Kanal24, Bojonegoro – Transformasi digital menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin mengandalkan platform digital, banyak pelaku UMKM masih menghadapi keterbatasan dalam pemasaran, pengelolaan katalog produk, hingga penguatan identitas merek. Kondisi tersebut juga dialami UMKM Batik Jonegoro yang memiliki potensi besar sebagai produk unggulan daerah, namun membutuhkan penguatan kapasitas agar mampu bersaing di pasar yang semakin dinamis.
Menjawab tantangan tersebut, Tim Pengabdian Universitas Brawijaya yang diketuai Prof. Setyo Tri Wahyudi, S.E., M.Ec., Ph.D. mulai mempersiapkan pelaksanaan Program International Community Development Thematic SDGs yang berfokus pada penguatan UMKM Batik Jonegoro berbasis identitas lokal. Program ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas usaha melalui inovasi produk, digitalisasi pemasaran, serta penguatan daya saing UMKM.

Digitalisasi Tak Boleh Menghilangkan Identitas Lokal
Batik Jonegoro merupakan salah satu produk ekonomi kreatif unggulan Kabupaten Bojonegoro yang memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Selain memiliki nilai budaya yang kuat, produk ini juga berpeluang memperluas pasar apabila didukung strategi pemasaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital. Karena itu, penguatan kapasitas pelaku UMKM menjadi langkah strategis agar mampu memanfaatkan teknologi tanpa meninggalkan identitas lokal yang menjadi ciri khas produknya.
Sebagai tahap awal, tim pengabdian menyiapkan berbagai perangkat pendukung yang akan digunakan selama proses pendampingan bersama mitra. Persiapan tersebut meliputi penyusunan modul pelatihan, pengembangan media pendampingan, perancangan Teknologi Tepat Guna (TTG), hingga penyusunan strategi implementasi yang akan disesuaikan dengan kebutuhan pelaku UMKM.

QR Code Jadi Pintu Masuk Promosi Produk
Salah satu inovasi yang tengah dikembangkan adalah prototype Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa Template Katalog Digital Interaktif berbasis QR Code. Teknologi ini dirancang untuk memudahkan pelaku UMKM menyusun katalog produk secara mandiri, memperbarui informasi produk secara berkala, sekaligus memperluas akses promosi melalui media digital. Pada tahap persiapan, pengembangan masih difokuskan pada penyusunan template, panduan penggunaan, serta mekanisme implementasi yang nantinya akan disempurnakan bersama mitra sesuai kebutuhan di lapangan.
Tahap persiapan menjadi bagian penting untuk memastikan seluruh perangkat pendampingan mampu menjawab kebutuhan mitra secara tepat. Setelah proses tersebut selesai, program akan dilanjutkan dengan koordinasi bersama mitra, identifikasi kebutuhan, pelaksanaan pelatihan, implementasi teknologi tepat guna, pendampingan digitalisasi pemasaran, hingga evaluasi keberlanjutan program.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Tim Pengabdian Universitas Brawijaya berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat kapasitas UMKM Batik Jonegoro melalui pemanfaatan teknologi digital yang sederhana, aplikatif, dan berkelanjutan. Selain meningkatkan daya saing usaha, program ini juga diharapkan mendukung pelestarian identitas budaya lokal sebagai salah satu kekuatan utama Batik Jonegoro di tengah perkembangan ekonomi kreatif dan transformasi digital.
Program ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan kapasitas UMKM, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan teknologi tepat guna, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi pengabdian dengan mitra dalam penguatan ekonomi kreatif. (Din)













