Kanal24, Malang —TikTok membuktikan pengaruhnya dalam mengubah kebiasaan wisata global. Jika dulu wisatawan identik berburu landmark populer atau suvenir tradisional, kini muncul tren baru: berbondong-bondong mengunjungi supermarket lokal di luar negeri. Fenomena ini mencuat berkat maraknya unggahan di TikTok yang menampilkan keseruan menjelajahi rak swalayan asing, mencari camilan, minuman unik, hingga produk rumah tangga khas yang tak ada di negara asal.
Laporan Unpack ‘25 dari Expedia Group, yang merangkum tren perjalanan tahun 2025, mengonfirmasi pergeseran tersebut. Sebanyak 39 persen wisatawan kini rutin mampir ke supermarket ketika berlibur, sementara 44 persen lainnya sengaja berburu produk lokal eksklusif. Aktivitas sederhana ini dinilai menawarkan pengalaman otentik sekaligus kesempatan membeli oleh-oleh dengan nuansa berbeda.
Baca juga:
FT UB Gelar Lomba Nyanyi Meriahkan Dies 62

Mengutip news.com.au, Rabu (17/9/2025), barang-barang seperti cokelat batangan, bumbu masak khas, atau peralatan rumah tangga berdesain lucu kini dianggap lebih berkesan daripada gantungan kunci atau kaus. Seorang pengguna TikTok bahkan berkomentar, “Pergi ke toko swalayan secara teknis bisa dihitung sebagai wisata, kan? Karena bukan hanya pengalaman budaya, tetapi Anda juga bisa menemukan banyak barang untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.”
Goods Getaways dan Detour Destinations
Unggahan viral ini memunculkan istilah Goods Getaways—wisata belanja barang sehari-hari yang unik. Darren Karshagen, Direktur Senior Expedia Group Australia, menyebut media sosial, khususnya TikTok, berperan besar dalam mendorong tren tersebut. Generasi muda, terutama Gen Z, mencari inspirasi dari konten viral sehingga semakin banyak yang rela menjadikan supermarket sebagai destinasi.
“Platform seperti TikTok menginspirasi wisatawan, terutama Gen Z, untuk mencari barang-barang yang sedang tren, seperti cokelat viral dari Dubai atau produk skincare dari Korea,” kata Karshagen.
Selain itu, laporan Unpack ‘25 juga menyoroti tren Detour Destinations, yakni kecenderungan wisatawan memilih kota kecil atau destinasi alternatif yang jarang terdengar tetapi menyimpan pesona. Beberapa kota yang kini naik daun antara lain Reims di Prancis, Brescia di Italia, Cozumel di Meksiko, Santa Barbara di Amerika Serikat, serta Waikato di Selandia Baru. Survei mencatat 63 persen wisatawan global berencana memasukkan destinasi semacam ini dalam perjalanan mereka berikutnya.
“Ke depannya, wisatawan tidak hanya terpaku pada tempat wisata klasik. Mereka juga merangkul detour untuk menemukan sisi lain dari sebuah negara,” ujar Karshagen.
Indonesia Garap Wellness Tourism
Sementara tren global bergerak ke arah pengalaman personal, Indonesia ikut menangkap peluang melalui pengembangan wisata kebugaran (wellness tourism). Program Wonderful Indonesia Wellness 2025 resmi diluncurkan Kementerian Pariwisata pada Rabu (17/8/2025). Acara ini akan digelar sepanjang 1–30 November 2025 di Yogyakarta dan Solo, Jawa Tengah. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menargetkan 7.500 wisatawan mancanegara hadir dalam event tersebut. Menurutnya, wisata wellness semakin diminati wisatawan dari Australia, India, hingga Jepang, yang rela membayar lebih untuk pengalaman autentik, menyembuhkan, dan transformatif.
“Indonesia berada di posisi yang sangat unik untuk memenuhi kebutuhan ini,” ujar Menpar Widi dalam jumpa pers di Jakarta. Ia menambahkan, strategi pemasaran telah dilakukan di Beijing dan Seoul untuk menjaring minat pasar mancanegara.
Dengan peta tren perjalanan dunia yang terus berkembang, mulai dari supermarket sebagai destinasi wisata baru hingga wellness tourism yang digarap serius, industri pariwisata global kian menekankan pengalaman otentik, personal, dan bermakna. (dht)














