bahwa apa yang Dia lakukan merusak tatanan internasional.
Bahkan tidak puas dengan apa yang dilakukan dalam dua minggu ini, Trump terus menerus mengancam akan melakukan aneksasi terhadap Greenland dan melakukan tekanan terhadap Congress AS agar menyetujui rencananya untuk “mencaplok” Greenland. Tindakan Trump ini sungguh keterlaluan, nafsu, ambisi dan kegilaannya seolah tidak terkontrol, melainkan semakin “absurd”
Salah satu media meanstream menyatakan bahwa tindakan Trump ini sudah “barbar”, serta berpotensi memicu Perang Dunia keiga.
Gejalanya hampir mirip dengan sebab-sebab terjadinya Perang Dunia II. (PD II) Penyebab terjadinya PD II adalah kegagalan tatanan internasional setelah PD I.
Kegagalan tatanan internasional ini membuka jalan bagi munculnya Adolf Hitler, Mussolini dan kekaisaran Jepang.
Mereka bertiga ini percaya bahwa kejayaan bangsa dapat dicapai lewat perluasan wilayah dan kekuatan militer
Jerman dibawah Hitler bernafsu menguasai sebagian Eropa dengan menyerbu negara-negara tetangga, demikian juga Italia dibawah Musolini melakukan hal yg sama, sementara Jepang berambisi menguasai Asia Timur dan Pasific.
Ini semua menandai munculnya negara fasis dan toitaliter.
Kini Trump melakukan tindakan yang mirip dengan tindakan Hitler, walaupun dengan cara yang agak berbeda, tetapi esensinya sama.
Lantas mengapa AS bernafsu “mencaplok” Greenland ? Ketertarikan AS (terutama di bawah administrasi Donald Trump) terhadap Greenland semakin intensif karena alasan “Keamanan Nasional” dan “Ekonomi Hijau”.
Ketertarikan AS juga didorong oleh persaingan kekuatan besar (Great Power Competition). Greenland dipandang sebagai “kapal induk permanen” yang tidak bisa tenggelam di Arktik, sekaligus gudang bahan mentah masa depan untuk memenangkan kompetisi teknologi dengan Tiongkok.
Lantas mengapa Greenland menjadi target AS ? Ada apa dengan Greenland ? para pembaca artikel ini mungkin juga ingin tahu dimana Greenland itu ? dsb.
Greenland terletak di titik temu antara Amerika Utara, Eropa, dan Arktik. Secara militer, ini adalah lokasi terbaik untuk memantau aktivitas di Kutub Utara. Bagi AS Greenland memiliki posisi yang sangat strategis karena terletak di antara Amerika Utara dan Rusia.
Greenland sendiri sepenuhnya berada dibawah kedaulatan Denmark. Hubungan Greenland dan Denmark tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang selama hampir 1.000 tahun. Para pembaca dapat membaca berbagai literatur mengenai sejarah Greenland, termasuk browsing di internet.
Mengapa AS sangat berminat mencaplok Greenland ? Karena Greenland menyimpan deposit mineral yang sangat besar, termasuk logam tanah jarang (rare earth elements) yang sangat krusial untuk teknologi modern (baterai mobil listrik, chip komputer, dan peralatan militer canggih). Saat ini, pasar logam tanah jarang didominasi oleh Tiongkok. AS ingin mengamankan sumber alternatif di Greenland agar tidak tergantung pada Tiongkok.
Meskipun AS sangat berminat, langkah ini menghadapi tantangan yang sangat berat, antara lain, Denmark menegaskan bahwa Greenland “tidak untuk dijual” dan menyebut wacana ini absurd. Serangan atau aneksasi paksa dianggap dapat membubarkan aliansi NATO, karena Denmark adalah anggota kunci NATO.
Selain itu, penduduk asli (Inuit) dan pemerintah otonom Greenland menginginkan kemerdekaan penuh dari Denmark, bukan berpindah tangan menjadi bagian dari Amerika Serikat.
Tantangan berat yang lain adalah bahwa komunitas internasional, termasuk Uni Eropa, menentang keras segala bentuk aneksasi sepihak yang melanggar hukum internasional. Hal ini perlu menjadi pertimbangan bagi AS karena yang menentang adalah sekutunya sendiri di Eropa.
Namun, bukan Trump jika tidak nekat, padahal orang nekat itu sebetulnya justru mencerminkan ketakutannya sendiri. Ketakutan Trump adalah ketakutan terhadap Rusia dan Tiongkok.
Untuk itu AS berusaha membendung Rusia & Tiongkok. Trump menyatakan bahwa Greenland kini “dipenuhi” kapal-kapal Rusia dan Tiongkok. Dengan mencaplok wilayah ini, AS dapat mengamankan Celah GIUK (Greenland-Iceland-UK gap), sebuah koridor maritim penting untuk melacak pergerakan kapal selam Rusia yang menuju Samudra Atlantik.
Apakah AS melalui kebijakan Trump akan benar-benar mencaplok Greenland ? akankah Trump sengaja memantik pelatuk PD III ? apakah juga congress AS larut oleh tekanan Trump hingga menyetujui proposal Randy Fine ?, yaitu anggota cogress dari Partai Republik.
Pertanyaan-peetanyaan tersebut akan kita cermati terus, bagaimana kelanjutannya.
PENUTUP
Meskipun AS sangat bernafsu untuk menguasai Greenland demi membendung Rusia dan Tiongkok di Arktik, langkah ini menghadapi tantangan besar. Denmark dan pemerintah lokal Greenland memandang klaim aneksasi AS sebagai bentuk pelanggaran integritas wilayah di abad modern.
Bagi Greenland, tantangannya adalah menyeimbangkan antara ketergantungan ekonomi pada Denmark dengan godaan investasi besar dari negara-negara adidaya.(*)
* Penulis adalah Guru Besar Hukum Internasional dan pemerhati geopolitik FH UB –[email protected]














